
Hujan gerimis yang masih mengguyur dan hembusan angin malam membuat udara menjadi bertambah dingin menusuk tulang. baju semua orang di sana telah basah kuyup oleh air hujan, sehingga kedinginan terasa semakin membekukan tubuh mereka. tapi sayangnya., dinginnya malam tetap tidak mampu meredam panasnya bara api dendam di hati manusia.
Sepasang mata tanpa perasaan itu telah berubah memerah, seperti ada garis- garis serat berdarah yang muncul di bagian putih dari bola matanya. langkah kaki yang terseok perlahan maju setapak demi setapak, merayap lambat seperti seekor cacing. ujung tongkat besi kepala tengkorak yang terseret menyaruk permukaan tanah berbatu menimbulkan suara tajam yang menggores jiwa.
Ki Tuyul Ireng alias 'Demit Kate Mata Picak' semakin merinding. tangan kanannya yang memegang bendera hitam lambang partai 'Gapura Iblis' di acungkan lebih tinggi, bahkan kakinya sampai setengah berjinjit saking khawatir orang pincang di depannya tidak dapat melihat lambang partai silat aliran hitam terkuat itu.
''Hoii., pincang siia., sialan. apa matamu sudah buta sampai tidak kenal lambang bendera yang berada di tanganku. ini adalah lambang kekuasaan partai Gapura Iblis. kau dengar pincang., Gapura Iblis. kep., keparat. ja., jang., jangan bera., ni men., mende., kat kema., ri. ber., berhenti kataku setan pincang gi., gila.!'' umpat Ki Tuyul Ireng tersurut mundur sambil mencak- mencak kelabakan.
''Ini., ini lambang Gapura Iblis. partai aliran hitam terkuat, peng., penguasa dunia gelap rimba per., persi., persilatan. kau., kau dengar., ini Gapura Iblis. jadi., jang., jangan coba untuk melawan. kau pas., pasti mampus.!'' si Demit Kate Mata Picak gusar mencoba menggertak si pincang.
Namun sayangnya apa yang dia harapkan tidak pernah kesampaian. pemuda itu seperti tidak kenal arti kata takut. ''Setan alas., kubilang berhenti men., dekatiku. pincang edan., aa., apa telinga., mu tuli dan ma., mata., mu buta. ataukah kau., kau mem., memang orang dungu hahh.?'' rutuk orang kate plontos yang berkulit hitam legam itu meracau penuh kepanikan.
Seharusnya setiap orang persilatan yang punya sengketa dengan partai Gapura Iblis akan merasakan ketakutan yang luar biasa. bahkan beberapa diantaranya bisa jadi lebih memilih mati bunuh diri lebih dulu sebelum di datangi oleh utusan mereka. sebab jangankan berhadapan langsung, baru mendengar atau melihat lambang bendera mereka saja sudah membuat nyali kaum pendekar runtuh.
Tapi pemuda pincang itu bukan cuma tidak merasa gentar sedikitpun. bahkan langkah kakinya yang terseok seakan semakin cepat bergerak setiap kali nama partai Gapura Iblis di sebutkan oleh Ki Tuyul Ireng. orang cebol hitam itu sungguh tidak habis pikir, bingung dan juga ngeri menghadapi kejadian itu.
__ADS_1
Saking geram dan paniknya kakinya yang pendek dan gempal hitam tersandung sebuah tonjolan batu. semestinya kejadian seperti ini tidak patut di alami oleh tokoh silat sekelas Demit Kate Mata Picak. tapi apa daya rasa ketakutan dan bingung membuat semua akal sehat dan pikirannya terganggu. hingga saat tubuhnya jatuh terjengkang dia tidak mampu lagi menahannya. bendera hitam di tangannya juga terlepas.
''Bangsat pincang sialan., kubunuh kau.!'' maki Ki Tuyul Ireng nekat dan kalap. kejadian yang memalukan membuatnya mengamuk hingga lupa keadaan. sepasang telapak tangannya bergerak secepat angin puyuh berhembus. tujuh buah telapak tangan hitam berhawa panas dan amis menggempur ke muka. ilmu 'Tujuh Telapak Hitam Amis Gaib' kembali mengancam lawannya.!
Si pincang Pranacitra menyeringai sadis. dia bukannya mundur, malah sebaliknya langkah kakinya yang bergerak secepat sambaran kilat maju ke depan. dalam keadaan seperti itu orang tidak akan percaya kalau pemuda ini adalah seorang yang cacat sebelah kakinya.
