
Tanpa terasa sudah lewat tengah hari. langit yang tadinya cerah kini menjadi mendung bahkan mentari juga tidak lagi terlihat karena tertutupi awan kelabu. Pranacitra menatap jauh ke samudra luas yang berada dibawah sana. angin semakin kencang mengiringi gulungan ombak laut yang bergejolak.
Suara keras yang menderu seakan menandai dimulainya amukan alam. langit semakin gelap karena awan hitam yang turut menebal. gemuruh guntur kilat mulai turut bernyanyi hingga suasana terasa semakin mencekam hati. diawali sambaran halilintar yang membelah langit hujanpun mulai turun menyiram bumi.
Walaupun belum begitu deras namun air hujan yang jatuh sudah mampu membasahi baju putih ketiga bekas murid perguruan Pasir Selatan. anehnya biarpun sudah basah kuyup tapi mereka tetap berdiri tegak tanpa berniat beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Jangankan mereka bertiga, bahkan tokoh silat kawakan 'Datuk Janggut Biru' juga tetap berdiri di tengah curahan hujan. entah kenapa saat melihat pemuda pincang yang berada didepan sana tidak bergerak, mereka juga merasa enggan untuk pergi. seakan pemuda itu telah mempunyai daya pengaruh yang kuat dalam jiwa mereka.
''Hujan deras dan hembusan angin kencang bisa membawa pengaruh buruk bagi tubuh manusia. kenapa kalian tidak pergi untuk mencari tempat berteduh.?'' tanpa menoleh pemuda itu menegur. suaranya terdengar datar tapi mampu menembus gemuruh hujan.
Danur Jayapadri saling pandang dengan kedua kawannya, namun mereka cuma diam tanpa tahu mesti bicara apa. ''Kau sendiri kenapa masih tetap berdiri pada tempatmu sementara hujan turun semakin lebat.?'' Datuk Janggut Biru justru yang balik bertanya. dia sendiri sebenarnya heran kenapa mesti berbuat demikian.
''Hehm., menjawab pertanyaan dengan balik bertanya adalah cara paling mudah untuk menghindari masalah. tapi jika mau jujur., sebenarnya diriku sedang berpikir hendak kuapakan dua buah peti penuh berisi emas dan batu mulia hasil dari tambang terkutuk itu. lalu apa yang mesti aku perbuat agar kalian dapat terhindar dari kecurigaan partai Gapura Iblis.?''
''Biarpun kami bertiga memang cuma kaum pesilat rendahan yang tidak berarti namun bukan bangsa penakut dan cepat lupa budi..'' sahut Wetonan busungkan dadanya. ''Lagi pula ini cuma air hujan belaka., nyawa kami adalah milikmu, jika tidak ada perintah darimu bagaimana mungkin kami dapat pergi.!'' timpal Linggo setengah berteriak.
Pranacitra perlahan palingkan kepalanya. dari balik guyuran air hujan selintas terlihat kilatan tajam yang menyeramkan dikedua matanya. ''Kecuali terlibat masalah dendam kesumat, tidak ada seorangpun didunia ini yang punya hak atas nyawa dan hidup orang lain. jadi., jangan pernah ucapkan kata- kata seperti itu lagi dihadapanku., kalian paham.!''
__ADS_1
Ketiga pemuda itu langsung merinding dan mengangguk tanpa berani bersuara lagi. Pranacitra menarik nafas panjang pejamkan mata. curah air hujan yang dingin menyapu seluruh wajah dan tubuhnya. saat berikutnya dia berkata. ''Satu hal yang mesti kalian ingat, sepahit dan seberat apapun kehidupanmu, selama kalian yakin masih berpijak pada jalan kebenaran. jangan pernah menyerah pada apapun juga..''
''Hitam maupun putih, emas dan perak, merah kuning, hijau atau biru hanyalah warna topeng yang dibuat manusia. karena sebenarnya segala kehidupan didunia ini hanyalah., abu- abu. berjuta kata manis dapat terucap tapi dalamnya hati manusia., tetap tidak ada seorangpun yang tahu..'' ujar si pincang seolah sedang bersenandung. bukan saja ketiga pemuda itu yang tertegun, Datuk Janggut Biru juga terdiam mendengarnya.
Suasana menjadi hening seiring hujan yang mulai reda, mereka seolah sedang meresapi ucapan si pincang yang sekilas terdengar ngawur tanpa ada ujung pangkalnya. ''Sudah kuputuskan., sekarang segera ganti pakaian dan penampilan kalian bertiga agar tidak ada yang mengenalinya. bagikan sebagian harta dalam peti itu pada orang yang membutuhkan secara diam-diam..''
''Selanjutnya kalian bawa sisa harta dalam kedua peti ini pada seorang kenalanku yang berada didaerah Jepara bernama Nyi Rondo Kuning. dia seorang wanita cantik yang punya rumah makan besar dan tempat penginapan terkenal bernama 'Lawang Wangi'. sampaikan pesanku padanya..'' sambil memberi isyarat untuk mendekat Pranacitra memberikan perintah pada tiga bekas murid perguruan silat Pasir Selatan itu.
Setelah menyampaikan segalanya Pranacitra berbalik menatap Datuk Janggut Biru. ''Tiga orang pemuda ini meski bakatnya tidak begitu istimewa namun juga tidak buruk. perangai mereka baik, berjiwa jujur, pemberani serta tegas. apakah datuk., tidak tertarik dengan mereka bertiga.?''
