Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Orang Itu.! (bag3)


__ADS_3

Untuk sesaat kedua pemuda itu saling diam seolah sedang menilai isi hati dari lawannya masing- masing. "Apa yang sekarang engkau pikirkan 'Siulan Kematian'. Aah., kalau boleh kutebak, mungkin sekarang ini otakmu sedang berpikir keras untuk mengira- ngira siapa yang aku maksudkan dengan jiwa dari 'Orang Itu..''


''Tapi mungkin juga dengan kepribadianmu yang mudah curiga, bisa jadi kau merasakan keraguan apakah segala yang kukatakan padamu adalah benar ataukah hanya isapan jempol kebohongan belaka. semuanya kini terserah kepadamu. jika kau suka bisa turut ke pulau 'Seribu Bisa'. namun kalau merasa itu tidak ada gunanya, anggap saja semuanya cuma angin lalu..''


''Hehm., pagi hari telah tiba. semua yang ingin kukatakan padamu juga telah tersampaikan. aku rasa sudah saatnya bagiku untuk pergi dari tempat yang membosankan ini..'' sambil menguap, tanpa menunggu apapun sang tuan muda pemalas dari 'Kota Hantu Pagi' inipun beranjak pergi menuju kereta kudanya yang besar dan mewah.


Gadis manis bernama 'Pipit Lincah' dengan cekatan dan gerakannya yang menakjubkan cepat meringkas peralatan memasak juga kursi malas tuan mudanya. bahkan sebelum pemuda itu sampai di pintu kereta kuda, semua barang itu telah berpindah ke dalam kereta. kejadian ini tidak terlepas dari mata Pranacitra. dalam hatinya dia cukup terkejut karena kecepatan gerakan gadis belasan tahun itu sudah dapat disejajarkan dengan para pesilat kawakan yang terkenal ahli dalam ilmu meringankan tubuh.


''Tuan muda., hamba punya satu permohonan yang agak kurang pantas, tapi jika tidak aku sampaikan sekarang, diriku khawatir tidak akan ada lagi kesempatan..'' ujar lelaki kekar berbaju kelabu yang menjadi kusir kereta kuda. ''Aah., saya juga punya keinginan yang mungkin sama dengan sobat kusir kuda ini. harap tuan muda mengijinkannya.'' sahut Nyi Gagak Kemuning sembari menjura hormat. "


Tuan muda pemalas tidak menjawab apapun. dia hanya melirik Pranacitra yang berdiri di belakangnya. ''Kedua orangku yang bodoh dan tidak tahu diri ini ingin meminta sedikit pelajaran darimu. kuharap kau jangan terlalu keras..'' pesannya. di iringi si jelita 'Camar Anggun' keduanyapun menyusul Pipit Lincah masuk ke dalam kereta kuda.


Pranacitra cuma bisa menghela nafas. saat itu Nyi Gagak Kemuning dan si kusir kuda yang mempunyai sebutan 'Begal Rawit Bolot' sudah berdiri beberapa langkah dihadapan pemuda itu. sekilas dari balik caping bambu yang menutupi wajahnya masih terlihat satu goresan bekas luka yang melintang dari pipi, dagu hingga turun ke lehernya, maka tidak mengherankan jika suara lelaki tambun kekar itu agak sember dan parau menyeramkan.


Lelaki yang konon adalah bekas kepala dari salah satu gerombolan rampok di alas Roban itu lebih dulu sentak- sentakkan lehernya hingga terdengar suara seperti tulang patah, sebelum kemudian menjura hormat. Nyi Gagak Kemuning juga berbuat yang sama. ''Perkenalkan., aku dipanggil sebagai Begal Rawit Bolot sedangkan dia bernama Nyi Gagak Kemuning. kami adalah dua orang pengikut tuan majikan Kota Hantu Pagi..''


''Suatu kehormatan jika kami dari kalangan rendahan bisa menjajal kekuatan dari salah satu pesilat paling ternama dewasa ini yang di juluki sebagai 'Setan Pincang Penyendiri' atau si 'Siulan Kematian'. meskipun pastinya kami berdua bukanlah tandinganmu tapi kau juga tidak bakalan mudah menjatuhkan kami.!'' sambung Begal Rawit Bolot sekali saja mata keduanya saling melirik, tubuh mereka sudah melesat ke depan.


