
Pewaris ilmu lima dedengkot persilatan aliran hitam dari Lembah Seribu Racun itu perlahan menghela nafas lalu berbalik. kedua matanya menyapu semua orang yang berada disana. dalam kegelapan malam pandangannya yang dingin dan setajam belati namun tanpa ada gambaran perasaan apapun itu membuat jiwa para anggota gerombolan 'Kuda Angin' yang tersisa seakan terbetot dari raganya.
Sepasang mata ini terlihat tidak ada bedanya dengan pandangan mata orang yang sudah mati. selain kosong juga menyeramkan hati siapapun. tanpa sadar semua orang tersurut mundur sambil tundukkan kepala. dalam hatinya mereka sama merasa gelisah juga bingung. saat bertarung hidup- mati di bawah ancaman maut Cagak Randu, gurunya dan kedua orang pembunuh dari 'Serikat Kalong Hitam' mereka sama sekali tidak merasakan takut.
Namun lucunya sekarang ini, hanya dengan melihat mata pemuda aneh yang tidak dikenal dan telah menyelamatkan nyawa mereka, justru semuanya mengalami suatu perasaan menyeramkan yang tidak berujung pangkal. apakah karena kemunculannya yang begitu mengejutkan ataukah sebab caranya membunuh lawannya yang sangat telengas tanpa ampun.?
Mereka semua tidak dapat menjawabnya. dalam hatinya sama membatin juga bertanya, ''Siapa pemuda berwajah dingin pucat ini. dari mana dia berasal. kenapa sampai memiliki tatapan mata aneh yang begitu menggidikkan hati. jika di ingat sebelumnya, si 'Pengemis Muka Hitam' seperti mengenali siapa orang ini lalu dia menjadi sangat ketakutan. apa sebenarnya yang telah terjadi diantara kedua orang itu.?''
Jika semua pengikutnya sedang bertanya- tanya siapa adanya pemuda itu, tidak demikian dengan Nyi Jaran Mirah. meskipun dia belum mampu bangkit dan masih harus bersemedi untuk memulihkan diri tapi nenek ini selain dapat mendengar juga sempat melihat bagaimana awal terjadinya kematian dari Pengemis Muka Hitam.
Dari semua pembicaraan keduanya dan juga ciri dari pemuda berbaju gelap ini, Nyi Jaran Mirah dapat menduga siapa orang ini. meski begitu si nenek lebih memilih diam dan berpura- pura tidak mengenalinya. bahkan dia berharap semua bawahannya juga berbuat seperti dirinya, karena kadang orang yang tidak tahu apapun hidupnya jauh lebih aman.
Tetapi niatan dan harapan kadang sering berbeda dengan yang terjadi. di saat pemuda pincang itu membalikkan tubuhnya dan hendak berlalu, entah punya keberanian dari mana gadis manis bernama Surti Cenil malah berlari menghadang pemuda itu bahkan langsung menghardik. ''Tunggu dulu. aku ingin bertanya padamu. sebenarnya kau kebetulan melewati tempat kami beradu jiwa ataukah malah sudah sejak lama bersembunyi di sini.?''
''Jika ternyata kau telah sedari tadi berada di tempat ini, maka seharusnya dirimu dapat menolong kami lebih awal agar tidak ada kawanku yang menjadi korban. sebenarnya kau ini pendekar macam apa hingga begitu tega membiarkan pembunuhan kejam yang berlangsung di depan matamu dan cuma turun tangan disaat terakhir.!'' bentak Surti Cenil geram seolah dia sudah terlupa kalau pemuda itulah yang menolong nyawanya juga guru dan anggota Kuda Angin.
Pranacitra agak tertegun juga karena merasa diluar dugaan. biasanya selama ini tidak ada satupun orang yang berani menegur keras dihadapannya. apalagi orang tersebut sudah mendapatkan pertolongan darinya. sebuah seringai tersungging di bibirnya. karena bagi si pincang kejadian ini rada menggelikan hatinya.
__ADS_1
Sekarang kedua orang muda- mudi itu saling berhadapan hanya terpaut tiga langkah saja hingga keduanya dapat saling melihat raut wajah masing- masing dengan lebih jelas. ''Aaish., gayanya yang seperti lelaki memang mirip Rinai. kalau dilihat dari umur dan bentuk tubuhnya mungkin hampir seumuran dengan Srianah..'' batin Pranacitra. saat melihat bagian bahu dan lipatan bawah lengannya yang putih tanpa sadar pemuda ini tertawa. diapun teringat seseorang yang lainnya.
Sebaliknya Surti Cenil seolah baru kehilangan sukmanya. sikap yang galaknya lenyap entah kemana. bibir mungilnya yang kemerahan terbuka. kedua matanya menatap tidak berkesip. ''Waahh., kalau dilihat dari dekat begini, wajah pemuda ini ganteng juga yah., meskipun rada kurus dan agak pucat seperti orang yang sedang mengidap penyakit tapi dia sangat menarik hati..''
''Heii gadis muda., sampai kapan dirimu melongo begitu. apakah kau masih merasa penasaran atau setelah melihat betapa tampannya diriku, kau jadi menyesal karena sudah membentakku.?'' ucapan Pranacitra seketika membuyarkan lamunan Surti Cenil hingga mukanya yang manis menjadi merah padam karena malu.
Melihat keadaan gadis itu Pranacitra tertawa mengekeh. Surti Cenil jadi semakin sewot. ''Kaa., kau., kau pemuda kurang ajar. bajingan tidak tahu malu sepertimu pasti bukanlah manusia baik- baik.!'' teriak Surti Cenil gugup. dia masih ingin mengumbar umpatan tapi si pemuda sudah keburu memotongnya dengan ucapan dingin dan keras.
