Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Muslihat.


__ADS_3

Meskipun dalam hatinya merasa sebal dan jengkel dengan sikap rekannya tapi si 'Kutu Bangkotan' tidak mau memperpanjang masalah. puluhan tahun merasakan pahit manisnya kehidupan dan berkelana bersama sejak mereka berdua masih bocah kecil, orang tua bertubuh kecil rada bungkuk ini sudah paham betul tabiat si 'Benalu Tua'.


Biarpun hampir selalu ingin menang sendiri, sering bicara kasar padanya dan gampang naik darah tapi sebenarnya si Kutu tahu betul kalau hati kawannya ini sangat perasa serta mudah merasa iba. seperti saat pertama kali mereka berdua diberikan perintah dari ketua partai 'Gapura Iblis' untuk melenyapkan nyawa si pincang, Benalu Tua merasa enggan bahkan hampir saja nekat menolak tugas.


Demikian juga dengan si Kutu Bangkotan. hanya sayangnya., mereka berdua sudah terikat sumpah untuk selalu setia pada partai Gapura Iblis utamanya jika ada pihak luar yang datang mengancam. rupanya meskipun keduanya sudah lama mengasingkan diri dari dunia ramai tapi hampir setiap kabar berita yang menggemparkan rimba persilatan selalu mereka ketahui.


Termasuk juga dengan kemunculan dari seorang pendekar muda yang kabarnya menjadi pewaris ilmu kesaktian dari lima orang dedengkot persilatan aliran hitam dari 'Lembah Seribu Racun' yang di kemudian hari mendapat julukan sebagai 'Pendekar Tanpa Kawan' atau 'Setan Pincang Penyendiri' itu.


Sejak pertama kali mendengar sepak terjang pemuda ini di dunia kependekaran, entah kenapa 'Sepasang Kutu dan Benalu' merasa tertarik. apalagi setelah mereka selidiki secara diam- diam pemuda yang punya nama Pranacitra itu hampir selalu menyasar para anggota partai Gapura Iblis seolah dia mempunyai dendam kesumat pada partai silat terkuat aliran hitam itu.


Rasa penasaran mereka semakin bertambah saat pertama kalinya Kutu dan Benalu secara langsung mengamati betapa gilanya cara membunuh si pincang terhadap lawannya sewaktu dia terlibat pertarungan besar di gunung Semeru hingga mampu meruntuhkan partai besar aliran putih 'Naga Biru.!'


Yang membuat keduanya semakin merasa tertarik pada si pemuda pincang adalah raut wajah dingin pucat serta cara dia dalam memandang lawannya. dengan sorot mata yang setajam belati namun tanpa perasaan apapun itu seolah ada kemiripan dengan ketua partai Gapura Iblis. melihat semua ini tanpa sadar si Kutu dan Benalu menjadi teringat dengan sebuah kisah lama tentang kembar empat dalam partai mereka.


Biarpun naluri mereka mengatakan kalau pemuda pincang ini sangat mungkin adalah salah satu keturunan dari kembar empat yang merupakan anak- anak dari ketua Gapura Iblis terdahulu, mereka berdua tetap perlu bukti nyata. sementara perintah membunuh dari sang ketua juga tidak dapat ditolak. akhirnya si Kutu dan Benalu membuat sebuah tipu muslihat sekaligus pertaruhan besar.

__ADS_1


''Dengarkan aku bocah pincang, saat kami berdua menghantam punggungmu, ada dua aliran tenaga sakti yang berbeda. yang satu menyasar seluruh jalan darah dan urat syaraf di hampir sekujur tubuhmu hingga kau mati rasa serta hilang kesadaran. sedangkan yang satu lagi khusus menghentikan denyut jantung tetapi tidak merusaknya..''


''Pendek kata., dengan gabungan dari ilmu kesaktian dan ilmu sihir gaib yang kami kuasai, jasadmu telah kita buat mati namun rohmu masih ada di dalamnya. kematian semu ini hanya bertahan sehari semalam saja. selebihnya jika tidak segera mendapat pertolongan kau pasti benar- benar modar.!'' terang Kutu Bangkotan.


''Kami berdua sengaja melakukan semua itu karena aku merasa kalau ketua Gapura Iblis sangat mungkin mengutus orangnya untuk memata- matai semua tindakan kami. dan benar saja., ada orang lain disekitar tempat kami membunuhmu. tapi sungguh diluar dugaan rupanya ketua justru sampai mau keluar sarang sendiri. beruntung juga kami dapat mengelabuinya..''


