
Gadis kecil yang tersiksa dan sang guru yang menyiksanya, mereka berdua saat ini tak ubahnya seperti ayah dan anak atau seorang kakek dengan cucu kesayangannya. tubuh Ki Suta masih berada dalam dekapan gadis kecil itu. Pranacitra menghela nafas panjang, dia tidak tega melihat keadaan itu.
''Gu., guru., guru kau sudah sadar kembali., ini aku Srianah muridmu..'' ucap gadis cilik tukang copet yang ternyata bernama Srianah itu. rupanya si Coreng hanyalah nama panggilannya saat dia berkeliaran jadi gembel dan tukang copet cilik di pasar.
''Sri., Srianah muridku., aa., aku., telah mem., membuatmu menderita., seharusnya kau tidak usah kem., kembali kemari., gurumu ini sudah berubah men., menjadi iblis.!'' tutur Ki Suta dengan suara tercekat antara tangisan dan kegeraman pada dirinya sendiri.
''Tidak guru., aku tahu semua itu bukanlah kemauanmu, malah seharusnya aku tidak pergi meninggalkanmu sendirian. mestinya sebagai murid diriku tetap setia disini..''
''Hek., he., dasar murid bodoh, aku justru senang kau pergi dari sini, hingga dirimu bisa selamat dari amukan gilaku..'' ucap Ki Suta yang baru tersadar dari pingsannya. suara orang tua ini terdengar lemah, seakan sudah kehilangan tenaganya. keanehan ini tidak terlepas dari perhatian Pranacitra.
''Saat orang ini menyiksa Srianah muridnya, dia seakan punya tenaga yang besar, tapi begitu aku hentikan, dia langsung lemas dan pingsan. aku memukulinya dengan patahan kaki meja kayu, jadi tidak seharusnya dia cuma diam tanpa melawan. luka tusukan pisauku pada lengannya juga tidak parah., sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya.?''
pikir Pranacitra curiga lalu bertanya ''Maaf Ki Suta., bolehkah aku bertanya sesuatu padamu.?''
Ki Suta mengangguk lemah ''Kau hendak bertanya apa anak muda., maafkan aku karena kau harus melihat kejadian ini. tapi aku bersyukur kau datang dan berhasil menghentikanku.!''
''Saat engkau hendak menganiaya muridmu, apakah ada perasaan tertentu sebelum keinginan itu timbul., maksudku adakah tanda- tanda tertentu yang kau rasakan.?''
Ki Suta terdiam lama, lalu gelengkan kepalanya ''Kurasa tidak ada yang terlalu aneh, hanya saja kepalaku sekejab terasa sakit dan bagian dalam tubuhku panas, seakan darahku sedang mendidih., tapi itu kurasa hanya akibat rasa kemarahan dalam hatiku saja. memangnya ada apa anak muda.?''
Pranacitra termenung seakan berpikir keras, kedua matanya berkilat tajam saat kembali bertanya ''Ki Suta., apakah setelah puas menyiksa muridmu kau merasakan tubuhmu lemas seakan kehabisan tenaga, lalu kesadaranmu kembali pulih.?''
__ADS_1
''Itu., itu benar sekali, tapi bagaimana kau bisa menduganya.?'' Ki Suta balik bertanya.
''Kurasa aku sedikit paham dengan yang sebenarnya terjadi pada dirimu. dari cerita yang kudengar dari Srianah, saat salah meramu obat yang terlanjur kau minum, dirimu sempat kejang karena aliran darahmu meningkat cepat hingga banyak terkumpul di sekitar atas tubuh, mulai bagian dada hingga kepalamu..''
''Itu terbukti saat aku berhasil menusuk kedua pangkal lenganmu dengan pisauku, darah yang tersembur cukup deras. padahal luka tusukannya tidaklah dalam. anehnya setelah itu raut mukamu yang beringas menjadi lesu. bahkan hanya dengan pukulan dan tendanganku yang lemah kau bisa aku jatuhkan dengan mudah, malah sepertinya kau tidak melawan saat kuhajar..''
