
Pemuda pincang itu hanya berdiri diam seakan tidak melihat ada empat bilah pedang tajam yang siap mengancam. mata di balik caping terus menatap patung burung merak berwarna merah kekuningan dan tulisan 'Perkumpulan Silat Merak Api' yang berada di atas gapura pintu masuk.
Empat orang penjaga pintu berbaju merah seketika naik pitam karena merasa di remehkan. belum sempat mereka menyerbu, orang pincang ini mendadak sudah bicara, ''Sampaikan pada ketuamu., ada utusan dari bekas teman lamanya yang hendak menagih urusan hutang lama..''
Yang dia ucapkan hanya dua baris kalimat berisi pesan yang terdengar datar namun seakan penuh dengan tekanan, membuat keempat orang penjaga itu tertegun sesaat.
''Aa., apa maksud ucapanmu. memangnya siapa kau sampai mulutmu berani berkoar sembarangan..'' gertak penjaga yang paling tinggi agak tergagap. walau bagaimanapun kehadiran si pincang ini cukup mengejutkan.
''Kau pikir tempat ini tempat apa., hingga bisa di kotori gelandangan busuk sepertimu. potong sebelah telingamu lalu enyahlah dari sini.!'' seru yang lain ikut membentak.
Dengan ujung gagang tongkat besinya yang dibuntal secarik kain hitam, orang pincang itu mengangkat bagian depan caping pandan yang menutupi wajahnya. kini terlihatlah tampang si pincang. orangnya benar masih sangat muda, mungkin baru dua puluhan tahun. meskipun tampan namun pucat seperti orang penyakitan. secarik kain batik lurik mengikat kening dan rambutnya yang hitam gondrong.
Yang terasa aneh sekaligus membawa suatu perasaan seram di hati para penjaga itu adalah sepasang mata si pemuda pincang. sorot matanya sangat dingin tanpa ada suatu perasaan apapun. seakan pandangan mata sesosok mayat.!
''Aku tahu tempat ini., di sinilah markas perkumpulan silat 'Merak Api' yang berdiri sejak lima tahun silam. ketua sekaligus pendiri perkumpulan ini adalah 'Nyai Merak Sinden' yang di juluki 'Dewi Merak Merah..''
''Ketua kalian ini sebenarnya sudah berumur lebih enam puluhan tahun. tapi karena dia berhasil meyakinkan sebuah ilmu awet muda, orang lain akan mengira usianya belum mencapai empat puluhan. kalau tidak salah dia juga punya seorang wakil yang menjadi kekasih sekaligus budaknya.!''
Mata pemuda pucat ini sekilas melirik tajam keempat penjaga itu. ''Apakah jawabanku masih ada yang kurang.?''
Mendengar ucapan si pemuda pincang para penjaga itu langsung tersentak kaget. selama ini Merak Api selalu menjaga segala kerahasiaannya dari dunia luar. tetapi orang di depan mereka bukan saja mengetahui semuanya, bahkan berani mengatakan wakil ketua perkumpulan Merak Api sebagai budak sang ketua. ''Kurang ajar., rupanya kau benar- benar ingin mampus.!''
''Kita cincang saja bedebah pincang ini sekarang juga.!'' bentak mereka kalap. empat pedang yang sudah sedari tadi terhunus langsung menyambar. dua menikam dari kiri, yang lainnya membabat dari kanan. dari angin tajam yang mendahului serangan dapat di ketahui kalau serangan ini bukan saja cukup berisi, namun juga mengandung jurus gerak tipuan yang mematikan.
Saat empat pedang menyambar ganas, tubuh si pincang tetap berada di tempatnya. tongkat besi hitam di angkat sejajar dada lantas di putar membabat kiri kanan. cahaya hitam pekat berkelebatan lewat di depan mata para penjaga itu bagaikan sosok siluman hitam yang gentayangan.
Benturan sejata terdengar nyaring. dua pedang terpental patah namun pemiliknya hanya tersurut mundur dengan kulit telapak tangan luka dan kesemutan hingga lengan. dua orang lainnya masih mampu mempertahankan pedangnya, tapi tubuh mereka terjungkal roboh muntah darah. tulang dadanya retak setelah di hajar gagang tongkat si pincang.
__ADS_1
Empat pedang itu jelas tinggal sejengkal saja dari sasarannya. saat itu lawan juga belum bergerak. tapi entah bagaimana caranya pemuda pincang ini dapat lolos dari ancaman pedang sekaligus menghantam balik mereka. di saat para penjaga itu tertegun menahan rasa heran dan ngerinya, tubuh pemuda itu sudah berpindah ke depan pintu. berikutnya terdengar suara berderak dan ledakan keras.
