
Hawa di sekitar lereng utara gunung Merapi terasa dingin menusuk tulang. kabut disertai cahaya putih berkilauan menghampar diudara. sinar matahari pagi yang beranjak naik seakan tidak mampu menembus gelombang kabut bersalju putih yang bergulungan menghempas apapun yang berada didepannyan. semuanya terasa begitu dingin, sunyi dan membeku.
Pranacitra masih sanggup melayang beberapa saat lamanya di udara setelah menghantam lawan dengan ilmu kesaktian yang dinamai 'Salju Neraka Membekukan Dunia' sebelum tubuhnya jatuh terkapar diatas pedataran bersalju putih. semak rumput dan pepohanan liar yang berada di sana terlihat rontok berguguran.
Jika diamati dengan seksama ada suatu pemandangan aneh terlihat. meskipun batang pohon yang bertumbangan dan ranting semak dedaunan yang ada disana jelas telah hangus seperti dilalap api, tapi bagian luarnya justru berselimutkan lapisan es. perpaduan hitam hangus terbakar dan putih salju membeku ini terasa menyeramkan di pandang mata.
Pemuda pincang dari gunung Bisma itu sudah kehabisan tenaga. tubuhnya terkapar tanpa daya diatas hamparan salju yang bercampur percikan darah. ini suatu kejadian yang tidak masuk akal, karena disuatu belahan negeri yang setiap harinya terbiasa dipayungi cahaya sinar matahari dan hanya punya dua musim saja bisa terdapat hamparan salju yang dingin menusuk tulang.
Meskipun demikian akal pikiran si pincang ini masih sadar dan dapat berpikir jernih. ''Hanya ini yang bisa kulakukan. apakah mereka semua sudah tewas terkubur ditanah bersalju, ataukah., malah diriku sendiri yang bakalan mampus kehabisan tenaga.?'' batin Pranacitra memandang ke atas udara yang masih diselimuti kabut putih sedingin es.
Sejak semalam sewaktu duduk bersemedi untuk mengumpulkan tenaga kesaktiannya, dia teringat pada ucapan salah satu gurunya yang bergelat si 'Setan Kuburan'. ''Walaupun kami berlima sudah mewariskan hampir seluruh ilmu silat dan kesaktian yang kami miliki kepadamu, tapi tetap saja sulit bagi dirimu untuk bisa sehebat kami. kau tahu apa sebabnya.?''
''Karena waktu yang terbatas kau tidak akan mampu menyerap lima aliran ilmu kesaktian tingkat tinggi yang berbeda secara tumpang tindih dan hampir bersamaan menjejali isi otakmu. kau butuh waktu yang cukup, pikiran tenang dan tenaga besar agar bisa memahami seluruhnya..''
''Sebenarnya ada jalan pintas bagimu untuk dapat meningkatkan ilmu kesaktianmu, tapi aku tidak yakin kau sanggup melakukannnya..'' sindir si Setan Kuburan meliriknya tajam. saat itu Pranacitra tahu kalau orang tua bengis ini sedang memanasi hatinya. tanpa pikir panjang pemuda pincang itupun menyanggupi untuk melakukannya.
__ADS_1
Setan Kuburan menyeringai dingin. ''Kalau saja kau berani dan mampu menggabungkan ilmu pukulan 'Sepasang Nisan Membeku' yang kuajarkan padamu dengan racun pembeku darah dan jantung, juga ilmu 'Raungan Naga Kehancuran' milik si 'Iblis Naga Rembulan..''
''Ditambah dengan tenaga kesaktian yang bisa kau dapat dari 'Lubang Nadi Neraka Gelap' yang terpendam dalam tubuhmu, kau akan mampu menciptakan ilmu kesaktian baru yang jika terwujud mungkin kami berlimapun tidak akan sanggup menghadapinya.!'' tutur si Setan Kuburan sambil menerawang ke langit- langit goa batu.
Pranacitra ingat betul kejadian ini. karena hari itu si Setan Kuburan untuk pertama kalinya berbicara cukup lama kepadanya. ''Mungkin kau bertanya kenapa hanya pukulan 'Raungan Naga Kehancuran' yang bisa digabungkan dengan 'Sepasang Nisan Membeku'., kenapa bukan 'Tapak Darah Meminta Sedekah' milik si Pengemis tua, jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' andalan si nenek tabib atau 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan' dari si Burung bungkuk.?''
''Karena meskipun jurus kesaktian mereka bertiga punya daya bunuh yang mengerikan, tapi agak kurang dalam kekuatan pemusnah. yang aku inginkan adalah sebuah ilmu pukulan sakti yang mampu menggabungkan kekuatan hawa dingin dan panas tanpa batas. kau sudah punya sumber tenaga dari Lubang Nadi Neraka Gelap, Racun Pembeku Darah dan Jantung yang sudah mengeram di tubuhmu, sisa tenaga kesaktian milik si 'Iblis Picak Buntelan Kuning juga ilmu Sepasang Nisan Membeku..''
