Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Maling keledai dan pembunuh.


__ADS_3

Hujan masih turun menyiram bumi walaupun sudah tidak selebat sebelumnya. air yang mengalir mengenangi jalanan dan berwarna kemerahan terlihat membawa beberapa kerat serpihan kecil tulang daging bercampur pasir lumpur yang turut terseret arus hingga hilang diujung jalan berbatu itu.


Suasana hening dan dingin. seorang gadis manis berpipi tembem bernama Rara Cempluk masih diam bersandar roda kereta kuda dan menggigil sembari mendekap tubuh ayahnya Ki Teratai Wulungijo dan seorang pemuda satu- satunya anggota perkumpulan jasa pengawalan barang Teratai Hijau yang masih hidup. dengan susah payah gadis itu dapat menarik tubuh mereka kepangkuannya.


Tubuh gadis lima belas tahunan itu gemetaran bukan saja karena kehujanan dan udara dingin, melainkan juga disebabkan kejadian sangat mengerikan yang belum pernah dia dengar atau bahkan bayangkan dalam mimpi buruknya sekalipun. saat tubuh 'Sepasang Musang Pesolek' hancur semburat dihantam pukulan sakti lawannya. percikan darah dan potongan tulang daging kedua perempuan jahat itu sempat melewatinya.


Biarpun cuma selintas pandang tapi bau anyir disertai aroma daging gosong yang sempat tercium hidung seakan tidak dapat hilang dari ingatannya. entah sudah berapa kali isi dalam perutnya termuntah mengotori pakaiannya, hingga sekarang tidak ada lagi yang dapat dia keluarkan.


Jika sebelumnya dia selalu merasa ingin turut serta merasakan pengalaman perjalanan dalam mengawal barang, sekarang ini yang gadis itu rasakan hanyalah kengerian dan penyesalan. inikah petualangan seru dan menyenangkan yang selalu dia bayangkan. beginikah cara hidup orang persilatan, bunuh membunuh tanpa ampun.?


Rara Cempluk berharap ini semua hanyalah mimpi buruk dan dapat secepatnya terbangun dari tidurnya. tapi sayangnya., kenyataan itu masih tidak dapat berubah. mayat- mayat para saudaranya di Teratai Hijau berikut bangkai kuda penarik kereta barang tetap terkapar bermandi darah diatas tanah yang basah.


Enam butiran obat berwarna kekuningan yang jatuh dipangkuan menyadarkannya dari bayangan seram yang memenuhi ingatannya. entah dengan cara apa pemuda pincang pucat berbaju hitam itu dapat membuat kedua orang yang pingsan dipangkuannya tersadar hanya dengan beberapa kali totokan tongkat besinya.

__ADS_1


''Masing- masing cepat makan dua butir obat itu. luka kalian bertiga agak parah hingga perlu istirahat cukup lama. meskipun obat itu dapat menyembuhkan luka dalam dengan cepat, tapi tetap saja butuh waktu untuk bisa pulih seperti semula..'' pemuda itu berkata dengan suara kaku dan dingin.


Setelah meminum obat pemberian pemuda pincang yang memang Pranacitra itu juga dilancarkan aliran darahnya, dalam waktu sepeminum teh kemudian ketiga orang itupun sudah mampu bangkit meskipun jelas masih terlihat lemas dan pucat menahan rasa sakit.


''Terima kasih pendekar muda atas semua pertolonganmu pada kami. aku Ki Teratai Wulungijo pemilik jasa pegawalan barang 'Teratai Hijau' merasa sangat berhutang nyawa padamu. entah bagaimana caraku untuk membalas budimu ini..'' ujar ayah dari Rara Cempluk membungkuk hormat diikuti oleh putrinya juga anak buahnya yang bernama Pujo Satriman.


Pemuda itu cuma melirik sekejap. ''Aku tidak tahu kemana tujuan pengawalan kalian, tapi kuda penarik kereta barangmu sudah mati. selain itu walau dapat berdiri dan berjalan namun tenaga dalammu juga belum pulih benar. lalu bagaimana cara kalian untuk meneruskan perjalanan. walau bagaimanapun juga itu sudah menjadi kewajiban dan tugas perkumpulan Teratai Hijau..''


Ketiga orang itu saling pandang. sebenarnya Ki Teratai Wulungijo juga sudah memikirkan masalah ini dan dia menjadi bingung karena belum tahu jalan keluarnya. Pranacitra kembali menghela nafas. ''Hhm., akhirnya diriku juga yang repot., kalian tunggu disini. sebelum hari gelap aku akan kembali..''


Jika saja anaknya tidak bertanya, mungkin saja Ki Teratai Wulungijo juga tidak bakalan teringat pada seseorang dengan segala sepak terjangnya yang mengidikkan hati. raut wajah orang tua itu mendadak berubah ngeri sampai dia tidak tahu apakah harus menjawab pertanyaan putrinya atau tidak. karena jika benar pemuda itu adalah orang yang sama seperti bayangannya., mungkin saat ini mereka bertiga sedang bersama dengan iblis yang jauh lebih berbahaya dari Sepasang Musang Pesolek.!


