
Di ejek sebagai pesilat rendahan membuat 'Pendekar Pedang Ungu' dan si 'Bayangan Trisula Kuning' naik pitam. jika saja si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' tidak memilih dua orang pesilat lainnya sebagai lawan, pasti mereka sudah melabrak pemuda yang sebenarnya adalah anggota nomor tiga belas dari suatu perkumpulan pembunuh bayaran bernama Kelompok 13 Pembunuh itu.
Yang menjadi sasaran pelampiasan mereka tentu saja Pranacitra. lagi pula mereka datang ke lereng gunung Semeru ini juga bertujuan untuk melenyapkan pemuda pincang yang dikenal punya ilmu kesaktian tinggi dan banyak menyandang julukan angker dalam rimba persilatan.
Sebenarnya bagi si pemuda pincang, dalam pengembaraannya di dunia persilatan dia sudah mulai terbiasa menghadapi keroyokan lawan yang punya kepandaian silat tinggi. meskipun dia mengakui ancaman kali ini lebih berat dan jumlah penyerangnya belum pernah sebanyak ini sebelumnya, tapi Pranacitra tidak merasa bakal kesulitan berhadapan dengan mereka semua.
Semakin sering pemuda dari gunung Bisma itu mengalami pertarungan sengit, semakin hebat pula pengalamannya. hingga dengan demikian membuatnya bertambah memahami dalam memainkan setiap jurus silat dan kesaktian yang dia miliki.
Pedang yang membabat dari kiri menyasar daerah pinggang serta iga si pincang. belum lagi mata pedang mencapai sasaran, cahaya pedang keunguan yang tajam menyilaukan mata sudah lebih dulu menyambarnya. inilah jurus 'Kilatan Pedang Pelangi Ungu.!'
Bersamaan dengan serangan dari 'Pendekar Pedang Ungu, ancaman maut juga datang dari arah kanan Pranacitra. tokoh silat bergelar 'Bayangan Trisula Kuning' itu mendesak dari samping bawah. setelah dua kali memutar senjata di tangannya, orang itu mengakhiri gerakannya dengan tusukan tombak trisulanya ke perut lalu naik menghunjam leher dan kepala lawan. tiga buah sinar kuning turut menyambar. jurus 'Bayangan Trisula Mendaki Puncak Langit' unjuk kehebatannya.
Dua buah jurus serangan yang ganas dan keji. sambaran dua sinar kuning dan ungu yang menggulung tubuh Pranacitra seakan tidak memberikan sedikitpun ruang untuk bergerak menghindar. tapi meskipun dia terkurung oleh dua senjata lawannya, pemuda ini tetap saja tenang.
Tubuh sedikit membungkuk, kepala menunduk dengan lutut menekuk hingga terlihat kaku. suara jeritan meratap berseling gelak tawa dingin menggidikkan hati terpancar keluar seiring sambaran angin tajam yang terpancar dari tubuh pemuda itu. ilmu silat 'Langkah Aneh Mayat Hidup' kembali dia mainkan.
Dengan langkah kakinya yang terlihat kaku dan sepintas banyak kelemahan, Pranacitra justru berhasil meloloskan diri dari ancaman dua jurus serangan lawan. meskipun demikian ujung baju gelapnya yang basah kuyup oleh siraman air hujan masih sempat juga robek di beberapa tempat tersambar angin senjata pusaka kedua penyerangnya.
__ADS_1
Gagal merobohkan si pincang dalam beberapa jurus awal membuat Pendekar Pedang Ungu dan si Bayangan Trisula Kuning geram. tanpa bersepakat lebih dulu keduanya kembali menyerang dengan melipat gandakan tenaga kesaktiannya hingga sambaran kedua senjata mereka mampu menghempas buyar derasnya hujan angin yang lebat mengguyur bumi.
''Kurang ajar., serahkan nyawa anjingmu pincang keparat.!'' rutuk Pendekar Pedang Ungu dengan suara menggeledek sambil babatkan pedangnya mengancam tiga bagian tubuh lawan. ''Kelima gurumu sudah mampus, sekarang juga kau bisa menyusul mereka ke neraka.!'' damprat si Bayangan Trisula Kuning tidak kalah bengisnya.
Sementara itu beberapa orang pesilat yang sudah tidak sabaran juga sudah turun tangan. tidak kepalang tanggung dua belas tokoh silat sekaligus berkelebat menyerang Pranacitra dari delapan penjuru angin dengan senjata pusaka dan ilmu kesaktian yang sudah mereka persiapkan. hawa kesaktian yang terpancar dari serangan gabungan itu membuat hujan angin seketika semburat dan musnah tanpa bahkan sebelum sampai di atas panggung. si pincang terkurung lenyap ditengah deru jurus serangan pengeroyoknya.
Masih tetap menunduk dengan langkah kaki yang kaku, Pranacitra mengangkat tongkat besi hitamnya sejajar dada. setelah kembali lolos dari empat tikaman trisula dan tombak, tiga belas babatan pedang, enam bacokan golok, sabetan cambuk, keprukan gada serta lima pukulan sakti bertenaga dalam tingg, pemuda ini mulai balas menyerang. tongkat hitam kepala tengkorak berputar tiga kali membentuk selapis lingkaran cahaya hitam pekat yang menggidikkan hati.
