
Kedua lelaki muda berbaju kain tenun warna merah itu menggerendeng marah. wajah mereka yang hitam berminyak kelihatan semakin kelam. biarpun begitu kedua orang yang berasal dari gugusan pulau kecil yang letaknya masih sangat jauh di sebelah timur pulau lombok itu tidak berani berlaku sembarangan. seorang diantaranya yang bertubuh lebih tinggi bernama Ronggawa berbisik '' Sobatku Tubahu., orang bernama yang Klowor Gombor ini kudengar punya kesaktian hebat, kudis di tangannya sangat keras juga beracun..''
''Aku juga tahu itu., tapi kita berdua juga punya kempuan hebat. semenjak berpetualang datang ke tanah Bali dan Jawa setahun silam, bahaya apa yang belum pernah kita hadapi.?''
''Lagi pula kita berdua sudah bersusah payah sampai di Tebing Kematian ini, tiga orang persilatan yang mencoba menghalangi selama perjalanan kemari juga dapat kita singkirkan. jadi apa yang perlu kita takutkan..'' ujar rekannya yang bertubuh rada pendek dan bernama Tubahu sambil mendengus memutar- mutar senjata parangnya.
''He., he., kau benar kawan. bagaimanapun juga 'Sepasang Parang Merah Kepulauan Timur' pantang dibuat sesukanya. biar orang gila kudisan ini merasakan ketajaman mata parang kita. tapi., ada baiknya aku bicara satu dua patah kata dengannya lebih dulu..'' sambil memberi isyarat rekannya orang ini melangkah setindak mendekat, sementara Tubahu bergerak ke samping kiri.
''Klowor Gombor alias si 'Gila Tangan Kudis', pembunuh nomor sebelas di kelompok 13 Pembunuh., meskipun dirimu punya nama besar tapi jangan kau pikir kami lantas takut dengan gertakanmu. apa kau belum lihat korban parang kami yang masih belum dingin mayatnya ini.!'' hardik Ronggawa sambil parangnya menunjuk sesosok mayat nenek tua berjubah berambut panjang dan bermuka kelabu. tidak jauh dari tangannya tergeletak sebuah senjata tombak besi yang pendek bermata dua berwarna hitam legam. nenek tua bermuka kelabu itu tewas mandi darah dengan luka bacokan panjang di bahu serta punggung juga babatan besar di perutnya.
Klowor Gombor terkekeh garuk- garuk kepala dan tangannya yang gatal kudisan. ''Mataku belum buta., dari ciri- ciri dan juga senjata yang dia pakai orang tua ini pastilah Nyai Kelabu atau si 'Nenek Tombak Penikam Jantung.!''
Meskipun diluarnya orang nomor sebelas dalam kelompok 13 Pembunuh itu terlihat cengar- cengir tidak perduli, tapi sebenarnya dalam hatinya agak terkejut juga melihat kematian Nyai Kelabu, karena tokoh silat dari daerah utara ini cukup punya nama dalam dunia hitam. sesuai julukannya dengan senjata tombak besi hitam si nenek sering menyasar jantung musuhnya.
''Rupanya kau tahu juga siapa dia., baguslah, mungkin dirimu bisa menyusulnya untuk menjadi teman seperjalanan ke neraka.!'' begitu ucapan rekannya berakhir, orang yang bernama Tubahu cepat menerjang ke depan dengan babatkan parang panjangnya yang berujung rata. kelebatan cahaya merah turut menyambar. sasaran awal yang di incar adalah kepala dan dada lawannya.
Rongawa juga tidak tinggal diam. sedetik saja lewat dari gerakan Tubahu, bacokkan parangnya juga menyusul dengan sasaran yang sama.!
'Whuuut., bheet., beet.!'
__ADS_1
''Haa., ha., mampuslah kau orang kudisan.!'' gelak Tubahu.
Dalam perkiraaan Ronggawa dan Tubahu, serangan parang merah mereka berdua akan mampu paling tidak membuat lawan terluka parah. awalnya mereka sengaja memisahkan diri untuk memecah perhatian dari Klowor Gombor. serangan pertama justru datang dari Tubahu yang berdiri menjauh, baru Ronggawa menyusul sedetik di belakangnya.
''Susul saja Nyai Kelabu ke akhirat.!'' teriak Rongawa bengis. agak berbeda dengan jurus rekannya yang lebih sering membacok dari atas ke bawah, gerakan parang Tubahu sebaliknya hampir selalu membabat dari samping kiri kanan tubuh lawan.
Jangan dilihat cuma gerakan membacok dan membabat yang kasar tanpa perhitungan, karena dalam serangan parang merah kedua orang ini tersimpan tenaga penghancur yang mengejutkan. awalnya memang tidak terasa, tapi saat di pertengahan jurus mendadak tersembur belasan cahaya angin tajam yang menyambar hingga mampu membuat baju gombrong si Gila Tangan Kudis robek- robek, juga kulitnya luka tersayat- sayat.!
