Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Akhir prahara.


__ADS_3

Seketika dalam hati Pranacitra seakan telah kehilangan sesuatu. meskipun pertemuan antara dirinya dengan si 'Gadis Berwajah Tengkorak' berlangsung begitu singkat, tapi sangat memberikan kesan yang mendalam baginya. dia tidak tahu jenis perasaan seperti apa ini, apakah cinta pandangan pertama ataukah sekedar kasihan dan rasa simpati karena kisah sedih disebalik wajah itu.


Segalanya berubah hening. kejadian yang luar biasa itu tanpa sadar telah membuat semua orang yang masih terlibat pertarungan sama menghentikan gerakannya. walaupun belum jelas dengan yang telah terjadi sebenarnya tapi dalam hati semuanya sama merasakan suatu kengerian.


Walaupun pihak perguruan 'Lutung Ciremai' sangat mengharapkan si pincang dapat memenangkan pertarungannya namun mereka juga tidak menyangka kalau Gadis Berwajah Tengkorak bakalan tewas secara mengenaskan seperti itu. duel ilmu kesaktian yang terjadi antara dua orang pendekar kelas atas ini tidak akan pernah mereka lupakan.


'Nyai Dupa Tumbal' dan 'Sepasang Pengemis' Bangkai tidak dapat lagi berpikir lain. ketiga orang ini sama sekali tidak mengira kalau rekannya yang paling mereka andalkan dapat menemui ajal di tangan si 'Siulan Kematian'. dalam sekali lirikan mata saja mereka bertiga sudah sepakat untuk kabur, disaat semua orang masih tenggelam didalam pikirannya masing- masing.


Apalagi selain luka luar dalam yang mereka derita cukup parah, tenaga ketiganya juga sudah terkuras. dengan lebih dulu hamburkan belasan keping uang sebagai tembaga dan sambaran asap dupa beracun sebagai senjata pembunuh untuk menghabisi para murid Lutung Ciremai yang berada didekatnya merekapun berkelebat kabur dari sana.


Jeritan tiga orang murid padepokan Lutung Ciremai yang termakan serangan itu langsung membuat semua orang tersadar. terlebih lagi pasangan ketua si 'Raja Ratu Lutung Sakti'. dengan membentak keras suami istri itu lepaskan pukulan 'Jari Lutung Nirwana' sambil berusaha mengejar ketiga lawannya.


''Bangsat pengecut., jangan harap kalian bisa kabur dari sini.!'' maki Raja Lutung Sakti. ''Tiga manusia jahanam., tinggalkan nyawa busuk kalian lebih dulu sebelum berniat pergi.!'' Ratu Lutung turut mendamprat geram. belasan larik cahaya dan asap putih panas menderu ke depan menggempur lawan.


'Shaaaat., sheeett., whuuuss.!'


Jarak ketiganya yang sudah belasan langkah jauhnya membuat pukulan sakti suami istri tua bermuka mirip monyet itu meski masih sanggup mengejar tapi kekuatannya menjadi berkurang. dengan setengah membalikkan tubuh Sepasang Pengemis Bangkai yang berada paling belakang kibaskan periuk besi tangannya lepaskan ajian 'Hujan Petaka Hitam.!'


Suara gemerincing dari puluhan kepingan uang berwarna hitam pekat yang melesat hendak menahan jurus 'Jari Lutung Nirwana' milik ketua perguruan Lutung Ciremai. beberapa kali terjadi benturan dua kekuatan. walaupun mampu membendung pukulan sakti lawan namun tetap saja membuat lari kedua pengemis tua itu sempat tertahan.

__ADS_1


Bagi Raja Ratu Lutung Sakti jarak yang makin pendek membuat mereka lebih mudah dalam menghabisi lawannya. dengan keluarkan suara beringas keduanya kembali hantamkan aji kesaktian Jari Lutung Nirwana. kali ini mereka sengaja menggunakan seluruh sisa tenaga dalamnya karena ingin membunuh Sepasang Pengemis Bangkai dalam satu serangan.!


Kedua gembel tua yang jahat itu berteriak ngeri. dari benturan ilmu kesaktian terakhir dapat diketahui kalau tenaga mereka sudah jauh berkurang hingga tidak mungkin untuk tetap beradu kekuatan secara langsung. dengan andalkan ilmu meringankan tubuh mereka berusaha untuk berkelit kesamping kiri- kanan.


Meskipun dapat lolos dari maut tapi pakaian mereka bagian perut dan pinggang robek tercabik dan hangus terbakar. luka sambaran dan panas melepuh jelas terlihat disana. tapi Sepasang Pengemis Bangkai tetap berusaha bertahan dan kabur karena tahu kedua ketua padepokan Lutung Ciremai itu sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mengejar.


''Mau kabur kemana kalian gembel keparat.!'' bentak seseorang. ''Serahkan dulu kepalamu pada kami untuk menebus nyawa semua saudara kami yang terbunuh.!'' timpal suara orang lainnya. Sepasang Pengemis Bangkai hanya bisa langkahkan kakinya lima tindak saja sebelum dua buah golok tipis yang agak bengkok berbentuk bulan sabit berkelebat cepat membabat dari kiri- kanan mereka.


Jeritan ngeri terdengar dari mulut peot Sepasang Pengemis Bangkai kala golok milik Palastra juga Darmanik, dua dari tiga orang murid utama padepokan Lutung Ciremai menyabet punggung dan bahu kiri mereka. gerakan itu tidak berhenti begitu saja, karena masih dalam jurus yang sama kedua golok tipis melengkung itu membabat naik ke tengkuk juga pangkal leher.