Pintu gerbang besar berwarna merah yang berada di sana hancur berkeping- keping setelah di hantam kepalan tangan kanan si pucat pincang. pintu itu terbuat dari kayu jati merah yang sangat keras dan langka dengan ketebalan tiga ruas jari, tapi dapat di buat hancur berantakan dalam sekali pukulan.!
Suara keributan yang terjadi di luar membuat suasana berubah menjadi kacau. berpuluh anggota perkumpulan silat 'Merak Api' serentak menuju ke depan. tapi di tengah pelataran luas yang ada di dalam markas mereka telah berdiri seorang pemuda berbaju gelap dengan sebatang tongkat besi hitam tergenggam di tangannya.
''Manusia pincang itulah yang membuat kekacauan di tempat kita. dia bukan saja sudah menjebol pintu gerbang dan melukai kami berempat, tapi juga berani memaki yang mulia ketua dan wakil ketua kita.!'' seru salah satu penjaga di luar sambil menolong rekannya yang pingsan. karuan semua orang menjadi gempar. anggota Merak Api masih terus berdatangan hingga si pincang jadi terkepung di tengah ratusan orang.
Dengan tatapan mata beringas dan pedang di tangan, semua orang yang berada di sana sama memelototi pemuda itu. biarpun dalam hatinya timbul rasa tidak percaya jika orang di depan mereka inilah yang telah membuat keributan, tapi pintu gerbang besar yang hancur dan kawannya yang terjungkal roboh menjadi bukti yang tidak terbantahkan lagi.
''Bocah pincang keparat., cepat katakan siapa dirimu sebelum kuperintahkan semua orang di sini untuk merajang tubuhmu.!'' bentak seorang tinggi besar berjubah merah yang juga berikat kepala kain kuning seperti lainnya. meskipun terlihat garang dan sudah berumur namun orang ini terlihat gagah juga. sebuah lukisan burung merak dan kobaran api terlihat di dada kiri jubah merahnya. dari sini dapat di ketahui dia punya kedudukan tinggi dalam perkumpulan silat Merak Api.
Pemuda itu lepaskan caping daun pandan yang menutupi kepalanya. semua orang rada terkesima karena tidak mengira lawan masih begini muda dan terlihat lemah berpenyakit. hanya di balik semua kelemahan itu, seakan tersirat sesuatu yang menakutkan hati.
''Melihat lagak dan penampilan luarmu yang berlainan, kau ini pastilah Ki 'Tugu Karang' yang jadi wakil ketua perkumpulan silat Merak Api dan juga budak pemuas hasrat Nyai Merak Sinden., si Dewi Merak Merah..''
Ucapan pemuda pincang ini seketika membuat orang bernama Ki Tugu Karang menggeram, mukanya merah padam. disana terdengar beberapa orang berseru tertahan seakan tersedak nafasnya.
Pemuda itu berhenti bicara. matanya yang dingin menatap Ki Tugu Karang seolah sedang melihat seonggok sampah busuk. wakil ketua ini merasa merinding sekaligus terhina. dengan membentak dia hantamkan dua buah kepalan tangannya yang besar ke depan. dua buah pusaran angin keras melabrak tubuh si pincang. inilah ilmu pukulan 'Dua Kepalan Pelebur Batu Karang' yang menjadi andalannya. bersamaan itu dia juga perintahkan seluruh anak buahnya untuk menyerang.
''Bunuh dan cincang habis bocah keparat ini.!'' dalam keadaan lain Ki Tugu Karang tidak bakal mau turun tangan sendiri selama anak buahnya dapat mengatasi. tapi sekarang bukan saja dia yang mendahului melabrak lawan, malah anggota Merak Api juga turut di perintahkan menyerbu.
Perasaan di permalukan seorang pemuda pincang membuat orang ini kalap, hingga ingin melihat lawannya mati tidak berbentuk. dua pusaran angin pukulan sakti yang sanggup meremukkan sebongkah batu karang yang di susul serbuan berpuluh mata pedang, seakan sudah menjamin tubuh si pincang bakal hancur lebur.
Suara dentuman keras yang di barengi puluhan kali benturan senjata tajam itu seakan hanya terdengar beberapa kali saja dan berlangsung cuma dalam dua atau tiga kejapan mata. berpuluh kilatan cahaya hitam yang menjebol kurungan pedang di iringi ledakan suara petir, juga bayangan sinar kuning emas yang menggebrak balik pukulan sakti Ki Tugu Karang seakan sebuah mimpi buruk bagi anggota perkumpulan silat Merak Api.
