Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Pembalasan Dendam (bag 2)


__ADS_3

Sinar mata kedua orang muda- mudi yang itu menatap nyalang penuh dendam kesumat, hingga seakan sanggup membuat jiwa siapapun bergidik ngeri. bukan 'Setan Arit Rombeng' dan 'Setan Hijau Rombeng' saja yang tersentak kaget. namun juga orang yang di sebut sebagai si 'Arwah Hijau' juga turut terkesiap.


Meskipun dia belum lama bergabung dalam partai Gapura Iblis, namun Arwah Hijau juga sudah pernah mendengar cerita tentang pembantaian yang di lakukan oleh 'Tiga Setan Berbaju Rombeng' terhadap Ki Rangga Wesi Bledek dan seluruh murid perguruan silat Gunung Bisma.


Kabarnya saat kembali ke markas cabang rahasia partai Gapura Iblis, Tiga Setan Berbaju Rombeng juga memberikan sebuah kitab ilmu pukulan 'Tangan Guntur Wesi Kuning' dan pedang pusaka 'Mentari Biru' kepada pemimpin cabang rahasia partai Gapura Iblis untuk di persembahkan kepada ketua mereka.


Perlu diketahui kalau partai 'Gapura Iblis' mempunyai ratusan cabang rahasia yang tersebar di seluruh penjuru angin. dari tanah jawa hingga jauh ke berbagai pulau. bukan saja orang luar bahkan para anggotanya juga tidak tahu jelas di mana letak markas pusat partai aliran hitam itu.


Jangankan untuk mengetahui di mana markas pusat partai aliran hitam terkuat itu berada, untuk menemukan salah satu cabang rahasianya saja sulitnya minta ampun. paling banter anggotanya hanya tahu satu atau dua letak cabang rahasianya saja.


Celakanya., di belakang hari kedua barang pusaka yang berhasil direbut oleh 'Tiga Setan Berbaju Rombeng' dan telah mereka serahkan kepada kepala cabang untuk persembahan bagi sang ketua partai Gapura Iblis itu ternyata palsu. akibatnya mereka bertiga gagal mendapatkan nama baik dan pengaruh dalam partai itu. malah hampir saja nyawa mereka melayang karena memberi barang pusaka palsu. beruntung kedua barang itu belum sampai di serahkan ke markas pusat Gapura Iblis, hingga mereka masih dapat selamat dari hukuman berat.


''Bocah- bocah keparat edan., cepat katakan siapa kalian ini sebenarnya.!'' bentak 'Setan Hijau Rombeng' bengis sambil tudingkan kukunya yang hijau beracun pada sepasang muda- mudi itu.


''Aku katakan sekali lagi kalau kami berdua adalah Arga Pangestu dan Ajeng Larasati, murid perguruan silat gunung Bisma pimpinan Ki Rangga Wesi Bledek si 'Tangan Guntur Besi' yang masih tersisa..'' teriak pemuda gagah yang bernama Arga Pangestu balik menggertak.


''Empat tahun silam kalian si Tiga Setan Berbaju Rombeng telah menghancurkan perguruam sekaligus membunuh guru dan semua saudara seperguruanku dengan sangat kejam. sekarang adalah hari pembalasan untuk kalian. sayang sekali kawan kalian si 'Setan Bungkuk Rombeng' tidak ada disini..''


''Tapi kurasa itu bukan masalah besar., sebab setelah kami berdua menghabisi kalian, tua bangka mesum itu pasti juga akan mendapat gilirannya untuk menyusul kalian berdua ke liang neraka.!'' dengus Ajeng Larasati geram.

__ADS_1


Baik Setan Hijau Rombeng dan rekannya si Setan Arit Rombeng sama tidak dapat tutupi rasa kagetnya. ''Pantas saja aku seperti pernah melihat tampang mereka berdua. kurang ajar., rupanya ada yang telah menolong dua bocah sialan ini..'' batin kedua Setan Rombeng itu gusar.