Saat Datuk Janggut Biru masih berusaha mengerti dengan ucapan si pincang, Wetonan dan kedua rekannya sudah berlutut didepan pesilat tua dari tanah Palembang itu. ''Kami bertiga memohon agar kiranya Datuk Janggut Biru berkenan menerima kami sebagai murid. terimalah hormat kami., Guru.!''
''Kami siap berlatih keras dan tidak akan mengecewakan guru.!'' sahut mereka bertiga serempak sambil bersujud. meski geram tapi Pranacitra masih dapat melihat seulas senyuman senang dibibir peot orang tua itu. ''Dasar orang tua kolot., lain diluar beda pula hatinya. tapi kurasa sedikit berlaku munafik juga tidak masalah..'' batinnya sinis.
''Anak muda., sebenarnya aku tidak punya minat untuk mengangkat murid, tapi anggap saja ini permintaan darimu agar diriku juga tidak lagi punya hutang budi. jadi yah., terpaksa kuturuti..'' ujar sang datuk seolah mengeluh sambil usap- usap janggutnya. Pranacitra cuma terkekeh pelan.
Empat orang itu sudah berlalu meninggalkan puncak bukit karang. saat hendak pergi dari sana tiga pemuda itu sempat membungkuk hormat dan menyampaikan rasa terima kasih sekali lagi pada Pranacitra. Datuk Janggut Biru tidak bicara apapun. tapi dari tatapan matanya terlihat ungkapan rasa hormat dan kagum yang mendalam pada pemuda ini.
__ADS_1
Sepeminum teh kemudian dari beberapa celah mulut goa pintu tambang diatas bukit itu terdengar suara ledakan dan gemuruh keras. Pranacitra hanya melirik sekilas kepulan debu asap yang keluar dari beberapa mulut goa yang runtuh menutup tambang. sesaat kemudian dari balik kepulan debu melesat sesosok bayangan putih yang dalam sekejap sudah hadir dibelakang si pincang.
''Harta karun kau serahkan Nyi Rondo Kuning sebagai tambahan modal menyelesaikan urusan sulit. tiga anak muda bekas murid perguruan Pasir Selatan kau serahkan pada Datuk Janggut Biru. jika nanti dirimu dalam kesulitan, orang tua itu dengan senang hati akan turun tangan. caramu membuat suatu keputusan memang tidak dapat ditandingi..''
''Pertama kau bertingkah seolah sedang berpikir keras dengan banyak pertimbangan dibawah guyuran hujan lebat, hingga orang lain merasa segan dan bersimpati dengan keadaanmu. padahal., siapa yang tahu kalau semuanya telah kau putuskan sejak sepasang jahanam ketua padepokan Pasir Selatan itu mampus diujung pedang kedua muridnya. kupikir- pikir., kau ini licik juga.!''
Seorang lelaki gagah bertubuh tinggi kekar lima puluh tahunan dengan wajah sedikit brewokan terlihat berjalan mendekat. orang ini memakai pakaian putih lengan pendek hingga terlihat otot bahunya yang besar dan memanggul sebuah tombak bermata golok berukiran kepala harimau.
''Apa kedatanganmu cuma hendak menyindir diriku saja 'Pendekar Harimau Putih.?'' tanya Pranacitra melirik si pendatang. ''Hehm., terus terang saja diriku sekarang jadi agak khawatir dengan keselamatanmu. 'Gapura Iblis' pasti akan mengerahkan para pesilat kawakannya untuk menyelidiki masalah ini. apa tidak sebaiknya., kau menyingkir dulu sejenak.?''
Pranacitra mendengus sinis. ''Tidak kusangka kau bisa mengusulkan sesuatu yang sangat menggelikan seperti itu. seperti bukan sifat dirimu saja..'' orang yang memang Pendekar Harimau Putih itu menggeram. ''Hei bocah pincang sialan, aku sedang mengkhawatirkan dirimu tahu. setidaknya bersikaplah untuk lebih menghargai perhatian orang lain.!''
Yang disemprot cuma diam. ''Huhm., meski ada ikatan kerja sama tapi tetap ada batas tertentu diantara kita. sudahlah., kurasa cukup basa- basinya. sekarang katakan urusanmu sampai turut datang kemari. apa kau tidak takut partai Gapura Iblis sampai mencurigai gerak- gerikmu.?''
''Kalau begitu maumu akupun akan bicara langsung saja. ada suatu pihak yang belum dapat kuketahui siapa dan darimana berasal, telah menghubungi perantara Gapura Iblis. sepertinya mereka ini punya sengketa dengan salah satu perguruan silat aliran putih yang berada di tanah Sunda, tepatnya dilereng barat gunung Ciremai. jika kau berminat untuk ikut bermain, waktu yang tersedia cuma seminggu. cukup pendek dengan letak yang lumayan jauh dari sini..''
Pranacitra merenung sesaat lamanya sebelum akhirnya bertanya, ''Cukup banyak padepokan silat aliran putih berada di tanah Pasundan. tapi hanya satu yang berdiri disana. apakah yang engkau maksudkan adalah perguruan silat 'Lutung Ciremai.?''
__ADS_1
*****
Silahkan tulis komentar dan like👍 jika anda suka. Trims. 🙏