Hanya dua langkah saja maju ke muka, tubuh Nyi Gagak Kemuning mendadak sudah mencelat berjumpalitan di udara. dari atas ketinggian hampir tiga tombak dia cepat menghantam sasaran dengan tikaman kedua telapak tangannya yang menguncup rapat membentuk paruh burung setajam belati. angin keras di sertai cahaya kuning redup menyambar ganas.


Pada serangan pertama perempuan setengah tua yang punya ilmu mengentengi tubuh sangat tinggi itu sudah gunakan jurus 'Sepasang Paruh Sakti Gagak Kuning'. seperti nama ilmunya, kehebatan jurus milik Nyi Gagak Kemuning itu tidak ubahnya paruh burung gagak yang terbuat dari besi kuning. konon kekuatannya mampu menjebol batu padas dalam sekali hantam.


Berbeda dengan rekannya yang menyerang dari atas dengan andalkan ilmu ringan tubuh, Begal Rawit Bolot justru langsung menyerbu dengan sebuah golok besar berujung rata yang entah sejak kapan berada ditangannya. dari awal serangan dapat ditebak kalau orang ini lebih mengandalkan kekuatan otot dan tenaga dalamnya.


Sambil meraung laksana binatang buas, bekas pentolan rampok itu bacokan goloknya miring dari kiri ke kanan bawah tapi ditengah jalan justru berubah menikam deras hendak menjebol perut dan dada Pranacitra. jejak langkahnyapun terlihat acak tidak beraturan. sepintas lalu jurus goloknya nampak ngawur, kasar dan banyak celahnya.

__ADS_1


Tapi hebatnya meskipun hanya sekali serangan saja yang terlihat mata tetapi Pranacitra malah merasakan ada sepuluh buah bacokan, sabetan dan tikaman golok dari berbagai penjuru arah. mungkin karena menyadari siapa lawannya, Begal Rawit Bolot juga sengaja mengeluarkan ilmu terhebatnya yang di namai jurus 'Golok Lawang Sedasa.!'


Seperti namanya golok Lawang Sedasa yang bisa di artikan sebagai ilmu golok 'Sepuluh Pintu' ini mampu membuat sepuluh buah serangan sekaligus dalam satu gerakan jurus saja. maka dapat di bayangkan tingkat kehebatan ilmu golok bekas kepala rampok itu. terakhir kalinya Begal Rawit Bolot menggunakan jurus terkuatnya ini empat tahun silam saat dia dikeroyok tiga orang pentolan rampok lain yang juga bersarang di hutan Roban akibat persaingan.


Meskipun saat itu dia di gempur habis oleh tiga orang musuhnya, lelaki bertubuh tambun kekar ini juga belum tentu kalah. sayangnya ada beberapa orang anak buahnya yang telah berkhianat hingga Begal Rawit Bolot akhirnya tumbang. orang ini tidak langsung di bunuh melainkan mesti mendapatkan siksaan keji. para bawahannya yang masih setia turut pula menjadi korban.


Orang ini pasti mampus jika saja tidak muncul si Camar Anggun dan Pipit Lincah yang pada waktu itu masih berumur empat atau lima belas tahunan. namun jangan dikira usianya begitu muda, kehebatan ilmu silat mereka berdua sungguh di luar nalar. dengan berbekal sebilah pedang pendek dan cambuk ular putih sebagai senjatanya, dengan sangat kejam gadis cantik bernama Camar Anggun ini membantai lawan- lawannya tanpa ampun.


Seakan tidak mau kalah, gadis centil bernama Pipit Lincah menyerang semua musuh yang hendak kabur dengan serbuan bermacam senjata rahasianya. gadis yang mahir ilmu ringan tubuh itu menggunakan berbagai alat pelontar juga bola- bola peledak dari jarak jauh. dengan memanfaatkan kelebatan hutan dia dengan lincah dapat menyusup ke segala penjuru lalu menyerang dari berbagai arah.


Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ketiga golongan kawanan rampok itu musnah di dalam hutan yang terbakar. singkatnya kedua gadis cantik jelita ini telah mendapatkan perintah dari tuan muda Kota Hantu Pagi untuk menyelamatkan Begal Rawit Bolot. pemuda pemalas yang aneh ini memang sedang mengumpulkan banyak kekuatan hebat dalam wilayah kekuasaannya.