''Rekan rahasiamu si 'Pendekar Harimau Putih' itu sudah cukup lama kami awasi. jadi saat dia berhadapan langsung denganku dan kami jadikan budak, lelaki brewok tinggi besar tidak dapat menolaknya..'' sambung Benalu Tua. di tangan kirinya yang besar berlemak tergenggam sebuah gelang rantai perak berbandul tengkorak. ''Gelang ini kutemukan di balik bajumu saat hendak menguburmu..''


Sepasang Kutu dan Benalu sama mengamati gelang rantai perak berbandul tengkorak itu. ''Dengan adanya gelang ini, sudah dapat kita pastikan kalau dirimu adalah salah satu keturunan dari kembar empat. hanya saja kita tidak tahu kau ini berasal dari keturunan si kembar yang mana.?'' gumam si Benalu Tua.


''Seandainya saja dia tidak menginginkan sesuatu dan masih membutuhkan tenaga dari kami berdua, mungkin sudah lama orang ini berniat menyingkirkan kita..'' si Benalu Tua mencibir sinis. ''Apakah dia berpikir sangat mudah untuk membuat kedua orang tua ini mampus. Chuih., saat ketua terdahulu masih hidup, dia juga bersikap sangat hormat pada kami berdua. dasar kurang ajar.!''


''Hee., he., saat kami Kutu dan Benalu masih malang- melintang mengobrak- abrik dunia persilatan dari seberang timur sampai ke ujung barat tanpa seorangpun sanggup menghadang. jangankan dia., bapaknya sendiri mungkin juga masih menjadi tetesan air kencing.!'' Kutu Bangkotan terkekeh.


Pada akhir tawanya yang mengekeh, si Kutu dan Benalu serentak kibaskan sebelah tangan masing- masing ke depan. gulungan sinar merah dan kuning menyambar tubuh seorang pemuda yang terbaring berlepotan tanah di atas pembaringan kayu. terdengar suara memekik tertahan saat kedua sinar sakti itu merasuki tubuh si pemuda pucat.

__ADS_1


''Walaupun dalam keadaan terbaring kau tetap dapat mendengarkan semua yang telah kami katakan, tapi sudah saatnya untuk bangun dan mengambil keputusan. sialan., untuk membuatmu tersadar sepenuhnya kami mesti membuang tenaga lebih banyak..'' sungut si Kutu mengomel kesal.


Beberapa kejapan mata kemudian tubuh pemuda pucat yang bukan lain Pranacitra ini mulai menggeliat. begitu terbangun dia langsung duduk bersila di atas pembaringan. cahaya kuning dari si Benalu dan sinar merah milik si Kutu bercampur dengan kabut biru dari kesaktian batu 'Nirmala Biru' yang telah melebur di dalam dirinya.


Tiga cahaya kesaktian itu terlihat menyelimuti seluruh tubuhnya. hawa panas dan dingin berputaran silih berganti sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam raga Pranacitra. anehnya, seketika itu juga kulit tubuh serta pakaiannya yang sebagian masih basah kotor berlepotan tanah menjadi kering dan bersih.


Sepasang mata itu perlahan terbuka. caranya memandang segala yang berada di depannya juga masih tetap sama. hambar, kosong dan dingin tanpa menyiratkan suatu perasaan apapun. meskipun mirip dengan mata orang yang sudah mati namun justru membuat orang lain bergidik ngeri.


Bahkan Sepasang Kutu dan Benalu tanpa sadar turut merinding kala melihat sorot mata dingin ini. pemuda pucat perlahan turun dari atas balai pembaringan kayu dan jatuhkan diri berlutut di depan kedua orang kakek nenek aneh berbadan besar dan kecil itu.


''Aku., si pincang yang bodoh ini bernama Pranacitra, putra tunggal dari pasangan Sentanu bekas tukang masak Gapura Iblis dan kembar yang ke empat. dengan segala kerendahan hati memohon petunjuk dari kedua sesepuh yang mulia..'' ucapnya dengan suara dingin penuh nafsu membunuh.


Sepasang Kutu dan Benalu tertegun diam dan saling pandang. tapi sekejap kemudian bibir peot mereka menyeringai keji sebelum akhirnya tertawa bergelak. ''Haa., ha., kami mungkin tidak dapat memberimu petunjuk secara langsung. tapi kami akan katakan padamu sebuah rahasia besar yang dapat membantu melapangkan jalanmu.!''


*****

__ADS_1


Mohon maaf🙏., cuma bisa update sedikit saja. Terima kasih👏.


__ADS_2