''Saat itu seharusnya aku sudah tahu kalau kesadaranmu sudah mulai kembali. tapi aku., aku., malah terus saja..'' pemuda itu tidak melanjutkan ucapannya, dia menyesal karena sudah berlaku terlalu kasar pada Ki Suta. orang tua itu tersenyum gelengkan kepalanya.
''Apa yang sudah kau lakukan padaku tidak perlu membuatmu merasa tidak enak hati. karena jangankan kau, aku sendiri merasa geram dan menyesal saat ingat dengan apa yang sudah kuperbuat pada muridku Srianah..'' sementara dalam hatinya Ki Suta membatin ''Siapa sebenarnya anak muda bermuka pucat ini., tubuhnya lemah juga keracunan. tapi otaknya sangat cerdas sampai tahu penyebab dari penyakit jiwaku ini..''
''Sungguh memalukan., biarpun aku bukan seorang tabib yang sangat hebat dan ternama tapi bagaimana mungkin sampai tidak tahu penyebab penyakit sialan yang aku alami ini.!'' Ki Suta terus merenung. dalam hatinya mulai timbul rasa kagum pada Pranacitra.
Gurunya Ki Rangga Wesi Bledek si Tangan Guntur Besi sampai mati- matian berusaha untuk mengobatinya dengan mempelajari buku- buku ilmu pengobatan yang dia dapat dari para sahabatnya. tapi semua itu hanya berujung sia- sia dan Ki Ranggapun akhirnya menyerah.
''Sayang sekali Ceking., aku telah gagal menyembuhkanmu. seandainya saja berhasil mungkin kau bisa jadi orang hebat..'' ucap Ki Rangga sembari mengusap rambut kepala si bocah kurus penuh sesal dan kasih sayang. itulah kenangan yang masih terpatri dalam ingatan Pranacitra.
Dari beberapa kitab ilmu pengobatan milik Ki Rangga itulah Pranacitra belajar ilmu pengobatan. meskipun lemah dan kadang bertingkah laku tolol, tapi otaknya jauh lebih pintar dibandingkan hampir semua teman- temannya di gunung Bisma. mungkin cuma Arga Pangestu dan Ajeng Lestari saja yang bisa menandingi kecerdasannya.
Untuk mengetahui tingkat kemampuan ilmu pengobatannya tidak jarang dia pergi diam- diam untuk mencari bahan dari tanaman dan binatang beracun yang ada di gunung Bisma, lalu berusaha sendiri mencari cara untuk memunahkannya. untuk memastikan pernah dia memakai beberapa ekor monyet yang ditangkap oleh Sribowo, saudaranya yang jago berburu sebagai bahan percobaan racunnya. dari lima ekor monyet satu langsung mati menghitam keracunan, satu lagi lumpuh selama sebulan sebelum akhirnya mati juga dan tiga monyet lainnya berhasil dia sembuhkan. hasil yang tidak terlalu buruk., (itu menurutnya sih.,)
Pranacitra tidak pernah tahu kalau semua perbuatannya selalu diawasi oleh Ki Rangga. perasaan orang tua ini bercampuran antara terkejut, kagum tapi juga ngeri. setelah lama berpikir orang tua ini membiarkan saja ulah muridnya yang aneh itu.
__ADS_1
Karenanya saat Malaikat Serba Hitam dan Nyi Lintang Wungu si Dewi Pedang Bintang Kali Serayu memberinya obat penahan racun pembeku darah dan jantung yang ada dalam tubuhnya, pemuda itu hanya tertawa dalam hati karena sebenarnya dia sendiri juga bisa membuat obat penahan racun seperti itu. tapi kalau cuma untuk menahan saja apa gunanya.? racun itu sangat ganas, obat penahan racun seperti itu pada akhirnya akan kalah juga. ibarat kata sekuat apapun sebuah bendungan, jika diterjang banjir besar berhari- hari tetap akan jebol juga. yang dia butuhkan obat pemunah bukan sekedar penahan racun.