Entah apa yang hendak di perbuat si tuan muda pemalas dengan semua kekuatan yang konon berjumlah ratusan orang pesilat itu. maka tidaklah mengherankan jika selain terhadap majikannya, Begal Rawit Bolot juga sangat menghormati nona Camar Anggun dan nona Pipit Lincah yang pernah menyelamatkan jiwanya.


Pranacitra yang diserang dengan begitu hebat dari atas dan bawah tidak menjadi gusar. dia malah merasa tertantang untuk menguji seberapa kuat dirinya setelah keluar dari 'Lembah Seribu Racun'. tongkat besi hitam kepala tengkorak di tancapkan ke tanah. arus tenaga kesaktian berputar bagai perisai yang mengelilingi tubuh pemuda itu.


'Whuuuutt., wheeeett., whuuuk.!'


'Shaaatt., sraaaat., sheeet.!'


'Blaaaaang., braaakk.!'


'Claaaaang., claaang., klaaaang.!'


Di luar dugaan, dua jurus serangan yang satu datang dari atas dengan andalkan ilmu ringan tubuh dan gerakan cepat, serta seorang lagi dengan gunakan kekuatan otot dan tenaga dalam untuk menggebrak itu seolah tidak mampu menembus lapisan tenaga sakti yang melindungi tubuh Pranacitra seperti tameng gaib tanpa wujud. ''Uugh., edan.!'' keluh Nyi Gagak Kemuning. ''Aakh., sialan. aku tidak percaya kalau dia begitu kuat.!'' rutuk Begal Rawit Bolot.

__ADS_1


Suara benda keras dan tajam beradu dengan lapisan dinding baja yang tidak kasat mata terdengar sampai puluhan kali. pijaran bunga api semburat bersama debu pasir yang berterbangan. walaupun kedua orang ini sama terperanjat tapi mereka tidak mau menyerah. dengan lipat gandakan serangan keduanya kembali menggempur Pranacitra.!


Sepasang mata terpejam itu kini terbuka. pandangannya yang dingin tanpa menyiratkan suatu perasaan apapun ini seolah sanggup membekukan hati siapapun. kedua tangan yang menggenggam gagang tongkat sekilas terlihat bergetaran. rongga mata pada kepala tengkorak membersitkan kilatan cahaya merah darah.


Saat berikutnya tongkat besi hitam Pranacitra menghentak tanah. bumi terasa berguncang keras. tanah bebatuan rengkah dan terbelah. rumput belukar juga pepohonan berderak patah tersapu berserabutan, terhempas satu kekuatan sakti hingga hangus lenyap tanpa sisa. kedua orang bawahan tuan muda pemalas menjerit keras. tubuh keduanya terlempar di udara hingga lima tombak jauhnya.!


Pranacitra tertegun. dia sebenarnya sudah banyak mengurangi kekuatan saktinya dalam serangan itu. namun di luar dugaan ternyata masih mampu menghantam kedua lawannya hingga sedemikian rupa. bersamaan dengan terlemparnya tubuh kedua lawannya, dari dalam kereta kuda hitam yang berpadu dengan warna kuning emas terdengar suara mendengus yang di susul dengan berkelebatnya sesosok bayangan putih.


Gerakan orang ini jauh lebih cepat dari lemparan tubuh kedua anak buahnya hingga mampu lebih dulu menjejakkan kakinya ke tanah. sambil membalikkan badan kedua telapak tangannya berputar membentuk lingkaran. sebentuk bulatan kabut berawan putih keperakan muncul, seolah gumpalan kasur empuk yang mampu menahan lontaran tubuh Nyi Gagak Kemuning dan Begal Rawit Bolot hingga raga mereka tidak sampai terhempas keras ke tanah, melainkan turun dengan perlahan.


''Aaish., meskipun kedua orangku ini tolol dan tidak tahu diri tapi apakah kau tidak merasa kalau kekuatanmu untuk menghantam balas mereka rada sedikit keterlaluan.?'' sindir tuan muda pemalas pada si pincang Pranacitra yang hanya bisa menghela nafas. dengan terseok dia melangkah mendekat. sampai di sana tanpa bicara apapun ujung tongkatnya sudah menotok beberapa jalan darah di tubuh kedua orang lawannya.


