Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Sebuah alasan mengirimnya.


__ADS_3

Orang tinggi besar berjubah kuning emas dengan sebuah topeng tengkorak yang terbuat dari perak itu melirik ke belakang.


''Sepertinya kau rada kurang puas dengan keputusanku karena mengirim anak baru itu ke sana..''


''Maaf jika aku bertanya, meskipun kuakui ilmu anak muda ini lumayan tinggi, tapi apa tidak terlalu gegabah jika kita mengirimkan bocah kemarin sore pada pertemuan besar para pendekar di gunung Semeru itu.?'' geram orang tua bertangan buntung yang berdiri dua langkah di belakang si jubah kuning.


Jika di lihat sepintas, hubungan kedua orang itu jelas adalah bawahan dan atasannya. tapi saat bicara si buntung seakan tidak punya rasa hormat pada si jubah kuning bertopeng tengkorak yang menjadi pimpinannya. yang aneh si jubah kuning seakan tidak perduli dengan sikap anak buahnya yang angkuh ini.


''Hhm., meskipun belum dua bulan dia bergabung dalam kelompok kita, tapi hasil kerjanya tidak pernah mengecewakan. kurasa kelompok '13 Pembunuh' yang aku pimpin ini beruntung juga memiliki anak muda itu..''


''Soal alasanku mengirimnya ke gunung Semeru justru karena dia adalah angota kita yang belum banyak dikenali orang. aku ingin si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' ini bekerja secara cepat dan senyap tanpa ada seorangpun yang tahu kehadirannya..''


''Kau tahu., pendekar muda pincang yang belakangan membuat geger rimba persilatan itu pasti akan hadir di sana, karena salah satu masalah yang akan di bicarakan pada pertemuan itu adalah bagaimana cara untuk menghabisi si pincang yang di ketahui jadi pewaris lima dedengkot kawakan aliran hitam yang punya banyak musuh..''


''Lalu apa hubungannya semua itu dengan kita dari kelompok 13 Pembunuh.?'' potong si tangan buntung penasaran.


''Kau tahu bukan, satu- satunya yang masih menghalangi kita untuk merajai rimba persilatan adalah keberadaan partai 'Gapura Iblis'. meskipun aku benci mengatakannya, tapi harus diakui kekuatan kita belum dapat menandingi mereka..''


''Jadi., aku ingin si pincang itu tetap hidup karena kutahu dia punya dendam kesumat dengan partai hitam terkuat itu. dengan adanya dia setidaknya perhatian Gapura Iblis dapat terpecah dan tidak turut mencampuri urusan kita yang sedang memburu 'Darah Keabadian' dan harta pusaka 'Istana Angsa Emas.!'' terang si jubah kuning yang rupanya adalah sang ketua dari salah satu kelompok pembunuh bayaran yang terkuat di dunia persilatan., 13 Pembunuh.!


''Hhm., sekarang aku paham. pantas saja selama ini kau seakan sengaja menghindari perselisihan dengan Gapura Iblis karena kekuatan kita belum mencukupi. tapi saat Darah Keabadian dan harta pusaka istana Angsa Emas sudah jatuh ke tanganmu, semua penghalang akan dapat kita atasi dengan mudah..''


''Otak tuamu masih encer juga., jika saat itu sudah tiba jangankan Gapura Iblis, seluruh rimba persilatan juga akan tunduk dalam kekuasan kelompok 13 Pembunuh. Haa., ha., ha.!'' si jubah kuning tertawa bergelak di ikuti si buntung.


Malam itu di kaki gunung Semeru sudah banyak bermunculan orang- orang rimba persilatan yang berdatangan. ada yang muncul seorang diri, berpasangan, bertiga atau lebih. tapi banyak juga yang datang secara berkelompok. semuanya ingin secepatnya sampai di puncak gunung Semeru di mana akan diadakan pertemuan besar kaum pendekar dari berbagai aliran.