''Kalau aku boleh katakan mungkin penyebab semua penyakit jiwamu ini karena aliran darah panas dan hawa obat yang kau minum terlalu keras dan cepat naik ke otakmu, hingga membuat kemarahan meluap yang tidak terkendali dan sejenak lupa ingatan..''
''Ibaratnya kau punya tenaga berlebihan tapi dipaksa untuk tidur. seluruh tubuhmu sangat gatal tapi kau tidak mampu menggaruknya. juga seakan ada hidangan lezat di mejamu sementara perutmu sangat kelaparan, tapi kau dilarang untuk memakannya. akhirnya., semua pelampiasanmu pada Srianah.!''
''Ki Suta dan muridnya tertegun memandang Pranacitra, penjelasan pemuda ini sangat masuk akal. meskipun terdengar sederhana tapi Ki Suta sampai tidak menyadari hal ini. mungkin karena obat ramuannya yang gagal membuat otaknya menjadi tumpul. perlahan dia bangkit berdiri lalu menjura hormat. ''Aku sudah cukup lama menjadi tabib, tapi jika kau tidak memberikan penjelasan padaku seperti ini, mungkin selamanya diriku tetap berada dalam kegelapan, dan muridku yang akan jadi korbannya., kuucapkan banyak terima kasih anak muda.!''
''Terima kasih kakang Pranacitra., sekarang guruku sudah sadar kembali berkat dirimu..'' ucap Srianah seraya menghambur memeluk Pranacitra. pemuda itu cuma menganguk dan tersenyum mengelus kepala si gadis.
''Sementara ini keadaan gurumu sudah lebih baik, tapi tetap saja Ki Suta harus cepat membuat obat yang bisa memunahkan ramuan gagal yang terlanjur beliau minum..''
''Hhm., soal itu aku sudah memikirkannya. sekarang juga akan kubuat penawar itu., kalau tidak aku takut penyakit sialan ini bisa muncul lagi. Srianah istirahatlah dulu dan rawat luka- lukamu, anak muda, sepertinya dirimu tahu ilmu pengobatan. bisakah kau bantu diriku.?'' tanya Ki Suta penuh harap.
Belum sempat Pranacitra menjawab dari pintu gubuk yang terbuka entah sejak kapan muncul seorang nenek tua bungkuk berjubah hitam dan menggembol sebuah buntelan kain kuning bertongkat kayu pendek yang lapat- lapat menyebarkan bau busuk menyengat hidung. puluhan ekor lalat terbang mengerumuni buntelan busuk yang terlihat bernoda darah itu. yang paling mengejutkan muka nenek itu belang- belang seperti bekas siraman air mendidih. mata kirinya tinggal rongga hitam. nenek tua ini picak sebelah.
''Iblis Picak Buntelan Kuning.!'' seru Ki Suta dengan suara tercekat karena kemunculan salah satu pentolan golongan hitam yang sangat ditakuti di dunia persilatan.
Dia sempat bingung kenapa nenek jahat berilmu tinggi ini bisa muncul di gubuknya. tapi cepat orang tua akhirnya teringat sesuatu. ''Resi Bajul Getih yang kutolong sempat bercerita kalau nenek inilah yang telah melukainya. Aah., jangan- jangan dia..''
Dengan matanya yang tinggal sebelah kanan, si nenek berjuluk Iblis Picak Buntelan Kuning itu edarkan pandangannya ke sekeliling ruangan gubuk. ''Baguslah kalau dirimu mengenaliku., apakah kau bernama Ki Suta, orang yang telah menolong seorang bangsat bergelar Resi Bajul Getih., kalau memang benar cepat serahkan padaku lembaran kulit berisi petunjuk 'Rahasia Ramuan Obat Peningkat Tenaga Dan Panca Indera' yang telah dia berikan padamu.!''
__ADS_1