''Semuanya itu bersumber pada tenaga dingin, dengan memasukkan unsur panas pemusnah dari pukulan 'Raungan Naga Kehancuran', maka ilmu kesaktian baru itu akan sanggup menggoncangkan seluruh kolong langit dan meledakkan bumi. kau dapat membayangkan jika dibalik hamparan salju yang dingin membeku, ada bongkahan bara arang yang hangus terbakar. Haa., ha.!'' si Setan Kuburan tertawa seram.
''Huhm., itu jelas bukan masalah gampang. sedikit saja kau salah berlatih nyawamu pasti amblas. satu lagi., meskipun Lubang Nadi Neraka Gelap mungkin bisa dijadikan sumber tenaga sakti disaat dirimu terdesak antara garis hidup dan mati, tapi tetap saja butuh waktu bagimu untuk dapat memulihkannya setelah habis kau gunakan..'' terang Setan Kuburan mendengus dingin.
''Bocah pincang., kurasa hari ini diriku sudah terlalu banyak bIcara. sekarang semuanya kembali lagi pada usaha kerasmu. hanya saja., jika kelak kau bernasib mujur dan sanggup mewujudkan penggabungan dua aji kesaktian dari sumber yang berlawanan itu, beri ilmu itu nama 'Salju Neraka Pembeku Dunia.!'' ujar dedengkot persilatan aliran hitam ini lantas mulai mengajarkan rahasia penggabungan ilmu kesaktian itu.
Berdasarkan ingatannya, pada penghujung malam sebelum Pranacitra naik ke lereng utara gunung Merapi, pemuda inipun nekat mencoba kembali jalan penggabungan ilmu kesaktian yang pernah diajarkan si Setan Kuburan. dia merasa harus melakukannya karena menyadari lawan- lawannya bukanlah pesilat sembarangan.
__ADS_1
Dulu sewaktu masih dalam goa yang berada di Lembah Seribu Racun, pemuda ini sudah tiga kali mencoba untuk melakukan penggabungan ilmu kesaktian itu tapi selalu gagal di tengah jalan. bahkan pada percobaan terakhir dia nyaris saja kehilangan nyawanya.
Suatu keterpaksaan dan tekat yang melebihi apapun kadang membuat seseorang malah mampu berbuat yang diluar batas kemampuan manusia umumnya, hingga mencapai hasil yang luar biasa. meskipun kejadian seperti itu sangat jarang terdengar, tapi bukannya tidak mungkin terjadi.
Pranacitra paham dia jelas kalah jumlah dan tenaganya terbatas. dari pada mampus karena kebodohannya meladeni tantangan belasan tokoh silat kelas atas, lebih baik dia berusaha meningkatkan ilmunya meskipun tetap harus bertaruh nyawa. setidaknya itu lebih bernilai dari pada menjadi seorang pengecut yang kabur dari pertarungan atau tewas karena keberanian tolol yang tanpa perhitungan.
Butuh waktu hingga menjelang fajar bagi Pranacitra untuk mampu menerobos tingkatan ilmu kesaktiannya sekaligus menggabungkan berbagai macam tenaga sakti yang dia miliki. bahkan pada puncak titik penentuan, nyaris saja tubuhnya terbelah oleh luapan tenaga panas dan dingin yang saling hantam di dalam dirinya.
Saat terbangun dari semedinya, barulah dia sadar kalau daerah sekitar tempat dia bertapa untuk meningkatkan ilmu kesaktiannya, seluas lebih sepuluh tombak keliling penuh diselimuti kabut salju putih yang sangat dingin. anehnya saat tangannya mengeruk permukaan tanah yang ada di bawahnya, justru terasa panas seperti bara dan hangus menghitam.
Satu seringai buas tersungging di bibirnya yang sedikit pucat. sepasang matanya tajam menatap dingin. dia tahu kalau usahanya telah berhasil. sambil bangkit berdiri otaknya cepat berpikir. meskipun ilmunya meningkat tajam bukan berarti pula dia mudah menghabisi lawannya.
Dia lantas teringat kebiasan Srianah dalam bertarung. ''Saat bisa menghindar aku pasti memilih kabur. tapi jika harus berkelahi diriku selalu memakai jurus yang terkuat. sekali dua kali hantam lawanku harus terkapar. intinya., dengan memakai tenagamu sekecil mungkin, tapi bisa menjatuhkan lawanmu sebanyak dan secepat yang kau bisa.!''
Oleh sebab itulah Pranacitra langsung saja menggebrak dengan menghamburkan belasan jurus ilmu kesaktian yang dia miliki agar bisa secepat mungkin merobohkan belasan lawannya. semua yang dikatakan Srianah memang masuk akal. terbukti sekali dia menyerang, tiga nyawa dibuat melayang.
__ADS_1
Pranacitra masih terbujur di atas salju dingin yang mulai mencair. telinganya yang tajam mendengar ratapan ngeri dari mulut para pengeroyoknya. beberapa tumbang tersungkur dengan tubuh luar hancur membeku sedang daging sebelah dalamnya hangus menghitam. suatu kematian yang mengerikan, tapi masih ada juga yang berhasil selamat dan kini bergerak perlahan mendekatinya.