
Tidak ada satupun kata yang terucap dari mulut kedua muda- mudi itu. keduanya hanya berdiri saling berdekapan sambil pejamkan mata. bagi Pranacitra dan Srianah, seribu ucapan penuh rindu tidak akan ada artinya karena pandangan mata juga pelukan mereka sudah mengungkapkan segala yang ada di dalam hati keduanya.
Srianah dongakkan kepalanya menatap wajah tampan Pranacitra yang sedikit pucat. tangan kirinya meraba dagu pemuda itu yang mulai tumbuh cambang rambut kasar. meskipun kelihatan lebih jantan tapi gadis itu lebih suka kalau pemuda ini berpenampilan bersih. dia selalu merasa kesal jika Pranacitra malas merawat tubuhnya sendiri.
''Setelah ini kau harus segera mandi di sungai belakang rumah. bersihkan seluruh bagian tubuhmu termasuk cambang rambut di dagu, janggut dan kumismu yang mulai tumbuh. kapan terakhir kali kamu mandi. Chuih jijik., 'Awakmu iki mambu kecut tenan lho Prana'. (Badanmu ini bau asem banget lho Prana)..'' gerutu Srianah menutupi hidungnya.
''Gayamu Sri., Sri., Kowe omong jijik karo aku. tapi tetep wae ngerangkul koyo ora gelem pisah. (Lagakmu Sri., Sri., kau bilang jijik, tapi tetap saja memeluk diriku seolah tidak mau lepas) apa kamu lupa kalau kau juga belum mandi. baju kutangmu saja sudah kotor dan dibasahi keringat. malah kurasa., bau badanmu malah lebih asem dariku..'' balas Pranacitra mengejek sambil betulkan tali baju kutang putih Srianah yang melorot ke lengan kanannya.
Srianah jelas marah dan malu. tapi belum sempat dia mengumbar amukan, terdengar suara erangan seseorang. Srianah seketika tersadar dan bergerak cepat menghampiri tubuh Gendol yang masih tertelungkup dengan beberapa luka sabetan dan tusukan senjata tajam. meskipun perlahan namun jelas badan besar pemuda itu berderak- gerak pertanda dia masih hidup.
Srianah menangis melihat keadaan pemuda itu. tapi dalam hatinya dia juga merasa lega. saat dia hendak melakukan sesuatu untuk menolong bawahannya, sebuah ujung tongkat besi hitam sudah menotok bagian tengah punggung Gendol. selapis kabut tipis yang di sertai cahaya kebiruan mengalir dari tangan si pemegang tongkat terus merasuki tubuh pemuda tinggi besar itu hingga dirinya seolah dibungkus oleh kabut kebiruan yang menebar hawa sejuk.
Meskipun mulut luka- luka di tubuh Gendol masih belum tertutup seluruhnya namun darah sudah berhenti mengucur. dengan hawa kesaktian batu Nirmala Biru yang telah melebur ke dalam aliran darahnya serta tingkat ketinggian tenaga saktinya saat ini, membuat Pranacitra lebih mudah dalam mengobati luka luar dalam seseorang.
Tubuh bawahan Srianah itu bukan saja sangat besar tapi juga tinggi. tentu saja agak merepotkan bagi gadis itu membawanya ke dalam gubuk. akhirnya dengan sekali sambar Pranacitra memanggul tubuh Gendol di pundak kirinya. dengan isyarat mata dia mengajak Rinai untuk ikut mengikutinya. ujung bibir Srianah sedikit naik ke atas melihat gadis bermuka bopeng itu hanya menunduk saat melewatinya.
__ADS_1
''Huhm., si pincang sialan itu nemu dimana gadis jelek seperti ini. sudah mukanya bopeng bekas luka bakar, kurus kerempeng seperti kurang makan, bajunya compang- camping, tidak tahu sopan santun lagi. dia pikir siapa tuan rumah di tempat ini sampai seenaknya saja ikut masuk kediamanku tanpa permisi dulu. kalau saja dia tidak datang bersama Pranacitra, pasti sudah kuhajar tanpa ampun..'' dengus Srianah menggerutu dalam hati.
Dengan rasa kesal diapun melangkah menuju rumahnya bersama mbah Tumi. meskipun punya kesulitan dalam berbicara tapi nenek dari Gendol ini masih bisa menyampaikan bagaimana dia dapat bertemu dengan kedua orang muda- mudi itu. rupanya saat dia hendak menuju ke desa terdekat untuk meminta bantuan penduduk kampung yang beberapa kali mendapat pertolongan Srianah, mbah Tumi melihat ada sebuah kereta kuda berhenti di ujung jalan sempit yang biasa dilalui untuk menuju ke gubuk majikannya.
Di sana si nenek bertemu dengan Pranacitra dan Rinai yang baru turun dari kereta itu. karena curiga dengan keadaan mbah Tumi yang nampak ketakutan datang dari arah jalan menuju gubuk Srianah merekapun bertanya apa yang dia alami. karena sudah renta dan kelelahan mbah Tumi menceritakan semua yang terjadi.
Bersamaan dengan itu ada beberapa orang pelanggan jamu Srianah yang hendak mengambil pesanannya, tapi Pranacitra cepat mengatakan kalau para pembeli itu datang saja besok pagi karena Srianah sedang kehabisan bahan. meskipun tidak puas tapi saat melihat sorot mata dingin si pemuda yang menakutkan mereka segera menurut berbalik arah.
