Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Siulan Srianah.


__ADS_3

Berada sendirian di dalam goa batu dan cuma di terangi cahaya api obor yang makin meredup karena hampir kehabisan minyak membuat hati Pranacitra sedikit gelisah. dengan bantuan cahaya obor dii tangan kiri yang dicabutmya dari celah di dinding goa dia mulai mencari petunjuk jalan rahasia di sekeliling goa itu.


Biarpun goa batu yang lembab dingin itu tidak begitu luas, tapi untuk memeriksanya butuh waktu yang cukup lama. bahkan saat api obor benar- benar padam, belum ada separuh bagian dinding goa yang sudah dia periksa.


''Sial., obornya mati.!'' rutuk Pranacitra sambil membanting obor dari batang bambu itu ke lantai goa hingga pecah. sekarang suasana di dalam goa menjadi gelap gulita. apalagi waktu di luar sudah tiba malam hari sampai membuat mata si pincang tidak dapat lagi melihat ke dua tangannya sendiri.


Dengan sedikit panik dan meraba- raba akhirnya Pranacitra dapat mencapai bagian dinding goa batu lalu duduk bersandar. dia tidak tahu itu dinding goa yang sebelah mana. dengan duduk bersandar perasaannya menjadi lebih tenang dan pikirannya lebih jernih. dia teringat dengan batu sakti Nirmala Biru, biarpun cuma mempunyai cahaya biru yang agak redup tapi bisa sedikit membantu melihat sekitarnya.


Batu sakti itu sudah berada di atas telapak tangannya, sinar kebiruan yang agak redup membias dan terasa sejuk. Pranacitra hirup hawa sakti yang terpancar dari batu Nirmala Biru hingga beberapa kali srhingga racun pembeku darah dan jantung yang sempat bergolak dan menyebar kembali reda dan terkumpul di satu tempat. tubuhnya terasa lebih segar. pandangan, pendengaran serta penciumannya juga semakin tajam.


Dengan bantuan cahaya batu sakti Nirmala Biru Pranacitra kembali mencari sekeliling goa itu. karena menurut peta jalan rahasia 'Lembah Seribu Racun' yang sudah dia hafalkan, pintu rahasia menuju lembah itu berada di dalam sebuah goa batu yang mungkin sekali adalah goa ini.


Mencari sesuatu yang tidak di ketahui pasti letak dan bentuknya dalam keadaan gelap, tentu sangatlah sulit. biarpun sampai waktu sudah melewati tengah malam Pranacitra belum juga bisa menemukannya. pemuda pincang ini terus meraba, mengetuk- ngetuk, menekan serta memutar setiap tonjolan batu yang berada di dalam goa. tapi semuanya tidak menghasilkan apapun.


Suara kokok ayam hutan sayup terdengar, meskipun di luar masih sangat gelap tapi hari telah berganti pagi. Pranacitra kembali duduk bersandar dinding goa kelelahan. juga hatinya kesal dan mulai timbul keraguan.


''Apakah aku salah mengira tentang goa ini atau ingatanku yang keliru.?'' batin si pincang bingung. entah karena terlampau lelah atau mulai putus asa pikirannya menjadi kosong. Pranacitra pejamkan matanya hendak tidur. tapi seharian ini dia belum makan apapun, rasa lapar membuatnya sulit terlelap. apalagi terus terdengar suara tetesan air dari atap goa batu yang lembab dan dingin. saat suasana sunyi begini, bunyi sekecil apapun pasti akan terdengar jelas. belum lagi ada hawa dingin yang keluar dari dinding goa di belakang tengkuknya hingga menimbulkan suara mendengung di telinganya, membuat si pincang semakin bertambah sebal.

__ADS_1


''Sial., berisik.!'' teriak Pranacitra kesal sambil balikkan tubuh lalu hantamkan tangannya ke dinding goa. pukulan pemuda dari gunung Bisma itu tidak begitu keras tapi sanggup membuat sebuah cerukan sebesar kepalan tangan. Pranacitra merasakan ada satu keanehan, hawa dingin yang menghembus dari lubang dinding bekas pukulannya bukan saja menjadi semakin kuat, tapi juga mulai mengeluarkan hawa sebusuk bangkai.!


Pemuda ini berguling menjauh. batu sakti Nirmala Biru di hisapnya sedalam mungkin.


Setelah pernafasannya terkendali dia mulai kembali maju mendekat. dengan tangan kiri menggenggam batu sakti yang di dekatkan di depan hidungnya, tangan kanan pemuda itu mulai mengeruk lubang di dinding goa itu.


Semakin besar dan dalam ukuran lubang bekas pukulan tangannya itu semakin banyak pula kabut busuk yang keluar dari sana. Pranacitra terus kertakkan giginya. meski pernafasannya sudah diatur sedemikian rupa tapi tetap saja dia tidak tahan, dengan berguling mundur pemuda ini menjauh dan muntah- muntah. karena seharian perutnya tidak terisi, cuma angin dan air saja yang keluar dari mulutnya.