Gulungan sinar dan kabut kebiruan berhawa dingin sejuk terpancar dari kekuatan batu sakti 'Nirmala Biru' mengalir ke tongkat besi hingga tersalur menyelimuti tubuh keduanya. mulut mereka keluarkan suara keluhan tertahan sebelum terjingkat dan jatuh lemas. meskipun belum sadarkan diri tetapi dari tarikan nafas mereka yang teratur jelas luka dalamnya telah sembuh.


''Sejujurnya aku sudah berusaha mengurangi tenaga kesaktianku namun sayangnya masih saja terlalu kuat. untungnya mereka bukan pesilat rendahan yang lemah hingga lukanya tidak terlampau parah atau tewas. aku jadi penasaran, bagaimana caranya kau sampai dapat mengumpulkan orang- orang semacam mereka bahkan membuatnya tunduk luar dalam padamu.?'' tanya Pranacitra setengah bergumam.


''Eehm., kalau kau tanya soal itu akupun tidak tahu jawabannya karena mereka sendirilah yang bersedia mengikutiku. meskipun ada juga beberapa orang bawahanku yang aku ikat melalui suatu perjanjian. tapi bisa jadi., salah satu sebab mereka mau mengikuti diriku karena aku adalah seorang tuan muda yang tampan, berwibawa, wangi, kaya raya serta berkuasa. romantis, pintar, baik hati dan tidak sombong. Hee., he..''


Jawaban ngawur majikan Kota Hantu Pagi itu seketika membuat Pranacitra geram. dia merasa menyesal telah menanyakan sesuatu pada pemuda seangkatannya itu. ''Percuma saja bicara denganmu. soal tawaran darimu akan kita lihat saja ke depannya seperti apa. lagi pula., sebelum datang ke pulau 'Seribu Bisa' gerombolan 13 Pembunuh itu mesti harus bertarung duluan di suatu lembah melawan orang- orang 'Istana Angsa Emas..''


Gema suara si pincang masih terdengar tapi tubuh si pemilik suara telah berjalan jauh ke arah timur. seiring dengan itu Nyi Gagak Kemuning dan Begal Rawit Bolot juga sudah sadar dari pingsannya. ''Apa kalian masih ingin menjajal kesaktian si 'Iblis Pincang Kesepian.?'' tanya si pemalas menyindir anak buahnya yang cuma bisa nyengir dan menunduk malu.


''Huhm., nyaris saja kalian berdua menjajal kesaktian di akhirat sana..'' dengusnya kesal. ''Secepatnya kita kembali ke 'Kota Hantu Pagi' dan kau tetap mencari berita di luaran sana..'' perintahnya pada kedua anak buahnya sambil berkelebat masuk ke dalam kereta kuda disusul oleh Begal Rawit Bolot. sementara Nyi Gagak Kemuning lebih dulu lenyap ke satu jurusan. sepertinya perempuan ini sengaja di berikan tugas untuk menjadi mata- mata dan mencari berita apapun yang dianggap penting di dunia luar.


Kereta yang dikemudikan Begal Rawit Bolot sudah melaju kencang ke arah barat. di dalam kereta tuan muda pemalas terbaring santai setengah tertidur. ''Eeh., tuan muda, kenapa kita tidak ikut pergi ke lembah sunyi seperti yang dikatakan pemuda pincang itu.?'' tanya Pipit Lincah. yang menjawab justru Camar Anggun. ''Karena itu hanya akan sia- sia saja. andainya sekalipun ketua 13 Pembunuh turut hadir dalam pertarungan itu, tapi barang yang tuan muda incar pasti tidak ikut berada dalam dirinya..''

__ADS_1


......................


Kami author novel Pendekar Tanpa Kawan dan 13 Pembunuh mengucapkan., 'Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 78'๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ ๐Ÿ‘NKRI๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Harga Mati๐Ÿ’ช.! ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ—ฃ๏ธ..Merdeka.!' ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™. Tuliskan komentar Anda yah., Terima kasih๐Ÿ‘.


__ADS_2