Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Orang yang menjual kawan sendiri. (bag3)


__ADS_3

Tubuh kedua orang berjubah mantel hitam yang merupakan anggota 'Serikat Kalong Hitam' itu terpental hingga lima enam langkah jauhnya. percikan darah dan serpihan daging hangus yang bertebaran sampai mengenai tubuh para anggota gerombolan 'Kuda Angin'. bahkan Surti Cenil yang masih lemas tertotok bisa merasakan bau cipratan anyir darah di wajahnya.


Gadis itu meskipun belum mampu untuk menggerakkan tubuhnya namun masih dapat bersuara, hingga tanpa sadar dia terpekik jijik. apalagi salah satu dari kedua tubuh bermandi darah ini terjatuh tepat dihadapannya. orang yang bukan lain adalah si jangkung ini mati dengan bagian punggung jebol hangus hingga ke bagian tengah dadanya.


Satu mayat lagi tewas dengan cara yang tidak kalah mengerikan. punggungnya tercabik lima guratan dari bahu kiri hingga turun ke pinggang. cabikan itu meskipun tidak sampai tembus ke bagian depan tubuh namun cukup dalam hingga meremukkan tulang punggung. kulit dan daging tubuh yang terkoyak itu selain berbau anyir gosong menyengat hidung juga mengepulkan asap kehitaman.


Biarpun hampir separuh raga kedua mayat itu seolah hangus tersambar benda keras yang teramat panas namun tidak ada suara jeritan yang keluar dari mulut mereka. mungkin saja sampai tiba di akhirat, arwah kedua orang itu juga tidak akan pernah tahu cara bagaimana kematian bisa mendatangi mereka.


Tengah malam sudah lama terlewati. udara yang berhembus terasa semakin dingin mencekam hati. kejadian itu berlangsung begitu cepat hingga tidak seorangpun dapat menjelaskan awal serta akhirnya. dari hampir dua puluhan orang anggota Kuda Angin kini tinggal tersisa delapan orang saja. itupun tiga diantaranya sudah terluka parah.


Meskipun merasa lega nyawa mereka masih bisa selamat tapi perasaan kengerian juga terperanjat membuat semua orang itu diam dalam kebingungan. demikian juga 'Pengemis Muka Hitam'. bahkan mungkin rasa tidak percaya atas segala yang terjadi didepan matanya jauh lebih kuat dibandingkan luapan kemarahan di dalam hatinya.


Seorang lelaki muda berpakaian gelap yang sedikit gombrong dan terbuat dari kain tebal itu tahu- tahu saja sudah berdiri di sebelah mayat Cagak Randu. nyala api obor yang tergeletak di tanah menerangi sebagian wajahnya yang tampan namun pucat sedingin mayat. dengan tangan kirinya yang kurus namun berotot kehijauan perlahan dia mencabut sebilah pisau dari leher Cagak Randu.


Pisau pembunuh itu hanyalah sebuah pisau dapur yang bentuknya sangat umum dan bisa dijumpai di pasar manapun. kira- kira panjangnya hanya sejengkal lebih dua ruas jari. ujung lidah pemuda ini menjilat darah yang membasahi pisau. matanya terpejam sesaat seakan dia seorang tukang masak yang sedang meresapi rasa hidangannya.


Dua butir obat berwarna kekuningan dia jejalkan ke mulut Nyi Jaran Mirah, sekaligus tiga buah totokan jari yang memancarkan cahaya kebiruan menghujam punggung juga dada kanan nenek itu. hebatnya beberapa macam gerakan ini sanggup dia lakukan dalam waktu yang nyaris bersamaan.


Apa yang telah diperbuat pemuda pucat yang nampak aneh ini seketika menyadarkan semua orang dari keterkejutannya. hampir serempak mereka melihat ke arah pemuda bernama Pranacitra itu. si Pengemis Muka Hitam yang pertama kali hendak menghardik justru lebih dulu terkena damprat si pemuda.

__ADS_1


''Hei kau., orang tua jelek bermuka seperti wajan gosong yang mengaku sebagai bekas ketua perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng'. hampir lima tahun lalu perkumpulanmu hancur tanpa jelas penyebabnya. wakilmu si 'Pengemis Gigi Gompal' bersama selusin anak buahnya juga mampus di daerah Punggingan..''


