
Jingga Rani jatuh terduduk, gadis cantik pimpinan 'Lima Elang Api' ini tidak kuasa untuk membendung tangisannya. selain kelelahan dia juga sangat berduka atas kematian yang menimpa dua lelaki saudara seperguruannya. dengan setengah merangkak gadis itu berusaha menarik mayat kedua saudaranya berdekatan dengan adiknya si Jingga Ratih serta seorang lagi saudara seperguruannya yang juga tergeletak pingsan karena terluka parah.
Setelah memasukkan beberapa butiran obat ke dalam mulut saudaranya dan membalurkan lagi sebagian obat itu diatas luka- luka mereka, dengan sekuat tenaga dia salurkan hawa kesaktiannya ke tubuh kedua orang ini tanpa perduli dia sendiri sedang kelelahan. terang saja dalam waktu singkat Jingga Rani sudah tergeletak kehabisan tenaga.
Sebelum dia menyusul pingsan, Jingga Rani masih merasakan hempasan angin keras berhawa sangat panas menyengat tubuh akibat dari bentrokan ilmu kesaktian tingkat tinggi. lebih tiga kali terjadi dentuman keras yang menggoncang pedataran gunung Bromo. batuan tanah berpasir terbongkar. semak belukar dan pepohonan yang tumbang berderak patah berhamburan keseantero penjuru menutupi pandangan mata. beberapa sempat menimpa tubuh Lima Elang Api yang terkapar tanpa daya.
Saat semuanya mulai berlalu samar terlihat dua sosok bayangan tubuh hitam dan merah yang berdiri saling berhadapan. gulungan debu pekat dan angin panas yang masih tersisa membut kedua orang itu terbatuk. meskipun jarak mereka hanya terpaut sepuluh langkah tapi tidak satupun diantara mereka yang berani bergerak lebih dulu.
Mentari sudah naik diatas kepala. sinarnya membentuk bayangan dua orang tua muda yang masih berdiri diam tanpa suara diatas tanah beruput yang terbongkar. meski siang begitu terang tapi udara yang berhembus terasa dingin mencekam hati. ujung mata kiri Pranacitra melirik Lima Elang Api, ''Kenapa juga aku harus ikut campur urusan orang lain.?'' keluhnya dalam hati menghela nafas.
Saat melihat lawannya, entah kenapa pemuda ini merasa ada suatu keanehan dalam tatapan mata tajam si nenek. ''Apa yang sedang kau lihat nenek tua.?'' tanpa sadar Pranacitra bertanya. Nenek Iblis Berkaki Ganco sesaat seperti ragu dan gelengkan kepalanya. '' Aneh., siapa sebenarnya bocah pincang sialan ini dan dari mana dia berasal. mukanya yang tampan tapi agak pucat seakan membuatku teringat pada seseorang yang kuyakin pernah aku kenal dimasa lalu. tapi sialnya diriku lupa siapa dia..'' batin si nenek berkaki kanan buntung itu sangsi.
''Bocah pincang., sebelum dirimu kujadikan korban kaki gancoku, cepat bilang padaku dimana gurumu si keparat 'Pengemis Tapak Darah' berada saat ini. juga katakan siapa dirimu sesungguhnya dan berasal dari mana.!'' bentak 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' sambil hentakkan kaki ganconya kesebongkah batu sebesar kepala kerbau yang ada di depannya hingga hancur berkeping- keping.
''Satu masalah lagi., apa kau pernah bertemu dengan 'Tiga Setan Berbaju Rombeng'., dua bersaudara kembar 'Resi Giling Langit' dan 'Resi Giling Bumi'., kepala pengawalan barang Elang Perkasa si 'Elang Kuning Botak' juga Ki Tuyul Ireng alias si 'Demit Kate Mata Picak.?'' sambung si nenek bengis.
Pranacitra sedikit tercengang karena mungkin baru kali ini ada seorang musuh yang ingin tahu asal- usulnya. disisi lain dia juga terkejut mendengar nama para begundal 'Gapura Iblis' yang tewas ditangannya disebutkan si nenek. jika sebelumnya mungkin Pranacitra akan langsung naik darah terbakar dendam, tapi seiring matangnya pengalaman, dia sedikit lebih bisa menahan diri.
__ADS_1
''Kesaktian tua bangka ini sangat luar biasa, meskipun belum ada lima gebrakan kami bertarung, tapi dapat kurasakan tingkatan ilmunya yang sangat sulit diukur. bahkan., jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah' dan 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan' yang aku lancarkan belum sanggup merobohkannya..''
Dalam hatinya membatin demikian, sementara diluarnya dia bicara lain. ''Kenapa kau ingin tahu sesuatu yang bukan menjadi urusanmu, aku juga tidak kenal dengan nama- nama aneh yang kau katakan tadi. tapi kalau soal Pengemis Tapak Darah., jika kukatakan orang tua itu sudah meninggal lantas kenapa, memangnya kau mau menyusulnya ke alam kuburan.?'' si pincang balik bertanya setengah mengejek.