__ADS_1


Para kaum persilatan ini ada yang datang karena mendapatkan undangan dari ketua perguruan silat Naga Biru, namun banyak pula yang datang atas kemauan sendiri. ada yang datang karena mempunyai suatu tujuan tertentu, tapi ada juga yang datang hanya karena ingin melihat keramaian.


Pagi haripun tiba. cahaya mentari yang muncul dari balik awan di ufuk timur seakan menyapu kabut dan hawa dingin yang menyelimuti gunung tertinggi di pulau Jawa itu. panorama sinar kuning jingga yang terus merangkak naik membuat pemandangan sekitar yang tadinya gelap menjadi nyata.


Sinar matahari pagi itu terus menembusi pucuk pepohonan lebat hingga menyoroti sebuah pintu gapura besar yang berukiran seekor naga sedang melingkari gunung dan berwarna kebiruan. diatas pintu gapura itu terdapat sebuah papan yang bertuliskan 'Perguruan Silat Naga Biru.!'


Dari tulisan dan lambang yang terdapat di depan pintu gapura besar itu, sudah dapat di pastikan kalau tempat ini adalah tempat salah satu dari sepuluh perguruan silat terbesar golongan putih yang bernama perguruan silat Naga Biru dari gunung Semeru.


Meskipun pagi sudah tiba namun pintu gerbang perguruan itu belum juga di buka. padahal di luar pintu sudah berkumpul lebih seribuan orang kaum persilatan yang datang dari berbagai aliran. mereka semuanya sudah tiba semenjak tadi malam, bahkan ada juga yang hadir sejak beberapa hari lalu atas undangan langsung dari ketua perguruan itu. para tamu khusus itu menginap dan di jamu dalam bangunan perguruan Naga Biru.


Berbeda dengan para pesilat yang datang atas kemauannya sendiri atau karena undangan yang bersifat umum, mereka hanya dI berikan tempat beristirahat berupa tenda- tenda dan pondokan kecil yang berada di luar pagar dinding perguruan silat itu dan di layani sekedarnya oleh para murid Naga Biru yang berjumlah puluhan orang.


Meskipun kejadian ini menimbulkan rasa tidak puas di kalangan para pesilat yang datang karena merasa di perlakukan tidak adil, tapi mereka hanya bisa memendam semua kejengkelannya dalam hati.


Sebuah panggung besar telah didirikan di pelataran luar pintu gapura perguruan silat Naga Biru. ukurannya mencapai sepuluh kali dua belas tombak. tingginya mencapai satu tombak lebih. di depan panggung besar yang terbuat dari bilah- bilah papan kayu itu berdiri sepuluh orang murid perguruan Naga Biru yang sedang berjaga dengan membekal pedang di pungungnya. di depan panggung tersedia deretan kursi kayu yang mungkin di sediakan untuk para undangan utama.


Di belakang barisan sepuluh murid pembawa bendera muncul enam orang. empat adalah lelaki tua, seorang nenek dan juga seorang pemuda tiga puluhan tahun. mereka berjalan keluar pintu dengan di kawal para murid perguruan silat Naga Biru. meski sepintas hanya berjalan biasa saja tapi terasa hawa kesaktian yang terpancar dari tubuh mereka.


Di belakang enam orang itu mengikuti lebih dua ratus murid perguruan Naga Biru yang terbagi dalam tiga tingkatan. murid utama berada di depan di ikuti murid tingkat ke dua, lalu di akhiri kelompok murid tingkat tiga. emat orang murid yang berjalan paling belakang berhenti di depan pintu untuk menutupnya dan berjaga di sana.


Begitu melihat kemunculan rombongan orang dari dalam bangunan pagar perguruan Naga Biru, semua yang hadir segera berseru.


''Lihat itu., ketua perguruan silat Naga Biru, Ki Galing Brajapaksi si 'Dewa Naga Langit' sudah keluar bersama para muridnya.!''


''Eeh., tapi apa kalian tidak melihat kalau Ki Galing Brajapaksi juga di dampingi oleh para pesilat kelas atas. mereka pasti mendapat undangan khusus dari ketua Naga Biru hingga bisa berada di dalam sana..'' ucap beberapa orang.

