Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Gairah membunuh.


__ADS_3

Awalnya gerakan tusukan tongkat besi hitam itu sekilas sangat sederhana tanpa adanya kembangan apapun. jangankan seorang pesilat, bahkan orang biasa yang tidak mengerti ilmu kanuragan sekalipun asalkan dia memiliki tangan untuk menggenggam tongkat pasti juga bisa melakukannya.


Maka sangatlah wajar jika kelima orang itu sempat menganggap remeh bahkan tertawa menghina. namun raut wajah mereka segera berubah pucat puas karena kejap berikutnya terdengar ledakan beruntun yang dibarengi semburatnya cahaya petir hitam dan merah menyambar ke depan. jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' menggebrak dahsyat memburu korban.!'


'Whuuukk., whuutt., whuuss.!'


'Shaaatt., dhuaarr., glaaarr., blaaarr.!'


''Aaaakh., aakh., uaaakh.!''


Jeritan menyayat hati keluar dari mulut para pengepung berbaju hitam. tiga orang seketika terkapar roboh dengan kepala berlubang bahkan pecah gosong. seorang lagi meski dapat lolos dari maut tapi mesti terluka parah dengan bahu kiri remuk dan hangus bekas terbakar. bahkan luka dalamnya membuat dia meraung keras pegangi dadanya yang panas sesak, pertanda aliran darahnya bergolak.


Mungkin saking tidak tahan dengan rasa sakitnya orang itupun roboh tersungkur, entah pingsan atau malah menyusul tewas. dari kelima orang anggota partai 'Gapura Iblis' ini, cuma si pemimpin saja yang masih dapat selamat karena keburu menghindar. walau demikian perasan ngeri, seram juga tidak percaya sudah merasuki jiwanya.


Hanya sebuah tusukan tongkat besi namun sanggup membantai empat orang sekaligus. padahal ilmu silat mereka walaupun bukan termasuk kelas satu tapi juga tidak lemah. tanpa sanggup menghindar apalagi menarik senjata di pinggang, empat kawannya tewas dengan keadaan mengerikan. selama hampir dua tahun bergabung dalam Gapura Iblis, baru kali si pemimpin mengalami kejadian menakutkan seperti ini.


''Ssii,, sia., siapa kaa., kau seb., sebenarnya. apa kau tahu dengan membunuh mereka, dirimu sudah melakukan suatu kesalahan besar.?'' dengan suara tergagap ketakutan bercampur kemarahan orang terakhir ini coba menghardik. diam-diam dia mencabut pedang dari balik mantelnya sementara tangan kirinya menekuk membentuk cakar. hawa keunguan terbersit dari jemarinya.

__ADS_1


Tanpa beranjak dari tempatnya duduk di atas batu depan perapian pemuda itu berkata, ''Apa gunanya seorang calon mayat mengenal siapa diriku, terlebih dia berasal dari partai Gapura Iblis. kau bisa lolos dari serangan tongkatku menandakan kalau dirimu cukup berisi. sebagai penghormatan., aku berikan kesempatan padamu untuk menyampaikan pesan- pesan terakhir sebelum kau mati..''


Air muka si pemimpin berubah hebat. meski sebagian wajahnya tertutup kain hitam tapi jelas dia sangat marah sampai tubuhnya gemetaran. seumur hidup belum pernah dia dihina begini rupa oleh seorang gelandangan muda yang tidak dikenal. tidak perduli yang sedang dihadapinya berilmu kesaktian sangat tinggi, orang ini menggembor buas. sambil meluruk dia lancarkan empat tikaman pedang sekaligus yang diakhiri dengan sabetan memenggal leher dengan gerakan tubuh berputar.


Jurus ini selain sangat ganas juga sulit dihadapi karena gerakan tubuh berputar itu membuat empat tikaman pedangnya tidak dapat ditebak arah sasarannya. tetapi yang paling berbahaya adalah pukulan cakar ditangan kiri yang langsung menyasar jantung lawan. dari gerakan jurusnya orang ini mungkin pernah mempelajari sejenis pukulan cakar elang yang dipadukan dengan racun.


''Serahkan jantungmu., matilah kau bangsat.!'' bentak si pemimpin. dia sangat percaya dengan kehebatan jurus pedangnya. karena walaupun ujung mata pedang belum sampai sasarannya tapi angin serangan yang tajam sudah mampu merobek kulit tubuh lawan. hanya sayangnya., yang sedang dia hadapi sekarang bukanlah pesilat kelas atas biasa melainkan yang nomor wahid.!


Ujung baju Pranacitra robek beberapa bagian. tapi tenaga sakti dari pedang lawan jelas tidak mampu menyentuh kulitnya. dengan gaya kemalasan ujung tongkat besi menyapu bara perapian yang ada di depannya. ratusan arang bara api unggun melesat menghujani tubuh lawan yang meluruk beringas. gerakan ini membuat serangan pedangnya sedikit kacau karena mesti menyapu lebih dulu beberapa bara api yang mengancamnya.