Kaki melangkah tangan kanannya membuat gerakan mencengkeram dan mencabik ke tiga sasaran, dia hendak menyerang lawannya dari jarak jauh. tiga larikan tangan hitam bagaikan bayangan roh penasaran menyambar Ki Tuyul Ireng. inilah jurus 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa' warisan si 'Malaikat Copet.!
Sementara itu tongkat besi hitam berkepala tengkorak ditangan kiri bergerak memutar hingga membentuk delapan buah lingkaran perisai cahaya hitam redup yang menghadang tujuh pukulan lawan. dalam pengembaraannya di dunia persilatan sejak turun dari gunung Bisma hingga keluar dari 'Lembah Seribu Racun' sebenarnya Pranacitra seringkali belajar menggabungkan gerakan jurus ilmu silat yang pernah dia dapatkan dari para gurunya, sekaligus berusaha membuat jurus silat baru.
Karuan saja orang berjuluk Demit Kate Mata Picak itu meraung gusar juga terperanjat saat melihat jurus pukulannya tidak sanggup untuk menembus perisai gelap yang seolah dapat melindungi tubuh lawannya dari delapan penjuru, bahkan sekarang dia buat gelagapan dan mundur sejauhnya saat merasakan ada tiga buah sambaran tangan tanpa wujud mengancam leher, dada dan perutnya.
''Aakh., jahanam pincang kurang ajar.!'' teriak Ki Tuyul Ireng murka juga ketakutan. dengan andalkan ilmu meringankan tubuhnya yang memang luar biasa, dia mencelat tinggi ke udara. orang kate itu juga kembali gunakan pukulan 'Tujuh Telapak Hitam Amis Gaib' untuk menahan sambaran jurus si pincang sekalian bermaksud balik menghantamnya.
Meskipun dapat lolos dari serangan lawan, tapi pergelangan kaki kanannya sempat robek dan putus uratnya tersambar cakar tanpa wujud yang datang mengancam. darah yang menetes bercampur potongan otot kakinya yang tercabik. orang ini jika mampu bertahan hidup tentu akan cacat juga.
__ADS_1
Sambil berteriak menahan rasa kesakitan dan amarah, dari ketingian hampir tiga tombak dia bermaksud menghantam balik lalu kabur dari tempat itu. tapi sungguh Ki Tuyul Kate tidak mengira jika lawan sudah menduga arah larinya karena saat itulah muncul selarik sinar hitam kemerahan di sertai ledakan keras.
''Aakh., jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan.!'' jerit Ki Tuyul Ireng ketakutan mengenali ilmu kesaktian lawannya. itulah suaranya yang terakhir sebelum tubuh katenya terhempas jatuh dengan sebuah lubang hitam hangus yang menghajar pangkal lehernya hingga nyaris putus.
Entah sengaja atau cuma kebetulan, mata melotot orang ini melihat ke arah bendera hitam lambang partai Gapura Iblis yang tergeletak beberapa jengkal dari kepalanya. mungkin dia masih tidak percaya dan bingung, kenapa di dunia ini ada orang yang tidak takut pada lambang partai aliran hitam terkuat itu.
''Apakah kau ini benar hanya seorang pesilat muda pendatang baru yang pincang, ataukah dirimu adalah cuma orang dusun yang hidup di puncak gunung terasing dan jauh dari peradapan hingga tidak pernah mendengar apa itu partai Gapura Iblis. atau jangan- jangan bendera hitam itu cuma barang palsu dan sudah kehilangan keseramannya.?''
Sepertinya segala pertanyaan Ki Tuyul Ireng tidak akan pernah dia dapatkan jawabannya karena saat itu juga nyawanya sudah terbang ke akhirat. mungkinkah di alam sana akan ada hantu penasaran yang bisa memberitahunya.? entahlah.
Dua orang anggota perguruan silat Naga Biru yang masih jatuh terduduk di atas tanah becek sama ternganga mulutnya. mereka tidak lagi merasakan ketakutan karena semuanya sudah tersapu oleh kejadian yang sudah berlangsung di depan matanya.
Tanpa sadar keduanya menoleh mengikuti langkah kaki si pincang yang terseok menghampiri tubuh Puji Seruni. mungkin saat ini dalam benak mereka juga timbul banyak pertanyaan yang sama dengan Ki Tuyul Ireng. dan sepertinya., mereka juga tidak akan pernah tahu jawabannya.
*****
__ADS_1
Silahkan sampaikan komentar, kritik saran, like👍 vote atau favorit👌 jika anda suka. Terimakasih sudah mengikuti cerita novel silat Pendekar Tanpa Kawan dan 13 Pembunuh.🙏