Jawaban dari si pemuda pincang seketika membuat 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' marah besar. tanpa perduli apapun dia langsung berkelebat menggebrak lawan. kaki ganconya menyapu serata perut lalu menendang kepala. disusul dengan empat pukulan telapak yang menebar gumpalan asap panas berbentuk awan mendung dan cahaya merah kehitaman.
Dulu sebelum kakinya dibuntungi oleh musuh besarnya, si nenek sangat mengandalkan ilmu pukulan yang bernama 'Mendung Kematian Penggulung Roh' ini. kabarnya selain hawa panas yang sanggup membuat darah di tubuh korbannya mendidih juga mengandung racun sangat jahat.
Pranacitra yang di gempur dua larikan cahaya hitam menggidikkan dari senjata ganco iblis, ditambah serangan empat pukulan telapak maut lawannya hanya berdiri diam dengan kedua mata menatap dingin. pandangannya tetap hambar tanpa perasaan., seperti mata mayat. meskipun dalam keadaan beringas menyerang penuh nafsu membunuh, tapi hati si Nenek Iblis Berkaki Ganco tanpa sadar bergidik seram melihatnya.
'Whuuuuss., whuuuuk., shraaast.!'
'Plaaaang., Claaang., blaaaarr., blaaaamm.!'
Ledakan beruntun terjadi saat tiga jurus maut beradu. tubuh Pranacitra terhuyung beberapa tindak. meskipun jurusnya mampu menahan tendangan ganco iblis lawan, tapi empat buah bayangan telapak berkabut panas merah hitam terus menderu ganas menerobos jurus tongkat si pincang.
Pranacitra tertunduk, rambut hitamnya menutupi wajahnya yang pucat dan dingin. gelombang panas tenaga pukulan sakti lawan membuat tubuhnya terpental. tongkat besi hitamnya yang tergenggam erat menggaruk tanah lebih sejengkal dalamnya untuk menahan laju tubuhnya hingga menimbulkan jalur retakan panjang di permukaan tanah.
__ADS_1
''Pincang keparat., meskipun diriku agak penasaran dengan asal- usulmu, tapi hari ini kuputuskan untuk membuatmu menjadi mayat digunung Bromo bersama Lima Elang Api., Hee., he., anak kemarin sore yang katanya terkuat di antara pesilat muda pendatang baru., modar kowe bocah bangsat.!'' rutuk Nenek Iblis Berkaki Ganco kalap.
Sepasang mata dingin dibalik rambut hitam gondrong yang menutupi sebagian wajahnya membersit cahaya tajam dan sadis. meskipun dia membutuhkan jarak agar bisa balas menghantam, tapi juga tidak ingin tubuhnya terdorong terlalu jauh. saat berhenti tongkat besi hitam yang tertancap ditanah dilepaskan.
Tubuhnya setengah membungkuk dengan kepala menunduk. kedua telapak tangannya terbuka menengadah menghadap keatas seakan mengharap suatu pemberian. cahaya hitam merah berbentuk dua telapak tangan terbuka menyambar. hawa panas berbalur amisnya darah menggebrak. pukulan sakti 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa.!'
'Whuuuss., whuuuuss.!'
'Blaaaamm., blaaaasrrr.!'
''Aaakh setan alas., pincang jahanam, jangan harap kau dapat lolos dari kematianmu.!'' umpat si nenek meraung gusar. selain harus menahan rasa sakit pada aliran darahnya yang tersendat akibat benturan ilmu kesaktian, dia juga merasakan kekuatan pukulan saktinya seakan tersedot oleh ajian yang di lepaskan lawannya.
Tapi ancaman dari pemuda yang dijuluki sebagai si 'Muka Pucat Dingin' atau 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' itu rupanya masih baru permulaan. gelombang hawa sangat dingin dan kabut putih pekat bergulungan menyeruak dari kedua tangan si pincang yang terkepal erat dan sudah berubah putih berkilau diselimuti salju.
Pucat pias raut muka bengis si Nenek Iblis Berkaki Ganco. dengan hamburkan pukulan sakti 'Mendung Kematian Penggulung Roh' dan 'Kaki Ganco Iblis Menabur Dendam' dia berusaha untuk menghantam lebih dulu sebelum lawannya sempat mencapai titik tertinggi dari pengumpulan tenaga dalamnya, sekalian juga berusaha kabur menghindar sejauh mungkin.
Maksud hatinya memang tidak salah, karena meskipun belum pernah berhadapan langsung tapi si nenek tahu betul keganasan ilmu kesaktian milik 'Setan Kuburan' yang pernah merajai hampir segala jenis ilmu pukulan sakti yang ada di rimba persilatan. tapi sayangnya semua sudah terlambat, gelombang hawa teramat dingin mengiringi melesatnya dua cahaya putih berkilauan berbentuk balok es sebesar pohon kelapa melabrak. inilah ilmu pukulan 'Nisan Kuburan Membeku.!'
__ADS_1