Terdengar suara serak menggembor seakan binatang sedang digorok. semburan darah segar mengucur deras dari separuh leher yang tertebas. tubuh kedua pengemis jahat itu sempat berputaran dua kali tanpa arah sebelum akhirnya tumbang dengan kepala terkulai nyaris terputus dari lehernya.


Saat melewati si pincang yang masih duduk termangu, Nyai Dupa Tumbal sempat merasa khawatir. tapi dia merasa lega bercampur heran karena pemuda itu cuma melirik sinis si nenek tanpa berbuat apapun. Pranacitra memang tidak sudi membuang tenaga, karena baginya nenek tua itu sudah tidak lebih dari calon mayat yang makin dekat dari kematiannya.


Dalam sekejap mata saja tubuh anggota partai 'Gapura Iblis' itu sudah lenyap jauh ke dalam hutan meninggalkan para anggota perguruan Lutung Ciremai yang hanya dapat menyumpah serapah penuh dendam amarah. biarpun merasa heran dan agak kesal dengan si pemuda pincang yang cuma diam tanpa mau menghadang Nyai Dupa Tumbal tapi mereka tidak berani bicara apapun karena pemuda inilah yang telah menolong mereka.


Pranacitra perlahan berdiri sambil menatap sisa serpihan daging dan tulang beku dari raga Gadis Berwajah Tengkorak yang masih diselimuti salju. sepasang mata dinginnya menyapu semua orang yang berdiri disana. ''Kalian semua tidak perlu susah payah untuk mengejar nenek tua itu karena umurnya tidak bakal lama..'' ujarnya setengah menggumam.


Raja dan Ratu Lutung Sakti saling pandang dengan para muridnya yang cuma tersisa dua belas orang saja. meskipun tidak mengerti maksud ucapan itu tapi mereka untuk sesaat tidak berani bertanya. Pranacitra mendongak sembari menghela nafas. ''Kalau aku tidak salah menduga, di bawah sana ada pihak lain yang akan membunuh nenek itu. tapi kalian tidak perlu tahu siapa orangnya..''

__ADS_1


''Akan lebih baik kalau kalian urusi saja mayat anggota perguruan ini sekalian memperbaiki bangunan padepokan yang rusak. satu hal lagi., jangan katakan pada siapapun tentang kehadiranku ditempat ini. apakah kedua ketua padepokan Lutung Ciremai dan semuanya bisa memahami yang kukatakan.?''


Sebuah pertanyaan yang bernada datar dan dingin itu justru memiliki suatu tekanan berat di jiwa siapapun yang mendengarnya hingga tanpa sadar semua orang mengangguk termasuk Raja Ratu Lutung Sakti. setelah menyampaikan beberapa pesanannya pemuda itu sempat menjura dengan sikap kaku dan sinis sebelum dia membalikkan badannya. dengan tongkat besi hitam kepala tengkorak, si pincang mulai melangkah terseok pergi meninggalkan tempat itu sambil menyiulkan lagu yang berirama menyedihkan hati.


''Orang persilatan bilang dia adalah pendekar muda yang sangat ganas dan kejam. jika melihat dari asal- usulnya yang merupakan murid dari lima orang dedengkot besar golongan hitam, semua berita itu pastilah benar. tapi sekarang., semuanya seperti terbalik..'' gumam Ratu Lutung Sakti alias Nyi Kunarsih.


''Semua orang hampir pasti suka menambahi bumbu dalam setiap ceritanya. apapun latar belakang pemuda pincang itu, yang pasti hari ini dia telah memberikan budi besar pada kita semua dari perguruan Lutung Ciremai. kelak kita harus bisa membalas pertolongannya..'' ki Tirtayasa suaminya turut menanggapi.


Sementara itu Nyai Dupa Tumbal terus berlari dengan kerahkan seluruh sisa tenaganya meskipun dia juga tahu kalau para anggota padepokan Lutung Ciremai tidak sanggup mengejarnya. saat dirinya sudah hampir mencapai wilayah kaki gunung, barulah nenek itu hentikan larinya. sambil bersandar dibalik sebatang pohon besar Nyai Dupa Tumbal sejenak mengatur nafas dan beristirahat.


''Keparat., siapa yang datang.!'' geram Nyai Dupa Tumbal bengis bercampur ketakutan saat dia baru saja hentikan larinya, sudah muncul seseorang yang bergerak dengan cepat mendekatinya. ''Aah sialan., rupanya kau. tapi kenapa dirimu bisa berada digunung Ciremai ini.?'' nenek tua itu mendengus kesal juga lega hati saat mengenali siapa orang ini sambil ajukan pertanyaan.


Si pendatang hanya tersenyum tipis sekilas saja. langkah kakinya sangat ringan meski tubuhnya tinggi besar. ''Empat kawan kita sudah tewas di atas sana. tinggal diriku saja yang berhasil kabur..'' keluh Nyi Dupa Tumbal gusar bercampur ngeri. ''Ooh begitukah.?'' hanya itu saja ucapan yang keluar dari mulut si pendatang.


Selanjutnya hanya terlihat sesuatu yang lebar dan tajam menyilaukan berkelebat cepat di depan wajah Nyai Dupa Tumbal. tahu- tahu darah sudah menyembur deras dari batang leher si nenek yang terpisah dari batok kepalanya. ''Dari lima orang yang naik ke atas gunung, namun cuma kau saja yang berhasil selamat. bagus., bagus sekali..'' gumam orang tinggi besar itu menyeringai.


*****


Mohon sertakan komentar anda🙏., Terima kasih👍.

__ADS_1


__ADS_2