Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Iblis Dayung Besi.


__ADS_3

Hujan yang tadinya lebat mulai mereda berganti rintik gerimis. awan di langit tidak lagi hitam. cahaya mentari menjelang siang kembali menyeruak keluar dari celah awan. angin yang berhembus masih terasa dingin, sedingin tubuh pemuda kurus yang berada di atas panggulan lelaki tua berbalangkon dan berbaju hitam perlente.


Walaupun orang tua yang terus menghisap pipa cangklong di celah bibirnya itu seakan tidak pernah berhenti berlari, tapi tidak terlihat sedikitpun kelelahan di wajah tuanya. sesampainya di sebuah sungai besar yang airnya sedang meluap orang tua ini baru hentikan larinya.


Jemari tangannya yang berhias cincin emas batu permata warna- warni menarik pipa cangklong besi sepanjang hampir dua jengkal dari sudut mulutnya. sepasang mata tuanya menyorot tajam seiring hembusan asap tembakau berbau kemenyan yang keluar dari mulut dan hidungnya.


Orang tua ini lantas keluarkan suara siulan- siulan pendek dengan nada tertentu, meskipun cuma bersiul kecil, tetapi gema suaranya terdengar terdengar sampai jauh.


Tidak perlu menunggu lama bagi orang tua ini karena dari arah hulu sungai terlihat meluncur sebuah perahu. ukurannya lumayan besar dan panjang untuk sebuah perahu. dibagian tengahnya di beri penutup dari anyaman bambu untuk tempat berteduh penumpangnya. seorang lelaki setengah umur bercaping bambu dan berpakaian putih terlihat mendayung di belakang perahu itu. sekali dayungnya mengayun di air, perahu itu sudah meluncur sampai jarak sepuluh tombak. dari sini bisa diketahui tenaga dalam si tukang perahu ini sangat hebat.


Hanya tiga empat kali mendayung, perahu itupun sudah tiba di depan orang tua berblangkon hitam yang tanpa bicara sepatah katapun langsung naik ke atas perahu. tubuh pemuda ringkih yang ada di bahunya dilemparkan begitu saja ke lantai perahu seakan sebuah karung beras.


Kalau tubuh orang lain yang terluka parah dan nyawanya sudah tinggal setengah di lempar seperti itu, tentu lukanya bakalan tambah parah atau malah keburu mati. tapi pemuda kurus pucat yang memang Pranacitra itu masih saja bernafas.


Orang tua berpipa cangklong itu sepanjang perjalanan memanggulnya sambil terus menyemburkan asap tembakau bercampur kemenyan ke wajah si pemuda. anehnya setiap asap itu terhirup, keadaan Pranacitra malah lebih baik. apakah asap dari pipa cangklong itu mengandung ramuan obat tertentu.?


Perahu itu kembali berbalik arah, bergerak melawan aliran arus sungai. si pendayung terlihat cekatan dalam mengendalikan perahunya di tengah derasnya arus sungai. bukan sembarangan orang yang mampu melakukannya apalagi dayung itu terbuat dari bahan besi yang berat. sambil terus gerakkan dayungnya tanpa sadar mata orang ini mengamati tubuh pemuda yang tergeletak di tengah perahu.


''Kau pasti ingin tahu siapa anak ini., terus terang saja kukatakan aku juga tidak mengenalnya..''

__ADS_1


''Lantas kenapa ketua sampai susah- payah membawanya ke markas kita, sepintas kulihat luka ditubuhnya sangat parah..'' kata si pendayung bercaping bambu penasaran.


''Hak., hak., kalau di lihat sekilas bocah ini memang cuma seorang calon mayat belaka, tapi tahukah kau kalau pemuda pucat dan pincang inilah yang telah membantai wakil ketua perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng', si Pengemis Gigi Gompal dan belasan anak buahnya di perbatasan Punggingan.!''


''Tentunya kau juga tahu kalau sebelumnya beberapa saudara kita membawa mayat Ki Ludiro si Jari Cepat yang tewas di tangan para pengemis Kelabang Ireng. bocah ini celaka karena ingin melindungi mayat Ludiro dari tangan para pengemis keparat itu.!'' tutur orang tua berblangkon sambil mengambil rajangan tembakau dan kemenyan dari kantong kulit yang tergantung di ikat pinggang hitamnya.


Begitu campuran tembakau, cengkih dan kemenyan di taburkan ke dalam lubang celukan pipa cangklong bajanya. api di pipa itupun kembali menyala. bau asap kemenyan yang memuakkan seketika tercium.


''Tentunya kau tidak percaya dengan semua yang kukatakan, Hek., he., asal kau tahu saja, sampai saat inipun aku juga masih terus terbayang bagaimana keji dan liciknya bocah ini saat menghabisi Pengemis Gigi Gompal.!''


Perahu terus meluncur dengan cepat. orang bercaping harus kerahkan tenaga dalamnya lebih kuat untuk menembus aliran arus sungai yang cukup deras. saat tiba di sebuah kelokan sungai yang di apit dua buah tebing yang agak tinggi dan di tumbuhi semak dan pepohonan lebat. mendadak tukang dayung ini hentikan gerakannya. sebuah jangkar besi diturunkan ke bawah perahu untuk menahan agar tidak terbawa derasnya arus.