__ADS_1


''Orang tua berjubah kuning yabg berdiri di sebelah kiri sang ketua, membawa golok emas dan berlengan kiri buntung itu pastilah Ki Tanjung Semboro, tokoh silat terkenal dari kawasan timur yang berjuluk 'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal.!''


''Kau benar., kalau yang di sebelahnya lagi adalah Ki Gelung Sanca Amurkala, ketua perguruan silat 'Sanca Belang' yang berada di hulu sungai Cisoka. kabarnya dia adalah sahabat dekat Ki Galing Brajapaksi semenjak keduanya masih muda bahkan seringkali berpetualang bersama..'' terdengar dua orang berbicara sambil menunjuk enam orang itu yang sudah duduk di kursi utama yang berada di depan panggung.


''Tapi siapa tiga orang yang lain itu. diantara mereka bahkan ada yang umurnya masih muda. juga seorang nenek berjubah merah, dan satu lagi mirip seorang gembel tua berkulit dan berbaju hitam gombrong dengan tubuhnya yang kecil kurus..''


''Iya benar., tidak mungkin mereka manusia sembarangan, tapi aku tidak bisa mengenali siapa mereka bertiga itu..'' gumam beberapa orang yang merasa penasaran.


''Aah aku teringat sesuatu., setahun terakhir ada tersiar kabar kemunculan seorang pendekar pendatang baru yang berilmu sangat tinggi. jika melihat ciri jubah ungu dengan dua buah senjata cakra perak yang tergantung pinggangnya, pastilah pemuda itu adalah 'Sepasang Cakra Malaikat.!''


Mendengar nama Sepasang Cakra Malaikat di sebutkan, semua yang hadir menjadi geger. karena orang ini sudah di anggap sebagai salah satu pendekar pendatang baru yang luar biasa. kabarnya terakhir dia telah membantai habis satu perguruan silat aliran hitam yang tanpa sengaja mencari perkara dengannya.


''Dua orang yang lainnya itu aku sudah ingat sekarang. nenek tua berjubah merah itu pasti tokoh silat sakti dari tanah seberang. kalau tidak salah namanya nenek Saringgit. tapi dia lebih di kenal dengan julukan 'Nenek Siluman berjubah Merah'. sedangkan pengemis kecil yang berbaju rombeng dan berkulit kehitaman itu bukan lain adalah si 'Pengemis Gelap.!'' seru seseorang seraya menyebutkan nama kedua orang tua itu.


Suasana semakin bertambah gempar. bukan saja karena kehadiran para tokoh rimba persilatan yang punya nama besar. tapi juga di sebabkan adanya suatu keanehan dari kedatangan mereka.


Jika tiga orang tamu undangan lainnya masih bisa dianggap sebagai tokoh silat aliran putih, tapi dua orang yang disebutkan terakhir kalinya itu diketahui berasal dari golongan hitam. lantas kenapa sebuah perguruan silat aliran putih yang ternama sampai mau mengundang mereka berdua dalam pertemuan besar ini.?


Walaupun merasakan kecurigaan, tapi para pesilat yang hadir di sana tidak ada yang berani bertanya, mereka lebih memilih diam dan melihat perkembangan.


*****


Ket., Untuk ukuran 1 tombak ~kira" 2 meter.


ukuran luas 1 tombak keliling~ 1x1 tombak (2x2 meter). sepeminum teh~ kira" 5 menit. sepenanak nasi~ 30 menit. 1 kati~ 0.5 kilo gram (lebih). jarak selemparan batu~ kira" 10 meter.

__ADS_1


*****


Asalamualaikum, salam sehat sejahtera selalu buat kita semua. mohon sertakan komentar, kritik saran, juga like👍 vote jika anda suka. kalau berkenan tolong share novel ini ke teman" anda. Terimakasih. Wasalamualaikum.


__ADS_2