Gendol terbaring diatas sebuah balai bambu yang biasa digunakan Srianah untuk tempat memeriksa orang sakit yang hendak berobat. saat melihat Rinai hendak membalut luka cucu mbah Tumi dengan sehelai kain, Srianah cepat merebut kain itu dari tangan Rinai.
''Kain kotor dan bau seperti ini sangat tidak baik jika digunakan untuk membalut luka. kalau sampai bertambah parah hingga terjadi sesuatu yang dengan Gendol, memangnya kau mampu bertanggung jawab. Huhm., cepat menyingkir darinya biar aku sendiri yang merawat bawahanku.!''
''Mbak Sri., mbak Sri., sejak kapan aku jadi mbakmu..'' potong Srianah sinis. beberapa kali mendapatkan perlakuan yang kurang baik membuat Rinai naik pitam. matanya mendelik balas menghardik. ''Aku sudah berusaha merendah tapi kau malah mengumbar mulut seenaknya. jangan pikir diriku takut denganmu.!''
''Ooh., jadi kau mau menantangku berkelahi. jangan menyesal kalau sampai bopeng jelek di mukamu bertambah membiru karena terkena pukulanku. dasar gadis kerempeng, sudah bajunya dekil, bau lagi.!'' olok Srianah bertolak pinggang. Rinai paling benci jika ada orang yang menyinggung cacat di wajahnya. ''Kurang ajar., kalau hari ini tidak kurobek mulut busukmu, diriku tidak akan merasa puas. dasar tukang jamu sombong. aku sangat heran, kenapa banyak orang yang mau membeli ramuan jamu yang bau asem keringatmu itu. atau jangan- jangan., kau memakainya sebagai pelet penglaris daganganmu.!''
__ADS_1
Sebagai balasan Srianah langsung lancarkan dua buah tamparan telapak tangan ke wajah dan sebuah tendangan yang menyasar pinggang kiri Rinai. meskipun gadis bopeng itu cukup terperanjat karena tidak menyangka bakal langsung di serang namun dia tidak menjadi gugup. kepalan tangan dan siku kanan naik lantas menjotos bersamaan tangan kirinya menyapu kebawah dengan gerakan setengah berputar.
Dengan tubuh mundur selangkah Rinai bermaksud membuat gerakan menangkis sekaligus balas menyerang. pukul memukul jarak dekat terjadi beberapa jurus. desingan suara angin serangan yang tajam menderu cukup menggetarkan dinding gubuk bambu yang tidak begitu besar ini.
Hebatnya biarpun kedua gadis remaja ini sedang dilanda amarah tapi masih mampu mengendalikan diri hingga tenaga serangan jurus mereka tidak sampai menghancurkan seisi gubuk. awalnya dalam hati Srianah sempat merasa khawatir kalau sampai Rinai membuat kerusakan pada perabotannya untuk membuat jamu dan ramuan obat.
Tapi dia bersyukur itu tidak sampai terjadi, pertanda kalau lawan masih tahu batasan. diam- diam mulai terselip sedikit rasa kagum pada diri lawannya. selain itu Srianah juga merasa penasaran karena dari beberapa kali mereka beradu kepalan dan telapak tangan dia dapat menilai kalau kemampuan gadis bopeng ini cukup hebat. tanpa perduli dengan mbah Tumi yang bingung dan ketakutan dia kembali menyerang Rinai.
Dengan menggunakan gerakan jurus 'Sembilan Daun Melayang' Srianah unggul dalam kecepatan bergerak. namun Rinai juga tidak mau kalah. meskipun kepandaian yang dia pelajari adalah jenis ilmu silat cambuk yang memerlukan tenaga dalam kuat serta tidak memiliki jurus- jurus khusus tangan kosong, tapi dengan pengalamannya Rinai masih dapat menahan gempuran tangan kaki Srianah yang datang bertubi- tubi bagaikan hujan petir.
Pendek kata jika Srianah lebih cepat dalam bergerak dan menyerang maka Rinai justru lebih tangguh saat bertahan dan membalas serangan lawannya karena soal kekuatan tenaga dalam sepertinya Rinai sedikit lebih unggul. dalam waktu singkat lebih sepuluh jurus telah terlewati. biarpun pertarungan dua gadis remaja di ruang tengah itu semakin sengit namun tetap terkendali.
Dalam suasana seperti itu jika ada seorang pemuda berada di tengah pertarungan antara dua orang gadis remaja yang sama dikenal baik olehnya, hampir pasti dia akan berusaha melerai dan meminta mereka untuk berdamai. tapi sayangnya., Pranacitra bukanlah pemuda kebanyakan yang sering bingung menghadapi masalah kaum perempuan.
Dengan duduk di kursi sambil selonjorkan kakinya ke atas meja kayu, begitu santainya dia menikmati pertarungan kedua gadis itu sambil meneguk minuman kunyit asam yang masih hangat dalam gelas batok kelapa. ''Eehm., memang nikmat sekali jamu buatan Srianah. mungkin beginilah rasanya jika ada seorang pangeran tampan yang sedang di perebutkan gadis-gadis cantik dari kaum bangsawan..'' batinnya tertawa dalam hati.
__ADS_1
*****
Silahkan tulis komentar, kritik dan saran Anda🙏. Terima kasih.