Sempat terlintas dipikiran Ki Teratai Wulungijo untuk segera menyingkir dari sana, tapi dia urungkan sendiri. "Aaish., biarlah. mati ya mati saja. toh kami memang punya hutang nyawa dengan pemuda itu. lagi pula., jika dia ingin membunuh kita bertiga apa yang dapat kami lakukan.." keluhnya dalam hati. sementara di luarnya dia bicara lain.

__ADS_1


''Sudahlah jangan berpikir lainnya. lebih baik kita coba bereskan barang kawalan kita, juga kumpulkan mayat para anggota..'' ucapnya penuh kesedihan. bertiga mereka kerahkan tenaga untuk mengerjakan semuanya. rasa kehilangan orang- orang dekat membuat air mata mereka menetes.


Niat hati hendak membereskan semuanya, tapi sebentar saja tenaga ketiganya sudah terkuras. apalagi ada beberapa ruas tulang sendi mereka yang patah akibat pertarungan. akhirnya ketiganya hanya bisa duduk terpuruk bersandar roda kereta kuda. hujan sudah agak lama berhenti tapi langit sudah menjadi gelap. dari ujung jalan terdengar tapak kaki binatang mendekati tempat itu.


''Ayah lihat., bukankah itu pemuda penolong kita yang datang..'' bisik Rara Cempluk melihat seorang pemuda sedang menuntun dua ekor keledai. ''Benar memang dia., tapi dari mana dia mendapatkan dua ekor keledai itu dan untuk apa.?'' gumam Pujo Satriman sambil berjalan tertatih menyambut. ''Yang bisa kudapat cuma keledai tua. aku mendapatkannya dari kampung terdekat. meski lambat dan tidak kuat ditunggangi tapi masih sanggup menarik kereta barang..''


''Kelak jika semuanya sudah selesai kau harus memberi ganti kerugian pada pemilik dua keledai tua ini. aku cuma gelandangan miskin. karena tidak sanggup membelinya, yah., kucuri saja. meskipun pemiliknya seorang yang kaya di desa itu tapi jangan sampai membuatnya rugi..'' ujar pemuda itu. sambil bicara dengan cepat dia memindahkan belasan mayat anggota Teratai Hijau ke atas gerobak.


''Sebagai perlindungan kalian sementara dalam perjalanan, aku tancapkan bendera partai 'Gapura Iblis' bekas milik Sepasang Musang Pesolek di sisi gerobak depan. jika ada yang berniat membegal kawalan mereka bakal berpikir ulang. tapi ingat., setelah sampai ditempat tujuanmu secepatnya musnahkan bendera hitam itu. jangan pernah berniat untuk menyimpannya kecuali kau ingin mampus.!''


Ketiga orang itu terperanjat. di akhir nada ucapan pemuda pincang ini terasa penuh hawa membunuh. sepasang matanya beringas seperti setan yang haus darah. tengkuk dan hati mereka merinding melihatnya. ''Baa., baik pendekar muda. aku pasti akan lakukan semua pesanmu. jika kau tidak keberatan bolehkah kami tahu siapa adanya dirimu.?'' akhirnya Ki Teratai Wulungijo bertanya juga.


''Aku cuma maling keledai dan pembunuh..'' jawab pemuda itu menyeringai sinis. sambil balikkan tubuhnya dia mulai beranjak pergi dengan langkah kakinya yang pincang merayap seperti cacing. dari mulutnya terdengar suara siulan lagu yang berirama menyedihkan hati.

__ADS_1


Jika Rara Cempluk hanya terbengong tidak mengerti lain halnya dengan ayahnya dan Pujo Satriman yang lebih punya pengalaman. mereka kini tahu dengan siapa mereka sudah bertemu. ''Ter., ternya.., ta mem., memang dia..'' gumam Ki Teratai Wulungijo gemeletuk ngeri. sementara Pujo Satriman malah sudah jatuh terduduk dengan muka pucat pias. ''Dii., dia., dia ada disini. pan., pantas saja Sepasang Musang Pesolek tewas ditangannya..''


''Hei., hei., sebenarnya siapa yang sedang kalian bicarakan. pemuda itu siapa., apa kalian kenal dengannya., Ayah., Pujo., kenapa diam saja. cepat jawab pertanyaanku.!'' gerutu Rara Cempluk penasaran. tapi mereka cuma diam menggelengkan kepalanya. kadang tidak tahu apapun itu lebih baik dan aman dari pada mengerti sesuatu namun terancam nyawa. karena orang yang baru saja berlalu itu adalah salah satu yang tidak boleh di bicarakan apalagi dikenal oleh golongan pesilat rendahan seperti mereka.


__ADS_2