Pranacitra merobek lengan kanan bajunya. robekan kain itu di lilitkan untuk menutupi mulut dan hidungnya. batu sakti Nirmala Biru di selipkan di dalam kain penutup hidung itu. dengan demikian dia bisa terus menghisap hawa sakti dari batu itu, sekaligus sebagai penangkal hawa busuk yang mungkin juga beracun.


Suasana goa batu yang gelap semakin pekat oleh kabut yang mengular dan terus saja menyebar hingga keluar goa. dengan cepat pemuda pincang ini kembali maju, dengan kedua tangannya dia menggali dinding goa menjadi semakin lebar. entah kenapa dia begitu yakin lubang ini berhubungan dengan jalan rahasia ke Lembah Seribu Racun.


'Whees., Braaak., Dhaas.!'


'Sraaak., Glhaaar.!'


Seiring suara guguran batu dan runtuhnya lapisan dinding goa tubuh Pranacitra turut jatuh tersungkur. kini lubang itu terbuka membentuk sebuah lorong panjang setinggi satu tombak. beberapa batuan dari atas turut jatuh menimpa tubuh juga kepalanya hingga dia terjepit dan sulit untuk bergerak maju. pemuda itu merutuk, ''Keparat., aku tidak mau mati begini seperti orang bodoh. masih banyak tugas dan hutang darah yang mesti kuselesaikan.."

__ADS_1


Dengan menahan rasa sakit akibat runtuhan batu yang menimpa tubuhnya Pranacitra berusaha untuk merangkak. dia meraung kesakitan bahkan hampir tak sadarkan diri saat kepalanya tertimpa bongkahan batu sekepalan tangan. dengan mata berkunang- kunang dia terus berusaha merangkak masuk ke dalam lubang. di belakangnya terdengar suara bergemuruh. rupanya atap serta dinding goa telah runtuh menutupi lubang goa.


Tidak ada lagi jalan kembali. Pranacitra juga tidak tahu lorong batu yang panjang dan berliku ini menuju kemana, dia cuma bisa terus bergerak maju dengan menguras semua sisa tenaganya. sementara dari arah depan kabut berhawa busuk terus saja berhembus. penderitaan yang di alami pemuda pincang ini sungguh berat. dari atas guguran batu masih menimpa sementara hawa busuk juga terus menyebar.


Pranacitra tidak tahu juga tidak perduli sudah berapa banyak bebatuan tajam yang melukai dan menggencet tubuhnya. kepalanya terasa basah oleh keringat dan darah yang mengucur. udara dalam lorong terasa semakin pengap, sesak dan memuakkan.


''Habis sudah., bangsat sialan., aku benci kelemahanku.!'' geram Pranacitra memaki dirinya sendiri. tubuhnya sudah terlampau lemah tenaganya habis, jangankan terus merangkak bahkan untuk menggerakkan jemari tangannya saja dia sudah tidak mampu. dia merasa kalau kematian bakal menjemputnya. dalam keadaan seperti itu pemuda ini teringat hampir semua perjalanan hidupnya. mulai saat masih bersama sang ayah hingga terpuruk di lorong goa busuk ini.


Dari sekian banyak kejadian pahit manis yang dia alami, Pranacitra merasa paling berkesan saat bersama dengan Srianah, gadis copet cilik murid Ki Suta.


''Kenapa kau suka bersiul lagu berirama menyedihkan seperti itu.?'' tanya Pranacitra suatu ketika. saat itu dia dan Srianah sedang duduk berteduh di dalam sebuah goa kecil sementara hujan turun menyiram bumi. gadis cilik tukang copet di pasar Sewon ini duduk bersandar di bahu si pemuda sambil bibir mungilnya bersiul lagu berirama sedih.


''Eehm bukan., lagu siulan ini cuma untuk menghibur hatiku saja., dulu mendiang Ibuku yang mengajarkannya. kata beliau jika hati kita sedang sedih atau merasa putus asa, bersiulah seperti ini lalu berdoa. kau akan merasa lebih baik..'' ucap Srianah waktu itu.


Pranacitra tertawa dalam hati mendengar penuturan gadis muda itu. karena jika semua keluh kesah di hati manusia bisa di obati dengan bersiul alangkah enaknya. bagi si pemuda cuma orang bodoh atau kurang kerjaan saja yang percaya hal seperti itu dan mau melakukannya.


Tapi sekarang dari bibirnya justru mulai terdengar suara siulan. bunyi irama siulan itu sama dengan yang di suarakan Srianah. nadanya cukup menyedihkan, Pranacitra juga tidak tahu ini siulan lagu sedih tentang apa serta kenapa malah justru di jadikan penghibur hati. biasanya lagu berirama sedih hanya akan membuat perasaan orang semakin menderita.

__ADS_1


Tapi anehnya semakin dia bersiul juga berdoa dalam hati, perasannya justru jadi semakin baik. di saat pasrah dan ketenangan mulai merasuki jiwa. sepasang matanya melihat ada setitik cahaya terang di ujung lorong. biarpun hanya seberkas sinar tapi mampu menyalakan harapan hidup di hati si pincang.


__ADS_2