Belum sempat berpikir lebih jauh, kedua anak muda itu sudah berkelebat cepat menyerang mereka. Arga Pangestu gunakan kedua kepalan tangannya untuk menyerang. tangan kiri terlihat di selimuti cahaya hitam sementara yang kanan memancarkan sinar kekuningan. hawa panas menghampar, angin sekeras baja yang di sertai suara gemuruh guntur melabrak dahyat. sasarannya si Setan Arit Rombeng.!'


Ajeng Larasati tidak mau kalah, jika rekannya menggunakan kepalan tangan. gadis cantik berbaju hijau itu memakai sepasang telapak tangannya untuk menggempur si Setan Hijau Rombeng. kalau tangan kirinya berselimut cahaya hitam, telapak tangan kanannya memancarkan sinar kekuningan sama seperti pukulan Arga Pangestu.


''Ilmu pukulan 'Pusaran Bara Hawa Hitam'., jurus 'Tangan Guntur Wesi Kuning.!' jerita Setan Arit Rombeng dan Setan Hijau Rombeng hampir bersamaan. sambil meraung kedua setan rombeng inipun sama cepat melompat menghindar sambil balas menghantam.!


Setan Arit Rombeng berkelebat menghindar dengan putar tubuhnya dua kali ke bekakang. bersamaan itu dia mencabut senjata arit berkarat kehitaman dari balik pinggangnya. pada akhir gerakan dia babatkan arit karatan itu ke depan tiga larik cahaya hitam tajam membelah udara. inilah ilmu 'Tiga Sambaran Arit Siluman.!'


Tidak mau mati konyol, meski masih dalam perasan bingung dan terperangah Setan Hijau Rombeng juga bertindak cepat menghindar. bedanya tubuh nenek yang bibirnya bergincu tebal warna hijau itu mencelat ke atas, dari sana dia hantamkan sepasang cakar beracunnya. sepuluh larik cahaya dan asap hijau beracun bertaburan di udara. jurus 'Bayang- Bayang Cakar Hantu Hijau' turut menyusul melabrak.


Di jurusan lainnya pemuda bungkuk yang bernama si 'Arwah Hijau' dan kedua sobatnya yang berjuluk 'Dua Pembunuh Pedang Golok' turut terkejut melihat kehebatan sepasang murid Ki Rangga Wesi Bledek itu. bahkan mereka mesti kerahkan tenaga dalam untuk dapat membentengi diri dari gelombang benturan arus tenaga ilmu kesaktian itu.


Di tengah kalangan empat orang itu terus baku hantam dengan penuh niat membunuh. berkali- kali terjadi bentrokan ilmu kesaktian. yang mengoncang seluruh pekarangan. si Arwah Hijau semakin tercengang, saat dia melihat dari pertarungan yang sudah berlangsung lebih dua puluhan jurus itu justru kedua anak muda yang mengaku sebagai murid Ki Rangga Wesi Bledek inilah yang berada di atas angin. yang paling parah keadaannya adalah Setan Hijau Rombeng, jubah hijau tua yang dia pakai semakin tidak karuan rupanya, robek terkoyak hingga dia nyaris telanjang. dari sudut bibirnya yang hijau meleleh darah segar. rupanya si nenek sudah terluka dalam.


Keadaan yang lebih baik dialami oleh Setan Arit Rombeng. ini dapat dimaklumi karena dialah yang berilmu silat paling tinggi jika di banding dua orang kawannya yang lain. meskipun demikian si Arwah Hijau juga dapat memperhitungkan kalau dalam sepuluh jurus lagi Setan Arit Rombeng juga bakalan terdesak.


Pemuda bungkuk itu menggeram marah, "Apa yang mesti kita lakukan Arwah Hijau.?''