Sepasang mata tengkorak di gagang tongkat berkilat kemerahan. merah seperti darah, panas laksana api. sebaliknya kedua mata si pincang justru menjadi semakin dingin seolah mampu membekukan semua yang berada di depannya.
Tidak ada suara bentakan nyaring yang keluar dari mulutnya. yang terdengar hanyalah bunyi ledakan beruntun seumpama halilintar yang membelah langit kelam. sembilan buah sinar hitam pekat di susul selusin bayangan telapak tangan merah yang menebar hawa panas dan bau anyir darah.
''Awas pukulan maut si pincang datang., cepat kalian semua menyingkir.!'' seru Pendekar Pedang Ungu dan Bayangan Trisula Kuning hampir bersamaan. sambil berteriak panik semua orang berusaha untuk menghindar dengan melompat sejauh mungkin.
'Bheeeet., whuuuut., whuuut.!'
'Whuuuusss., blaaaaarr., blaaaamm.!
__ADS_1
Bentrokan senjata dan ajian kesaktian terjadi berulang kali hingga suara ledakan beruntun mengakhiri semuanya. panggung besar bergoncang hebat. jeritan ngeri penuh dendam dan kesakitan yang membahana menembus gemuruh hujan badai yang terus mengguyur.
Potongan tubuh dan semburan darah kental dari mayat- mayat yang bergelimpangan di atas panggung itu membuat hati semua orang jadi bergidik. darah merah kehitaman mengalir ke bawah panggung bersama curahan air hujan. beberapa ptongan daging, kulit dan tulang yang hancur remuk ikut pula terbawa.
Air hujan yang jernih menjadi agak kemerahan. meskipun hanya sedikit berbau darah tapi sudah cukup menggiriskan hati bagi siapapun yang melihatnya. panggung mulai berderak patah. sekarang terlihat melesak miring ke kiri.
Semua orang yang melihat pertarungan sadis itu masih diam mematung. hujan badai yang terus mengamuk seakan tidak pernah mereka perdulikan. ratusan pesilat yang datang dari berbagai tingkatan dan golongan itu sama menatap lurus ke atas panggung dengan mulut ternganga.
Saat pertama kali pemuda pincang yang di gelari sebagai si 'Setan Pincang Penyendiri, 'Gelandangan Hantu' atau 'Pendekar Tanpa Kawan' itu mengeluarkan tantangannya, tidak kurang ada dua puluh empat orang pesilat yang naik ke atas panggung dengan segala ketinggian hatinya. tapi sekarang di sana hanya tersisa sebelas orang saja. itupun dua di antaranya sudah patah sebelah tangan dan satu lagi remuk tempurung lutut kanannya. sedang sisanya sudah menjadi mayat yang tidak utuh.!
Pranacitra masih tegak berdiri tundukkan kepala. pakaian hitamnya yang robek- robek sudah basah kuyup bukan saja di sebabkan oleh terpaan hujan tapi juga karena darah para musuhnya, bahkan darahnya sendiri yang sempat tertumpah keluar. darah merah kehitaman itu menetes dari sudut bibirnya dan beberapa mulut luka di tubuhnya. biarpun tidak parah tapi dia sendiri juga terluka dalam.
Hujan lebat masih terus mengguyur seakan hendak menenggelamkan seisi bumi. Pranacitra melirik ke sudut kanan panggung. di sana terlihat si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' sedang berdiri dengan sikap merendahkan di samping mayat 'Sepasang Jerangkong Ireng' yang jebol isi perut dan dadanya. agak jauh dari sana juga terlihat tubuh 'Hantu Gunung Kawi' yang terpotong lehernya. batok kepala tokoh silat itu sudah menggelinding entah kemana.
''Chuih., kabar yang sering terdengar di rimba persilatan tidak selalu dapat di percaya. banyak yang bilang kalau Hantu Gunung Kawi dan Sepasang Jerangkong Ireng punya ilmu kesaktian yang tinggi. tapi ternyata aku hanya butuh delapan jurus dan dua buah pukulan sakti untuk dapat membunuh mereka. sungguh mengecewakan.!'' gerutu pemuda bercaping bambu itu sambil terbatuk dan meludah.
Sepintas air ludahnya terlihat kemerahan. baju putihnya yang basah kuyup juga ada bercak darah. meskipun menang tapi jelas kalau dia juga terluka. hanya saja sikapnya yang tinggi hati membuat anggota nomor tiga belas dalam kelompok 13 Pembunuh itu tidak sudi jika terlihat lemah di depan pesilat lain.
__ADS_1
Jika di hitung jumlah pesilat yang menyerang dia secara bersamaan ada empat belas orang. kini hanya tersisa dua orang yang cacat kaki tangannya. mereka tidak lain adalah Pendekar Pedang Ungu dan Bayangan Trisula Kuning. keduanya tergeletak pingsan terluka parah.
''Kalau saja empat orang lainnya juga turut menyerbu, mungkin saat ini diriku sudah tergeletak jadi mayat atau setidaknya terluka parah. si Ular Sakti Berpedang Iblis seperti sengaja memilih tiga orang lawan yang punya tingkat kepandaian paling tinggi. secara tidak langsung orang ini sudah menolongku. tapi., apa tujuan dia sebenarnya..'' batin Pranacitra curiga. saat tanpa sengaja pandangannya melirik ke sisi lain, dia rada tersentak kaget.