''Anjing keparat.!'' makinya gusar. dalam hati dia sangat terperanjat karena meski sapuan tongkatnya terlihat asal- asalan namun sambaran puluhan bara arang api yang berhamburan mengancamnya itu justru tertuju pada sepuluh titik jalan darah paling mematikan termasuk tenggorokan dan dahi kepalanya.


Tidak ada jalan mundur atau menghindar. lagi pula si pemimpin masih yakin dengan ilmu pukulan 'Cakar Baja Elang Ungu' miliknya. pedang kembali menikam dan membabat. separuh dari bara perapian yang mengancam berhasil disapu mental. meskipun masih ada beberapa gumpalan bara api panas berhasil lolos dan menghantam tubuhnya tapi tidak sampai membuatnya luka parah. ketahanan tubuh orang ini cukup hebat juga.


Tanpa beranjak dari tempatnya Pranacitra putar tongkat besinya membentuk setengah lingkaran lalu menusuk dua kali ke depan. ini adalah gerakan menangkis sekaligus balas menyerang. seperti sebelumnya jurus tongkatnya masih terlihat ngawur dan kaku. namun hasilnya terjadi benturan senjata nyaring. saking cepatnya suara bentrokan seolah hanya terdengar sekali saja.


Pedang si pemimpin mental berpatahan ke udara. orangnya meraung menahan kesakitan di telapak tangan kanannya yang pecah akibat tidak sanggup menahan getaran bentrokan senjata. tapi dia memang seorang petarung hebat. dalam keadaan terluka orang ini masih dapat lepaskan sebuah tendangan mengarah kepala. udara seolah terbelah oleh sapuan kaki bertenaga dalam tinggi ini.

__ADS_1


Biarpun jarak keduanya cukup dekat tapi Pranacitra masih memilih untuk tetap duduk di depan perapian yang sudah semburat padam. setelah sekilas melirik tangan lawan, tongkatnya bergerak menangkis tendangan sementara tangan kiri yang tersembunyi dibelakang pinggangnya juga membentuk cengkeraman. si pincang ini seperti sengaja menunggu lawan menghantam lebih dulu.


''Haa., ha., mampuslah kau bedebah.!'' gelak si pemimpin bermantel hitam. tendangannya tadi hanyalah pancingan saja. saat tongkat besi menangkis, pertahanan lawan menjadi terbuka. saat inilah waktu yang tepat baginya untuk lontarkan pukulan saktinya. cahaya ungu kehitaman berkelebat ganas langsung menyasar jantung.


Tinggal jarak sejangkauan tangan saja tenaga pukulan saktinya dapat mencabik rongga dada lawan. seringai keji tersinggung dibalik penutup wajahnya. dalam rimba persilatan selama ini jarang ada yang dapat lolos dari serangan aji kesaktiannya. saat itulah terjadi suatu keanehan. udara siang hari disekitarnya mendadak berubah meredup seolah waktu senja hendak berganti malam.


Belum habis rasa kagetnya, tubuh lawan juga turut lenyap dari hadapannya sehingga aji kesaktian Cakar Baja Elang Ungu yang dia lepaskan hanya menemui tempat kosong lalu menghantam semak belukar dan bebatuan di tepian sungai hingga hancur pecah. ''Setan alas, keparat.!'' umpatnya seraya membalik tubuh dan lontarkan lagi pukulan saktinya.


Lima larikan cahaya hitam merah dari cakar tajam berbulu seolah cabikan burung buas menyambar si pemimpin. ilmu kedigdayaan yang dia andalkan musnah tersapu. untuk sesaat orang ini masih belum sadar dengan apa yang terjadi. dia hanya merasa dadanya terasa kosong seperti kehilangan sesuatu. matanya menatap segumpal daging yang masih berdegup dan berlepotan darah.


Itu bukanlah daging biasa melainkan jantung manusia. saat mata melirik ke bawah, dia baru menyadari rongga dadanya kosong dan gosong. kejadian ini lumayan panjang jika di tulis dalam sebuah cerita tapi sebenarnya segala yang terjadi mungkin tidak lebih dari sekedipan mata saja. tubuh si pemimpin tersungkur roboh. dalam kebinasaannya dia masih tidak mengerti kenapa jantungnya bisa terenggut tangan lawan. pertarungan pesilat kelas atas justru seringkali berlangsung sangat singkat.


Pranacitra masih mengamati gumpalan jantung berdarah yang sudah tidak lagi berdegup. dia sudah lupa kapan terakhir kalinya jurus kesaktian 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan' merenggut jantung lawan. walaupun terlihat sangat kejam tapi anehnya perbuatan keji seperti ini malah membuat hatinya merasa senang juga bergairah.


Jantung merah di tangannya perlahan terus menyusut kering mengepulkan asap panas, hingga akhirnya hancur menjadi serpihan daging hangus. dengan kibasan tangan dan sapuan tongkatnya Pranacitra membuat lima sosok mayat anggota partai Gapura Iblis hancur sampai tidak dapat di kenali sebelum melemparkannya ke sungai. pemuda ini tidak mau meninggalkan jejak apapun yang dapat menyulitkan dirinya.


.......................

__ADS_1


Silahkan menuliskan komentar Sampeyan Ngih🙏😊. Matur Suwun., Trims., Thanks.


__ADS_2