__ADS_1


''Kurasa kita tidak boleh tinggal diam saja, bagaimanapun juga mereka berdua adalah rekan satu partai Gapura Iblis..'' bisik dua orang berbaju hitam yang sejak datang cuma berdiam diri di belakang si Arwah Hijau.


''Huhm dua setan tua itu benar- benar tidak berguna., kalian berdua cepat tolong Setan Hijau Rombeng. biar aku yang nanti akan membantu si Setan Arit Rombeng kalau dia terdesak..'' walaupun sebenarnya dia tidak suka membantu kedua orang itu, tapi jelas tidak dapat berpangku tangan saja.


Bersamaan itu terdengar jeritan dan makian parau dari mulut Setan Hijau Rombeng. entah bagaimana tangan kiriya sudah buntung sebatas siku. saat dia lihat entah sejak kapan di tangan gadis bernama Ajeng Larasati itu sudah bertambah sebuah pedang tipis yang bersinar kebiruan. pada pangkal gagang pedangnya terdapat ukiran berbentuk matahari.


Meskipun belum pernah melihat sebelumnya tapi si Arwah Hijau tahu kalau itulah pedang yang bernama Mentari Biru. satu senyuman serakah tersungging di bibir tipis pemuda bungkuk itu. dengan sebuah isyarat dia menyuruh dua orang berpakaian hitam yang berdiri di belakangnya untuk bertindak.


'Dua Pembunuh Pedang Golok' mengiyakan. sekali berkelebat tubuh mereka melesat ke muka setelah terlebih dahulu mencabut senjata pedang bersinar kemerahan dan golok hitam yang terselip di pinggang masing- masing.


Baru setengah jalan tubuh kedua orang itu meluncur di udara hendak menolong Setan Hijau Rombeng sekaligus mencabik- cabik raga Ajeng Larasati. namun niatan itu seketika kandas saat dari arah luar pekarangan mendadak muncul gelombang hawa yang jauh lebih panas juga keras dari pukulan Arga dan Ajeng. dua cahaya hitam dan emas menderu memotong jalur serangan dari Dua Pembunuh Pedang Golok.


''Tidak ada satupun orang yang boleh mengotori tempat ini. terutama mereka yang berasal dari partai Gapura Iblis.!'' satu suara yang terdengar dingin menegur. entah bagaimana mendadak udara di sekitar tempat itu turut berubah menjadi lebih dingin.


''Keparat jahanam.!'' maki Dua Pembunuh Pedang Golok kalang kabut. meskipun panik tapi mereka masih mampu memutar tubuh di udara. kedua senjatanya menyamplok serangan pukulan sakti itu. meskipun nyawa mereka selamat tapi tubuh keduanya turut terpental bersama senjata pedang goloknya. saat tiba di tanah mereka langsung muntah darah. rupanya keduanya terluka dalam.


''Setan alas dari mana yang bosan hidup hingga berani menentang partai Gapura Iblis.!'' gembor Arwah Hijau kalap. tidak terdengar jawaban apapun selain hembusan angin dingin membeku yang di barengi suara siulan lagu yang berirama menyedihkan hati.


Tidak seorangpun ada yang tahu lagu itu bercerita tentang apa dan kenapa terdengar begitu memilukan. bahkan Setan Arit Rombeng dan Arga Pangestu yang sedang bertarung sengit tanpa sadar sampai turut berhenti. demikian pula Ajeng Larasati yang nyaris mempecundangi Setan Hijau Rombeng. bahkan hati gadis ini sampai ingin menangis mendengar siulan yang begitu menyedihkan itu.

__ADS_1


Semua orang terdiam menatap ke luar pekarangan. di luar pintu gapura yang sudah mau ambruk. dalam rintik hujan gerimis yang membasahi pakaiannya, terlihatlah seorang pemuda berbaju gelap yang muncul entah dari mana. sebatang tongkat besi hitam membantunya berjalan. langkah kakinya yang pincang terlihat menyeret pelan seakan di ganduli beban penderitaan hidup yang teramat berat.


__ADS_2