''Maaf Ketua., di depan sana ada beberapa cecunguk sungai yang berani mencoba menghalangi perjalanan kita..''


''Kau urusi saja sendiri. terserah mau kau apakan gerombolan itu, aku ingin secepatnya tiba di tempat kita dan mengobati bocah ini. entah kenapa anak ini cukup menarik bagiku Hek., hek.!'' sahut orang tua berblangkon yang disebut sebagai ketua oleh si tukang dayung perahu.


Orang bercaping bambu genjot tubuhnya dari belakang buritan perahu ke bagian depan melewati tempat berteduh berpenutup anyaman bambu yang ada di bagian tengah perahu. ilmu meringankan tubuhnya cukup hebat hingga dapat jejakkan kedua kakinya di depan tanpa menggoyang badan perahu.


Orang ini angkat caping bambunya sedikit ke atas, agak jauh di depan sana terlihat sebuah kapal berukuran sedang yang di kawal empat perahu kecil sedang bergerak mendekat. karena mereka berlayar mengikuti arus sungai, maka dengan cepat sudah sampai di depan perahunya. kini jarak mereka hanya terpaut lima tombak saja.

__ADS_1


Orang bercaping mendengus hina melihat bendera hitam dengan gambar seekor ikan bergigi tajam dan tombak trisula bersilangan terpancang di atas layar kapal yang ada di tengah. sementara itu empat perahu kecil yang mengawal di kanan kiri kapal juga sudah mulai bergerak mengepung dari empat penjuru. ''Huh., gerombolan 'Bajak Sungai Kali Wareng'., apa hebatnya. hari ini akan kubuat kalian hancur dan tenggelam di sungai ini.!''


Di bagian depan kapal berbendera hitam terlihat seorang lelaki setengah umur berkepala botak lonjong, memelihara janggut panjang dan berjubah hitam sedang duduk di atas sebuah kursi kayu dan di kawal oleh dua orang lelaki kasar bersenjata golok. selain mereka disana masih ada lebih dari sepuluh orang lainnya.


Lelaki pendayung perahu melirik perahu kecil yang mengepungnya. ada tiga orang di tiap perahu. kalau di hitung anggota kelompok bajak sungai ini jumlah seluruhnya lebih dari tiga puluh orang. ''Banyak juga anak buahmu Ki Betik Kawak..'' batin si pendayung perahu sambil melihat orang berkepala botak yang ada di atas kapal.


''Seluruh aliran sungai Wareng ini adalah daerah kekuasaan kami gerombolan bajak sungai Kali Wareng. karenanya setiap ada yang melewatinya harap membayar sekedar uang jalan.!'' seru orang yang berdiri sebelah kiri lelaki berkepala botak lonjong dengan suara keras mengancam.


''Hek., he., sungguh lucu. bertahun lamanya aku berkeliaran di sungai Wareng ini tapi tidak ada satupun yang berani bicara begitu sombong di hadapanku..''


''Hoi Ki Betik Kawak., apa dirimu tidak pernah mengajari anak buahmu bagaimana caranya bertegur sapa yang baik.?'' teriak si tukang dayung perahu. meskipun sudah berumur tapi tubuhnya masih terlihat kekar terutama bagian lengan dan pundaknya yang berotot.


''Kurang ajar., diminta uang jalan baik- baik malah bicara ngelantur. rupanya kau sudah kepingin mampus.!'' umpat orang yang ada di kanan. sementara lelaki botak berjubah hitam yang menjadi pimpinan masih tetap duduk di kursinya juga terlihat mulai marah.


''Kalian suruh mereka bergerak, habisi saja kalau dia melawan. tapi hati- hati karena aku lihat dari sikapnya orang ini seperti punya sedikit kepandaian..'' ujar orang botak yang bernama Ki Betik Kawak itu.


Dua orang wakilnya mengangguk, dengan isyarat kibasan tangan empat perahu mulai bergerak mendekati sasaran. perahu yang berada di depan paling duluan mendekat. tiga orang di sana langsung melompat naik sambil bacokkan goloknya. si pendayung perahu menyeringai ''Sudah cukup lama dayung besiku tidak memakan nyawa, hari ini kalian semua akan menjadi korbannya.!'' desis si pendayung sambil ayunkan dayung besinya. sekali gebrak dia buat gerakan menangkis sekaligus menggebuk balik ketiga lawannya.


'Whuuuk., whuuk., Braaak.!'

__ADS_1


'Aaakh., 'Aaaakh.!'


Tiga orang penyerang langsung terjungkal masuk ke dalam sungai dengan kepala pecah. mayat mereka langsung hanyut terbawa arus sungai Wareng yang deras. karuan saja semua orang menjadi gempar. membunuh tiga orang kawanan bajak sungai sekaligus dalam sekali libas menandakan lawan bukan tukang dayung perahu sembarangan. mereka bertambah geger saat orang bercaping itu menghardik ''Siapa lagi yang masih ingin beradu nyawa denganku si 'Iblis Dayung Besi' boleh maju kemari.!''


__ADS_2