Klowor Gombor malah terkekeh., kedua tangannya yang kekar dan penuh koreng bisul kudisan bergerak menghantam sekaligus menyapu menembus pusaran serangan parang musuhnya. orang gila ini seakan tidak khawatir tangannya bakalan putus terpotong.
'Whuuuk., Traaang.!'
Dua parang bersinar merah dan sepasang lengan penuh bisul kudis saling hantam bacok, menyapu juga membabat dengan kecepatan luar biasa hingga hampir sepuluh jurus. pada akhir bentrokan terlihat banyak percikan darah dan sayatan daging yang berbau busuk bermuncratan.
Si 'Gila Tangan Kudis' mengeluh tertahan. sambil hantamkan dua kali pukulan tangan kosong yang mengandung hawa panas bertenaga dalam tinggi, tubuhnya cepat berjumpalitan ke belakang. sementara itu 'Sepasang Parang Merah Kepulauan Timur' juga bergerak menyingkir dari pukulan maut lawannya.
Sembari lintangkan parang merah di depan dadanya kedua lelaki berambut keriting itu tertawa bergelak, saat bicara dan membuka suara, nadanya terdengar agak tinggi cepat dan sedikit melengking.
''Haa., ha., rupanya Klowor Gombor si Gila Tangan Kudis cuma sebuah nama kosong.!''
__ADS_1
''Huhm., sepasang tangan kudisan yang penuh racun dan sekeras besi., mulut orang rimba persilatan benar- benar pembual.!'' Tubahu dan Ronggawa terbahak mengejek orang yang berdiri sepuluh langkah di depannya.
Di sana Klowor Gombor berdiri diam, tingkah gilanya mendadak hilang berganti rasa ngeri dan bingung. manusia ini seperti berubah jadi orang tolol. sepasang lengan besarnya yang penuh dengan bisul kudis terlihat penuh darah bercampur nanah busuk. beberapa sampai membuat daging dan bisul kudisnya terpotong.
''Sebentar lagi kelompok 13 Pembunuh harus mencari pengganti nomor sebelas., bisa jadi kita berdua yang akan menggantikannya..''
''Asalkan imbalannya besar., aku juga tidak merasa keberatan., Ha., ha.!'' kembali dua orang itu menghina si Gila Tangan Kudis.
Orang berbaju gombrong dekil dan kudisan yang rambutnya terpotong panjang sebelah antara kiri dan kanan itu tiba- tiba menyengir. mulutnya terkekeh kecil lalu mendongak dan menyemburkan gelak tawa keras yang mengguncangkan seantero tempat itu, sekaligus menyapu lenyap tawa Sepasang Parang Merah Kepulauan Timur.!
''Haa., ha., ha., mengantikanku si nomor sebelas dalam kelompok 13 Pembunuh., hehm., kalau mau berkhayal janganlah terlalu tinggi, nanti kalian bisa jadi gila sepertiku..'' ujar Klowor Gombor sambil kelingkingnya mengorek- korek hidungnya yang kotor dan ingusan.
Kedua orang lawannya terkesiap kaget, bukan saja karena sikap Klowor Gombor yang kembali cengar- cengir seperti orang bodoh dan kurang waras, tapi lebih dari itu. entah sejak kapan sepasang lengannya yang terluka berdarah penuh bisul nanah busuk sudah kembali seperti semula, utuh tanpa luka sedikitpun, bahkan bekas sepercik darahpun juga tidak ada. demikian juga puluhan luka sabetan parang di bagian tubuh yang lain. semuanya kering menutup meskipun masih ada bekasnya. tentu juga bajunya yang tetap bernoda berdarah.
''Kalian tidak perlu banyak pikir., nanti setelah ketemu Nyai Kelabu si 'Nenek Ganco Penggaet Jantung' di neraka, kalian bisa coba tanya masalah ini, siapa tahu dia bisa menjawabnya. ha., ha.!''
Gelak tawa Klowor Gombor terus terdengar bercampur teriakan penuh rasa sakit dari mulut Sepasang Parang Merah Kepulauan Timur. kedua orang ini lemparkan senjatanya lalu menggaruk kedua tangannya yang gatal hingga terluka, luka itu cepat sekali membusuk dan bernanah. berikutnya timbul puluhan bisul kudis di hampir sekujur tubuh mereka. rasa teramat gatal dan perih membuat mereka terus menggaruk hingga luka bernanah busuk semakin menyebar.
Di iringi suara teriakan parau yang menyayat hati, tubuh kedua orang itu terkapar mati dengan penuh luka bisul bernanah busuk. rupanya Klowor Gombor sengaja membuat kedua lengan kudisnya terluka oleh parang musuhnya agar dapat menularkan racun ganas ke tubuh lawan melalui cipratan kudis darahnya.!
__ADS_1
Dari balik lebatnya pepohonan, Pranacitra tidak dapat bertahan lagi untuk muntah. hawa busuk dan pemandangan kematian yang baru terjadi di depannya membuat pemuda ini sadar, seorang pembunuh gila memang punya cara tersendiri yang kadang di luar nalar untuk dapat menghabisi nyawa korbannya.