''Dari yang pernah kudengar, kau telah berkali- kali mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi disana sekaligus berusaha menuntut balas pada si pembunuh. meskipun ada sedikit petunjuk namun kau tidak pernah mau mempercayainya karena menurutmu adalah suatu lelucon bodoh dan gila jika semua anak buahmu mati hanya karena perbuatan seorang bocah pincang..''


Pranacitra menunjuk si pengemis tua. ''Kau tidak perlu merasa heran dengan segala yang kuketahui. percayalah semua berita itu adalah benar. sekarang dalam hatimu pasti bertanya, kenapa aku tahu banyak tentang masalah ini.?'' Pranacitra sesaat seperti sengaja menggantung ucapannya sebelum kemudian menjawab. ''Karena akulah pembunuhnya.!''


Tidak ada tanya jawab yang terjadi diantara mereka berdua. Pengemis Muka Hitam cuma dapat tertegun mendengar semuanya. namun tidak ada waktu lagi untuk berdebat atau mengamuk. karena orang di depannya sudah berkelebat sambil hantamkan satu ilmu pukulan sakti yang mengeluarkan suara meraung keras disertai sambaran sinar hitam dan kuning emas.


Serangan maut ini sangat cepat tanpa adanya pertanda sedikitpun. bahkan yang menjadi sasarannya juga diluar dugaan. tepat diantara kedua paha Pengemis Muka Hitam.! meski sangat terperangah namun bagaimanapun juga dia adalah seorang tokoh silat kawakan yang sudah kenyang pengalaman.


Dengan menggembor marah senjata 'Cemeti Kelabang Ulet' ditangan kanannya menyentak dan meluruk ganas ke depan menyasar kepala sekaligus membelit putus leher lawan. sementara tangan kirinya menghantam dengan aji kesaktian 'Kelabang Pedut Biru' untuk menahan pukulan sakti si pemuda pucat yang datang mengancam. jarak diantara mereka hanya terpaut empat atau lima langkah. adu kekuatanpun terjadi.!


'Whuuut., bheeet., sraatt.!'


'Ctaaaarrr., blaaarrr., blaaaam.!'


''Aaahk., pemuda keparat.!'' teriak Pengemis Muka Hitam menahan rasa gusar dan sakit. tubuhnya tidak hanya terhajar mundur namun juga jatuh bergulingan. jubah hitam berhias tambalan di bagian bawah robek besar. walaupun ajian Kelabang Pedut Biru miliknya mampu menahan pukulan sakti lawan tapi tetap saja ledakan kekuatannya membuat dua paha kakinya terluka bahkan mungkin remuk tulangnya.


Dalam kesakitan orang tua ini bergidik ngeri. dia sangat tidak mengira kekuatan pemuda itu begitu hebat. jika terlambat sedikit saja untuk bertindak mungkin saat ini dia sudah terkapar jadi mayat dengan bagian bawah perut amblas bersama kedua kakinya. orang ini gertakkan giginya berusaha berdiri namun gagal. terpaksa dia cuma beringsut mundur sambil mencaci- maki.

__ADS_1


Lagi- lagi Pengemis Muka Hitam lontarkan pukulan sakti Kelabang Pedut Biru hingga tiga kali juga sabetan cambuknya, tetapi hanya dengan jenis ilmu pukulan yang sama semua serangannya dapat dibuat musnah lawan. malahan hanya dengan sebelah tangan saja senjata itu dapat direbut si pemuda tanpa perduli cambuk ini mengandung racun ganas. orang tua itu menjerit parau saat lima buah tinju dan tamparan bergantian menghajar dada serta wajahnya hingga muntah darah.


Tenaganya sudah sangat banyak berkurang. dengan menggulingkan tubuhnya orang tua itu berusaha terus menjauh. kemarahan, kesakitan yang bercampur rasa ketakutan membuat keadaan orang tua ini menjadi sangat menyedihkan. Pranacitra tidak merasa perlu mengejarnya. dia gunakan sedikit waktu untuk memusnahkan racun Kelabang Ulet yang tertinggal di telapak tangannya. dengan kekuatan batu sakti 'Nirmala Biru' semuanya dapat teratasi dengan begitu mudah.


