
Walaupun Ki Payung Gendingan tahu akan adanya ancaman bahaya maut dari ilmu kesaktian yang bakal dilancarkan Nyi 'Pedang Kembar Terbang' tapi dia mesti lebih dulu menghadapi keganasan serangan jurus pedang dari empat orang berjubah hitam yang menikamnya dari atas dan bawah tubuhnya.
Dengan andalkan senjata payung tembaga di tangannya sebagai perisai pelindung tubuh orang tua itu mampu membuat lebih selusin bayangan mata pedang lawan seketika tertahan sebelum bermentalan saat bertemu dengan payung tembaganya, hingga menimbulkan pijaran bunga api. bukan cuma itu saja, bagian telapak tangan mereka yang menggenggam gagang pedang seolah terkena sengatan panas sampai melepuh.
Sambil merujuk gusar dan kerahkan tenaga dalam untuk menahan rasa sakit, mereka berempat berjumpalitan di udara sebelum jejakkan kakinya di tanah. detik selanjutnya seiring pergeseran tubuh, pedang mereka kembali menusuk dari empat penjuru dengan gerakan bersilangan guna mengacaukan perhatian lawannya.
Empat pedang yang tipis berkilauan itu turut berubah menjadi kehitaman hingga hawa serangan meningkat lebih mematikan. meskipun payung pusakanya sanggup melindungi raganya tapi hawa pedang lawan yang melabrak tetap mampu menyapu batu pasir di jalanan sampai semburat ke segala penjuru. beberapa orang yang menonton pertarungan itu dari jarak belasan langkah tetap tidak dapat menghindari sambaran debu pasir dan kerikil tajam hingga buru- buru mundur kesakitan. kulit tubuh mereka berdarah.
''Huhm., jangan sampai melukai orang- orang yang tidak ada sangkutannya dengan urusan kita. dasar bedebah.!'' dengus Ki Payung Gendingan memaki geram. payung tembaga diputar sekali mengitari tubuhnya untuk menangkis serangan pedang lawannya. dalam bertahan senjata payung tembaga itu seolah mampu membalikkan sebagian dari tenaga panas dari jurus serangan pedang lawan.
'Whuuukk., whuuut., bheeeett.!'
'Traaaang., traaaang., crraaangg.!'
''Uugh., Setan alas.!'' keluh salah satu dari penyerang yang hampir saja kehilangan pedangnya. ''Keparat tua., kau tidak akan lolos dari kematian.!'' damprat yang lainnya. meski kegusaran menyelimuti hati tapi mereka mesti cepat melindungi tubuh dari jurus serangan payung tembaga lawan yang membawa sambaran angin panas berwarna jingga. dari menyerang kini mereka jadi balik tertekan.
Berikutnya seiring dengan payung pusakanya yang menutup, Ki Payung Gendingan melipat gandakan serangannya dengan gunakan ujung payungnya yang runcing itu sebagai pedang sekaligus tombak pendek. jika saat terbuka angin yang mengiringi jurus terasak keras bergulung maka saat payung tembaga menutup angin serangannya berubah tajam merobek- robek udara.!
Belum lagi saat setiap pedang beradu dengan payung, getaran tenaga panas yang berbalik sampai membuat perih telapak tangan lawan. semua ini kalau dipikir secara mendalam sebenarnya tidak terlalu mengherankan, karena selain punya hawa kesaktian, bahan senjata payung yang terbuat dari lempengan tembaga akan lebih mudah menghantarkan panas. tapi jaman masa itu tentunya orang- orang belum sampai berpikir demikian.
Dalam waktu singkat sudah lebih belasan jurus terlewati. biarpun masih sanggup bertahan tapi jubah hitam keempat orang anggota partai 'Gapura Iblis' itu telah koyak tercabik. beberapa goresan dan tusukan ujung payung juga sempat telah melukai tubuh mereka. mungkin tidak lama lagi empat orang ini akan tewas terjungkal.
Di penjuru lainnya terlihat raut wajah seorang wanita setengah umur berjubah putih yang mengkelam marah. kedua matanya yang baru terbuka sekilas memancarkan cahaya tajam. biarpun Nyi Pedang Kembar Terbang sudah menduga kalau empat orang bawahannya mungkin tidak mampu mengungguli kepandaian silat lawan tetapi sungguh dia tidak pernah mengira kalau mereka bisa terdesak hebat begitu cepat.