''Dengar gadis muda yang baru melihat dunia luar. bukankah tadi kau bertanya apakah aku sudah lama berada ditempat ini dan kenapa baru disaat terakhir mau turun tangan untuk menyelamatkan nyawa kalian. Huhm., meski bagiku pertanyaan bodohmu ini sudah agak kelewatan tapi tetap akan aku jawab..'' ujar Pranacitra mendengus dingin.
''Kalau aku memang sejak awal sudah berada disini memangnya kenapa. jika aku memilih muncul disaat kalian hampir kehilangan nyawa, lantas kau mau apa. hutan ini bukan milikmu, kalian semua juga tidak ada suatu hubungan apapun denganku. kenalpun tidak, teman atau saudara juga bukan.!''
Sebuah alasan yang mungkin kurang dapat diterima akal namun juga tidak bisa dibantah, karena menolong harus berdasarkan pada keikhlasan hati seseorang dan bukanlah paksaan. soal seberapa banyak nilai dari suatu bantuan yang diterima, apakah ikhlas ataukah ada pamrih tertentu, semuanya itu kembali pada pribadi masing- masing orang.
Gadis itu masih ingin membantah tetapi si pincang sudah keburu bicara. ''Lagi pula., jika harus menolong seseorang, aku juga tidak akan sudi membantu mereka yang berjiwa pengecut, mudah putus asa dan lari dari tanggung jawab. walaupun diriku tidak mengenal siapa kamu semuanya tapi sempat kudengar kalau dulunya kalian adalah bekas para prajurit kerajaan yang bertugas menjaga perbatasan..''
''Cerita singkatnya., kalian menjadi buronan karena dianggap lalai dalam tugas. padahal itu cuma akal- akalan dari atasanmu yang berada di pemerintahan. dia takut perbuatan busuknya yang sering mengambil hak serta upah kalian selama ini akan terbongkar. jadi alasan itulah penyebab kalian terpaksa lari meninggalkan semuanya termasuk keluarga..''
__ADS_1
''Haa., ha., sebuah alasan yang sangat tolol.!'' hujat Pranacitra. ''Apakah menurutmu dengan melarikan diri orang itu akan melepaskan kalian semua. apa kau yakin dapat terus bertahan hidup dalam pelarian. yang terakhir., apakah kalian semua pernah memikirkan bagaimana nasib keluarga juga sanak saudara yang kalian tinggalkan diluar sana.?''
''Justru menurutku., mereka bisa jadi lebih menderita dibandingkan kalian. karena semua orang akan menghina, menyakiti bahkan mengucilkan mereka semua karena dianggap sebagai keluarga kaum penjahat buronan, padahal sebenarnya mereka tidak tahu apapun persoalannya..''
''Sementara kalian di sini hanya dapat berpikir bagaimana cara untuk dapat terus bertahan hidup, di sana keluargamu justru mendapat hinaan bahkan mungkin siksaan. yang tua bisa jadi hilang nyawa, sedang anak- anak sudah pasti kehilangan masa depannya. tidak ada tempat untuk berlindung juga tidak tahu harus mengadu pada siapa.!''
''Sekarang aku bertanya padamu. apakah kalian pernah memikirkan semua yang kukatakan barusan.?'' Pranacitra hentikan sekejap ucapannya. sekilas dia melihat semua orang seperti baru kehilangan gairah hidup juga menyesali sesuatu. bahkan ada beberapa orang yang sudah mulai menangis. bukannya bersimpati atau menghibur, justru si pincang ini malah bicara lebih keras.
''Apa kalian tahu kenapa atasan atau pejabat tengik di istana sampai memburu kalian.? itu karena mereka tahu kalian punya bukti hingga takut perbuatan busuknya akan terbongkar. jika mereka ketakutan lantas kenapa kalian malah lari, kenapa tidak berusaha melawan. dengan menjadi buronan kerajaan seperti ini justru akan membuat nama baik kalian semua menjadi semakin buruk dan pada akhirnya kalian semua juga pasti mampus dalam rasa penasaran.!''
Tanpa memberi kesempatan orang untuk menyela, Pranacitra terus bicara. ''Dalam pemerintahan memang banyak pejabat licik dan culas tapi yakinlah masih ada yang jujur, tegas serta adil dalam bertindak. singkatnya., hanya ada dua pilihan. terus bertahan jadi buronan sampai akhirnya pasti mati cepat atau lambat dengan membawa nama busuk dan rasa penasaran atau mencoba melawan dengan membeberkan bukti bahwa kalian tidak bersalah..''
''Meskipun sangat mungkin setiba di istana nanti kalian bakalan dihukum mati tapi masih ada sedikit peluang untuk tetap hidup dan membersihkan nama baikmu sekeluarga. jika selama ini kalian tidak takut bertaruh nyawa menjadi buronan kerajaan, lalu kenapa malah khawatir kalau cuma menghadapi beberapa gelintir pejabat tengik.?''
Sindiran tajam si pincang itu seolah ujung sebilah pedang yang menikam relung hati mereka. para bekas prajurit penjaga wilayah perbatasan itu sama berpikir, ''Kenapa alasan sesederhana ini tidak pernah terlintas di benak mereka.?'' rasa takut yang tidak semestinya seakan telah membuat otak mereka menjadi sangat goblok.
Hampir serentak mereka menjura dengan penuh rasa hormat sekaligus mengucapkan terima kasih atas pertolongan dan petunjuk pemuda itu. tanpa perduli pandangan semua orang, Pranacitra justru berjalan terseok menghampiri Surti Cenil yang merasa gugup dan jengah dipandangi si pemuda seolah dia adalah sebuah hidangan yang siap di santap.
__ADS_1
---------
Silahkan tuliskan komentar bila anda suka., 👌👍🙏.