''Aakh., haakh., kaa., kauu., kau pem., pemuda jahanam. kep., kepa., rat sialan. aakh., kau pasti mee., menyess., menyesal telah ber., bera., ni men., celakai dii., diriku., uaaghk.!'' dengan tersengal- sengal berseling teriakan kesakitan pengemis tua itu menyumpah serapah dan mengancam. ''Aa., aku., aku pun., punya ben., da ini. kau lih., lihatlah. Haa., ha.!''


Dengan paksakan tertawa Pengemis Muka Hitam merogoh sesuatu dari balik jubah hitam tambalannya lantas diacungkan ke atas. Pranacitra tertegun diam dan perlahan tundukkan kepalanya saat melihat benda yang berada ditangan lawan. ''Huhm., pemuda edan bedebah. setelah kau melihatnya dirimu tentu merasa ketakutan. Haa., ha., sudah terlambat. lebih baik kau bunuh diri saja.!'' seru Pengemis Muka Hitam. entah kenapa dia menjadi percaya diri bahkan mampu berbicara lancar.


Pranacitra tidak menjawab apapun. sebagai gantinya tangan kirinya terangkat lantas menyentak kearah pepohonan. dari atas rerimbunan daun melesat turun sebuah benda kehitaman sepanjang lima atau enam jengkal. tahu- tahu sebuah tongkat besi sudah tertancap didepan si pemuda.


Angin malam berpusaran ke seantero hutan hingga menggugurkan dedaunan dan semak rumput tersibak. suasana berubah semakin mencekam. gulungan kain hitam yang membungkus bagian gagang tongkat besi terlepas. secara aneh sebentuk ukiran kepala tengkorak yang ada di gagang tongkat besi berputar menghadap ke depan. sepasang mata tengkorak berkilat memerah seakan haus akan darah korbannya.


Pemuda itu mulai bersiul. sebuah siulan lagu yang amat menyedihkan jiwa. walaupun tidak satupun yang tahu siulan ini menceritakan apa namun tanpa terasa sudah membuat beberapa orang menitikkan air matanya. kini dia juga mulai berjalan mendekat. langkah kakinya yang pincang terseret menyaruk tanah membuat hati Pengemis Muka Hitam runtuh nyalinya. dia ingat seseorang yang seharusnya tidak bakal pernah muncul lagi.


''Kaa., kau., kau see., sett., setan. iblis keparat. buu., bukankah kau sudah mampus. kub., kuburanmu juga masih baru. sii., siaa., sialan. jaa., jang., jangan berani men., mendekatiku. setan terkutuk. baa., bang., sat. bangsat semuanya. kee., kena., kenapa mereka bilang kau sudah mati. Aakh., aaarrkhh.!'' hanya itu jeritan terakhir yang dapat keluar dari mulut Pengemis Muka Hitam.


Ujung tongkat besi hitam telah menghunjam kepalanya, tepat diantara kedua alis matanya. ujung tongkat menggerus perlahan berputar seperti mata sebuah bor yang hendak menembusi dinding batu. darah bercampur cairan otak terus tersembur dari lubang luka di kepala. sepasang mata gembel tua itu melotot seperti hendak keluar. kedua tangan menggapai dan mencengkeram besi hitam itu berusaha untuk menahan, tapi kemauan hati dan pikiran di kepalanya sudah terputus.


Tubuh tua itupun tumbang dengan lubang tembus ke belakang. satu seringai dingin dan keji tersungging di bibir Pranacitra. ''Hehm., seharusnya kau tidak berlaku goblok dengan mengeluarkan barang jelek seperti ini..'' gumamnya menghela nafas sambil melihat sebuah bendera hitam dengan lambang dari partai 'Gapura Iblis' yang masih tergenggam di tangan Pengemis Muka Hitam.

__ADS_1


 


Maaf kalau ceritanya terasa membosankan. kata authornya sih, bab ini nantinya ada sedikit hubungannya dengan cerita di novel 13 Pembunuh. Terima kasih atas segala kritik sarannya. (sejujurnya aku yo wis bosen bantu up date ngene iki. cuuaaapeeekkk lho bos.🥱😑)


__ADS_2