__ADS_1
Dengan menggeram sepasang pedang putih bersinar keperakan terangkat bersilangan diatas kepala Nyi Pedang Kembar Terbang. sekali dia membentak dan kibaskan kedua tangannya, kedua pedang yang tergolong dari balik punggungnya melesat cepat kedepan mengeluarkan suara desingan tajam disertai pula cahaya putih menyilaukan mata.
'Sheeet., sheeet., wheeet.!'
'shiiiingg., sriiiinngg.!'
''Aah sialan., jurus 'Pedang Kembar Terbang Mengejar Nyawa.!'' seru Ki Payung Gendingan terperanjat. saat itu ujung mata payungnya tinggal sejengkal lagi berhasil merobek leher salah satu penyerang berjubah hitam. tapi akibat datangnya serangan Nyi Pedang Kembar Terbang terpaksa dia tarik kembali jurusnya lantas berbalik menghindar sambil bentangkan payungnya untuk menangkis.
Biarpun begitu orang tua tukang cerita ini juga enggan rugi. kaki kanannya tidak mau tinggal diam. sekali dia sempat menendang perut lawan yang baru saja bernafas lega karena lolos dari maut. tubuh orang ini terjungkal bergulingan tiga tindak dan batuk darah sebelum akhirnya terkapar pingsan.
Sepasang pedang terbang yang menyambar secepat kilat seketika bentrok dengan senjata payung tembaga. letupan bunga api disertai bunyi berdentang nyaring terdengar berulang kali. dengan pengendalian dari jarak jauh Nyi Pedang Kembar Terbang tidak perlu merasa khawatir akan daya tolak balik dari kekuatan hawa pedangnya yang beradu kesaktian dengan payung tembaga lawan bakal melukai tangannya.
Sebaliknya bagi Ki Payung Gendingan semua itu adalah sebuah kerugian. karena dia untuk sementara hanya dapat melindungi tubuhnya dengan payung saktinya tanpa dapat balas menyerang. dia juga terkejut saat mendapati kekuatan serangan jurus lawannya terasa meningkat beberapa kali lebih hebat daripada sewaktu terakhir kali keduanya masih bekerja bersama.
''Dasar bodoh., kalian tunggu apa lagi. cepat habisi tua bangka pelarian itu.!'' bentak Nyi Pedang Kembar Terbang pada ketiga anak buahnya yang masih tersisa. serentak mereka kembali menyerbu dengan beringas. kali ini ketiganya sengaja membokong lawan dari belakang punggung juga samping kiri- kanan.
Terkurung serangan pedang terbang saja sudah membuat Ki Payung Gendingan cukup kerepotan, apalagi kini tiga orang lainnya turut menyerangnya. tentu saja keadaan orang tua itu menjadi semakin tertekan sehingga beberapa kali pedang terbang lawannya berhasil menyayat tubuhnya. racun berhawa panas yang terkandung dalam mata pedang membuat darah ditubuhnya seolah mendidih, hingga gerakannya menjadi kacau.
''Perempuan bangsat., aku akan beradu jiwa denganmu.!'' sambil meraung kalap Ki Payung Gendingan putar senjatanya menyapu ke sekeliling untuk menyapu mental pedang para pengurungnya hingga seolah tercipta delapan cahaya jingga kehitaman berupa payung. sekali payung tembaga bergerak menutup dan menyentak, delapan kuncup payung turut melesat ke muka.
''Jurus 'Kuncup Delapan Payung Sakti.!'' seru Nyi Pedang Kembar Terbang mengenali jurus lawannya. ''Huhm., jika dulu mungkin ilmumu ini mungkin masih berguna, tapi sekarang jangan harap bisa membantumu keluar dari lubang kematian..'' dengus perempuan itu sembari mengibaskan kedua tangannya. sepasang pedang terbang miliknya seakan terpanggil turut melesat kembali ke belakang.
Kedua pedang itu seolah memiliki jiwa hingga dapat bergerak sesuai perintah pemiliknya. delapan cahaya payung yang menguncup rapat terus berkelebat bagai hujan tombak mengancam delapan bagian tubuh Nyi Pedang Kembar Terbang. saat tinggal dua jangkauan tangan saja mencapai sasarannya, mendadak muncul kilatan- kilatan sinar aneh yang bersilangan menghadang.
