
Setelah selesai menikmati makan malam , kafka mengantarkan Delisa kembali pulang. Ia sudah pernah menyuruh Delisa untuk pindah ke Apartemen nya tetapi dia tidak mau.
Sesampainya di sana , Delisa keluar dan melambaikan tangan pada Kafka. Kafka langsung melajukan kembali mobilnya.
"Hai Delisa" ucap seseorang yang sangat Delisa ingat selama ini.
Delisa membalikan badannya dan melihat seorang lelaki yang sedang berdiri disana.
"Kapan kau akan membayar sisa hutang dari Ibu mu?" tanya Lalaki tersebut.
"Be besok Tuan , karena hari ini saya belum gajihan" jawab Delisa takut.
Lelaki tersebut menatap Delisa dengan penuh malas , lalu ia pergi dengan perasaan kesal.
"Huhh besok , besok saja dasar wanita miskin" gerutu penagih hutang.
Sedangkan Delisa langsung masuk ke dalam kos nya karena ketakutan.
"Kapan ini akan berakhir, apa aku akan di terima jika mereka tahu bahwa aku memiliki hutang besar" gumam Delisa sendu.
"Ayah , Ibu, apa salah dan dosa ku hingga kalian tega menyakiti ku dengan seperti ini. Semasa hidupku aku selalu membantu kalian mendapatakan uang , tetapi sekarang aku juga harus menanggung hutang yang aku sendiri tidak tahu" gumam nya kembali dengan meneteskan air mata.
Delisa menangis dengan terisak di malam yang sangat dingin , ponsel di tas nya terus saja berdering tetapi ia abaikan.
"Aku tidak boleh lemah" ucap Delisa menyemangati.
Delisa bangkit dan berganti pakaian , lalu ia merebahkan tubuhnya di kasur yang sudah usang.
Mata cantiknya mulai terlelap karena merasa lelah dengan semua kehidupan ini. Bahkan ia tidak bisa menikmati semua gajih dari hasil kerjanya karena harus membayar hutang pada si rentenir.
-Pagi Hari
Ke esokan pagi nya , Delisa sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia sambut pagi dengan keadaan yang sedikit mumet.
"Huhh semangat , Del" ucap Delisa menyemangati diri nya sendiri.
Lalu ia melangkahkan kaki ke arah sekolah yang memang tidak terletak jauh dari Kos nya. Ia berjalan dengan sangat anggun dan wajah ramah nya selalu membuat para tetangga menyapa nya.
"Berangkat ngajar, Bu" tegur tetangga Kos nya.
"Iya Bu, mari" balas Delisa ramah.
Begitulah Delisa , dia ramah , baik dan juga cerdas , membuat semua orang terkagum begitupun dengan Kafka.
Sesampainya di sekolah , Delisa langsung masuk ke ruangannya dan langsung membuka buku yang akan ia bahas hari ini.
'Bagaimana kalau aku tidak bisa membayar hutang Ibu hari ini, aku takut' batin Delisa
Delisa mencoba menenangkan pikiran dan hati nya , ia terus saja menghembuskan nafas dengan kasar.
Pelajaran pertama pun akan di mulai , dengan semangat Delisa berjalan ke arah kelas yang akan isi pelajaran.
-Perusahaan Ardmaja.
Pikiran Kafka dari semalam sangat kalut bahkan sampai pagi tadi ia uring-uringan karena Delisa tidak ada kabarnya sekali.
Bahkan tadi pagi ia sempat menelponnya tetapi nomor Delisa tidak aktif.
Sela terlihat bingung menatap wajah Bos nya yang tidak bersahabat.
"Selamat Pagi , Tuan" sapa Sela dan Asisten Kafka.
"Hmmmm" balas Kafka dingin.
Setelah itu Kafka langsung masuk ke ruangannya tanpa berbicara apapun.
"Ren, kenapa tuh Bos mu?" tanya Sela
__ADS_1
"Gak tau , yaudah gue masuk dulu takut di omelin" jawab Rendi Asisten Kafka.
Rendi menyebutkan jadwal Kafka hari ini dengan sangat sopan. Tetapi Kafka hanya menginginkan istirahat saja. Dengan terpaksa Rendi menunda semua meeting hari ini.
"Keluarlah , aku ingin sendiri. Kalau ada tamu bilang saja aku tidak menerima tamu" ucap Kafka dengan dingin.
Rendi hanya mengangguk saja dan berlalu keluar kamar.
"Uhh harus hati-hati nih , pasti kena omel nanti" gumam Rendi bergedik ngeri.
Sela mencoba menghubungi Delisa tetapi tidak aktif. Lalu ia mencoba mengirimkan pesan agar ia bisa ke perusahaan nanti setelah mengajar.
"Huh pasti ini gara-gara Delisa gak membalas Chat atau panggilan , karena hanya Delisa saja yang bisa membuat seorang Kafka begini" gumam Sela terkekeh.
Mereka bekerja di meja masing-masing, saking seriusnya mereka tidak menyadari bahwa hari sudah semakin siang.
Sela beranjak dari duduk nya karena ia akan makan siang bersama dengan Raka. Sedangkan Rendi ia akan makan siang di ruangannya karena takut Kafka perlu sesuatu.
Saat ini Delisa tengah di dalam taxi untuk ke perusahaan Ardmaja. Ia menenteng makanan yang ia beli sebelum kesini, Delisa sudah tahu bahwa Kafka akan uring-uringan karena masalah teleponnya yang tak di angkat.
Rendi yang melihat Delisa keluar dari Taxi pun langsung tersenyum senang.