Patahan bilah pedang berhamburan, jeritan kesakitan yang di barengi terjungkalnya tubuh para pengurung. bunyi tulang yang patah dan darah yang tersembur dari mulut luka membuat suasana sekejap berubah mencekam.
__ADS_1
Ki Tugu Karang meraung gusar bercampur kengerian, dia tidak sempat perdulikan lagi puluhan anak buahnya yang terkapar roboh. sinar kuning keemasan dari pukulan sakti lawan bukan saja memusnahkan ilmu 'Dua Kepalan Pelebur Batu Karang' yang dia lepaskan, tapi terus merangsek ganas ke arahnya.!
''Aakh, Setan jahanam.!'' Ki Tugu Karang menyumpah ketakutan. sebisanya kembali dia lepaskan jurus 'Dua Kepalan Pelebur Batu Karang' hingga tiga kali sambil terus melompat mundur, sampai tenaga dalamnya nyaris terkuras habis. barulah pukulan sakti si pincang dapat dia patahkan. itupun dadanya terasa sesak akibat benturan ilmu kesaktian.
Baru saja dia jejakkan kakinya selarik cahaya hitam pekat sudah kembali menyambarnya. manusia tinggi besar ini cabut golok besar bersinar kemerahan dari punggungnya. dia berusaha menangkis sambaran sinar tongkat hitam si pincang. hingga beberapa jurus dia mampu bertahan bahkan sanggup balas menyerang.
Sekali gebrak Ki Tugu Karang mampu kirimkan tiga tikaman dan empat bacokan golok. cahaya merah membara berkelebatan. jurus golok yang dia mainkan tidak kepalang tanggung karena inilah jurus yang dinamai 'Iblis Merah Menjagal Barisan Karang.!'
'Whuuut., bheet., bhet.!'
'Sraaat., traaang., craang.!'
''Rencahlah tubuhmu pincang keparat.!'' maki Ki Tugu Karang mengamuk diantara suara beradunya senjata maut. cahaya golok merah darah mengurung rapat pemuda pincang hingga nyaris tak terlihat.
''Kalau kau mau mati., pergilah sendiri ke liang kuburmu..'' hanya itu sebaris ucapan yang sempat terdengar. kalimat yang datar dan dingin seakan tanpa perasaan apapun.
Hanya dua larik sambaran sinar hitam pekat yang di sertai suara ledakan keras menyeruak kurungan cahaya golok semerah bara api. seiring dengan lenyapnya cahaya merah golok yang mengurung, kalah menang juga sudah terlihat.
Tubuh Ki Tugu Karang terpental dua tombak ke belakang, tapi orang ini mampu menjejak bumi dengan mantap. dia tertawa bergelak sambil lintangkan goloknya. sekali saja dia terbatuk. batuk yang menyemburkan darah. saat dia menunduk entah sejak kapan ada dua buah lubang hitam hangus menjebol dadanya kiri kanan hingga tembus ke belakang punggungnya.
Hanya sempat ada rasa yang teramat panas membakar dadanya. sampai tubuhnya tersungkur mati orang ini juga tidak pernah paham, sejak kapan senjata lawan mampu menembus tubuhnya.
Pemuda pincang itu cuma diam menunduk, semua lawan yang terbunuh di tangannya seakan tidak ada kaitan apapun dengannya. sisa anggota perkumpulan silat 'Merak Api' masih lebih lima puluhan orang. semuanya terkesima gemetaran, di alam mimpipun mereka tidak pernah mengalami kejadian seperti ini.
Lain yang di pikirkan mereka, beda pula yang ada di otak si pemuda pincang. sampai saat terakhir keluar dari 'Lembah Seribu Racun' dia belum juga mampu menguasai jurus 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan'. tidak di sangka sekarang malah dapat dia gunakan dengan sempurna.
Suasana terasa semakin sunyi mencekam. pemuda pincang ini seakan tersentak, mata dinginnya melihat ke satu arah. di depan sana terdapat tiga buah bangunan kayu jati merah yang pintunya berukiran seekor burung merak berselimutkan kobaran api yang terlihat sangat hidup.
__ADS_1
Perhatian pemuda pincang tertuju pada rumah paling besar yang ada di tengah. terasa olehnya hawa membunuh yang sangat menakutkan terpancar dari sana.
''Hik., hi., hi., siapapun bangsatnya yang telah berani mengacaukan tempat ini, kupastikan akan mati mengenaskan.!''