__ADS_1
'Traaaannggg., traaanngg., triiingg.!'
'Traaang., craaang., creeenng.!'
Sepasang pedang yang muncul bersilangan itu seperti pagar gaib yang mampu menahan gempuran delapan cahaya payung jingga. ledakan keras susul menyusul terdengar saat kedua kekuatan itu beradu. bagi si tua tukang cerita kegagalan jurus ini membuatnya mati langkah karena dia telah kerahkan semua kesaktiannya pada serangan terakhir itu.
Sebaliknya keadaan Nyi Pedang Kembar Terbang juga tidak sebaik yang terlihat, karena dua diantara delapan kuncup cahaya payung yang terhadang masih mampu lolos menembus pertahanan ilmunya. beruntung wanita itu masih sempat beranjak mundur, jika saja terlambat mungkin tidak hanya jubah putihnya yang tersambar, bisa jadi dada juga perutnya turut tertembus jebol.
''Kee., kepp., keparat. sejak kapan wanita tua ini berhasil menguasai ilmu 'Tameng Pedang Kilat.?'' rutuk Ki Payung Gendingan. sambil tekap dadanya yang sesak dia paksakan diri menghindari sabetan ketiga orang berjubah hitam. racun panas yang menyerang dirinya membuat gerakan jurusnya menjadi kaku. tidak dapat dihindari lagi beberapa luka kembali bertambah ditubuhnya
''Orang tua keparat., mampuslah kau sekarang juga.!'' sambil berteriak marah Nyi Pedang Kembar Terbang sekali lagi mengibaskan kedua tangannya menyental ke atas. pedang kembar putih keperakan yang berubah wujud seperti cahaya kilat bersilangan dan berhasil membendung jurus lawan langsung ikut melesat ke udara. di atas langit terdengar gemuruh suara guntur menggelegar. awan hitam turut pula bergulungan.
Dua kali ledakan keras mengawali sambaran pedang perak yang berubah menjadi cahaya petir besar. ''Celaka., rupanya dia juga sudah menguasai ilmu 'Pedang Gunting Halilintar'. habislah sudah..'' keluh Ki Payung Gendingan. tubuhnya terpuruk lemas seakan putus asa, sampai- sampai tiga tikaman pedang lawan yang mengancam punggung, bahu dan pinggangnya tidak lagi dia hiraukan.
Selain merasa sudah tidak bertenaga, dia juga tahu betul kehebatan jurus lawan yang tertinggi ini. tanpa sadar matanya menoleh ke arah pintu warung makan 'Mampir Daharan' yang tertutup rapat. ''Apakah kali ini diriku telah salah menilai orang.?'' gumamnya pelan seakan ada rasa penasaran dan sesal dalam hatinya.
Diantara batas kesadarannya orang tua itu masih sempat bergulingan menghindari tusukan pedang sembari sampokkan payung saktinya untuk menangkis. sayang tenaganya sudah sangat terkuras, meski dapat selamat tapi senjata payung tembaganya juga sudah terlepas dari genggaman tangan.
''Hik., hi., percuma saja kau menghindar. kali ini nyawa anjingmu sudah tamat.!'' gelak Nyi Pedang Kembar Terbang terkikik. ''Bunuh., hancurkan.!'' serunya bengis sembari kedua tangannya menyentak ke bawah. di iringi ledakan memekakkan telinga, dua buah pedang petir besar menyambar turun dari atas langit langsung menghunjam kepala si tua tukang cerita. belum lagi inti jurusnya tiba, tanah jalanan di sana sama retak terpecah dihempas tenaga kesaktian yang melabrak.
''Kurang ajar., pagi hari waktunya orang- orang untuk sarapan di warung ini. kenapa juga kalian berbuat onar hingga membuat para pelangganku ketakutan.!" terdengar suara seorang lelaki tua menghardik dari dalam warung. bersamaan sebuah jendela kayu di sampingnya terbuka. dari sana muncul satu cahaya hitam pekat berbentuk bundar melesat ke muka, di susul dengan sesosok bayangan bungkuk yang berkelebat keluar.
.............
__ADS_1
Authornya selain sibuk kerja juga lagi kurang sehat. maaf kalau lambat update 🙏.