"Selamat , pawang nya sudah ada" gumam Rendi terkekeh.
"Selamat siang, Bu" sapa Rendi pada Delisa.
"Apa Pak Kafka ada?" tanya Delisa.
"Ada mari" ajak Rendi.
Mereka lalu naik ke lantai dimana Kafka pasti sedang uring-uringan , Rendi tersenyum jahil saat menemukan ide.
Setelah sampai , Rendi langsung membawa Delisa ke depan ruangan Kafka.
Tok.. Tok..
"Tuan ada tamu" teriak Rendi
"Aku tidak menerima tamu siapapun , suruh pulang saja" jawab Kafka dengan teriak.
"Benar nih suruh pulang , ahh biar ke ruangan saya saja ya, mari Nona DELISA" ucap Rendi dengan menahan tawa nya.
Sedangkan Delisa tertawa melihat Rendi yang mengerjai Kafka.
Kafka langsung membuka pintu dan melihat Rendi yang terbahak. Lalu ia melihat wanita yang sudah membuat perasaannya kalut.
Rendi langsung saja berlari saat melihat mata Kafka yang sudah melotot.
"Sayang" rengek Kafka dengan memeluk Delisa.
Delisa terkekeh dengan membalas pelukan Kafka. Ia mengusap punggung Kafka dengan lembut.
"Maaf ya , semalam aku langsung tidur dan lupa nge charger ponsel nya" ucap Delisa lembut.
"Ayo masuk aku sangat lapar , kau harus tanggung jawab" ucap Kafka dengan kesal.
Delisa mengangguk dengan tersenyum kecil. Lalu mereka masuk dan langsung memakan makanan yang di bawa oleh Delisa.
Saat ini Rendi sedang tertawa puas karena berhasil mengerjai Tuan nya. Ia seakan mendapat jackpot.
"Huh siap-siap nanti gajih ku di potong nih" ucap Rendi menyeka air mata yang keluar karena terlalu semangat tertawa.
Rendi langsung mengerjakan kembali berkas-berkas yang sudah menumpuk.
Kafka melarang Delisa pergi dari sana , bahkan ia sampai mengunci pintu ruangannya.
Kafka merebahkan kepala nya di pangkuan Delisa , lalu ia memejamkan mata menikmati usapan lembut dari Delisa.
__ADS_1
Tangan Kafka melingkar di punggang Delisa , tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Kafka.
'Bagaimana ini , aku tak tau harus meminjam uang pada siapa. Uang gajihku kurang untuk membayar hutang' batin Delisa.
Tatapan kosong Delisa lama semakin lama menutup , Delisa tak sadar ia juga ikut terlelap karena lelah nya memikirkan uang untuk membayar hutang.
Hari semakin sore dan tak terasa sudah malam, semua karyawan sudah pulang bahkan Sela dan Rendi pun sudah pulang.
Delisa mengerjapkan mata nya karena merasa pegal di kakinya.
"Ka , bangun udah malam" ucap Delisa dengan mengusap lembut pipi Kafka.
Kafka mengerjapkan mata dan perlahan mulai membuka mata nya. Ia menatap ke sekeliling dan ternyata sudah malam.
"Aku ke kamar mandi dulu ya , baru nanti kita pulang" ucap Kafka lembut.
"Hmmm , baiklah" balas Delisa.
Setelah Kafka pergi , Delisa mencoba meluruskan kaki nya yang pegal. Setelah merasa lebih baik ia pun membereskan meja kerja Kafka.
Setelah Kafka keluar mereka langsung pergi dan Kafka mengantarkan dulu Delisa.
Selama perjalanan , Delisa menatap kosong ke arah luar jendela. Ia merasa bingung karena belum mendapatkan uang sama sekali.
"Aku langsung pulang ya" pamit Kafka setelah sampai.
"Hmmm, hati-hati ya" balas Delisa lembut.
Lalu Delisa keluar dari mobil dan berjalan ke arah Kos nya.
Ia membuka pintu dan masuk , saat akan menutup pintu ia kaget melihat Pria yang selalu menagih hutang dengan satu temannya.
"Mana uang nya" ucap Pria tersebut.
Delisa meraba tas nya , tetapi ia tidak mendapatkan dompetnya.
"Loh dompetku dimana" ucap Delisa ketakutan.
"Hei jangan berbohong kau , ahh kalau begitu kau layani saja kami nanti kami akan lunasi hutangmu" ucap Pria tersebut dengan tatapan penuh nafsu.
Delisa langsung beringsut mundur karena takut , tetapi tangannya langsung di pegang oleh teman Pria tersebut.
"Ahh kita akan pesta" ucap teman Pria tersebut.
"Tolong jangan lakukan apapun padaku" ucap Delisa terisak. Otaknya bertraveling kepada kejadian masalalu.
Delisa bergetar ketakutan saat tubuhnya sudah di jatuhkan di lantai. Delisa sudah berontak karena takut tetapi kedua Pria tersebut tenaga nya kuat.
"Tolong" teriak Delisa dengan kuat.
"Hahahaha tidak akan ada yang bisa menolongmu sayang" ucap Pria tersebut.
"Tidak , jangan jangan lakukan itu" teriak Delisa dengan berontak.
*Srek
Srek*
Baju atasan Delisa sudah berhasil mereka robek , Delisa semakin histeris bahkan air mata nya pun sudah mengalir.
"Jangan , aku mohon jangan" ucap Delisa dengan terisak.
Saat kedua Pria tersebut akan membuka seluruh baju Delisa pintu tersebut di buka oleh seseorang.
"Tolong aku" ucap Delisa lalu ia pingsan.
.
__ADS_1
.