Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
66


__ADS_3

Mansion Wibawa.


Jelita tidak bisa jauh sedetikpun dengan Kania, ia mengikuti Kania kemana pun pergi nya.


Bahkan saat ini Kani sedang memasak bersama Bu Yulia dan Amanda.


"Bunda , Lita ingin makan Ayam goreng ya" pinta Jelita semangat.


"Baiklah sayang, duduk nya yang bener nanti jatuh loh" balas Kania lembut.


jelita duduk kembali dengan benar dan melihat sang Bunda , Nenek dan Aunty nya sedang memasak.


"Dia gak bisa jauh banget ya sama kamu, Nak" ucap Bu Yulia


"Iya Bu. Aku juga gak bisa jauh darinya , rasanya udah sayang banget" balas Kania tersenyum.


"Kak, kau tau kan kalau Jelita bukan Putri kandung Abang?" tanya Amanda hati-hati.


"Iya Kakak tau, tapi yang Abang dan Kakak takutin nanti kalau Putri kembali dan mengambil Jelita atau bahkan ia memanfaatkan Jelita untuk kembali lagi padanya" jawab Kania sendu.


"Nak , jika memang Gibran kembali lagi padanya berarti dia tidak benar-benar menyesal dan menyayangimu. Dan jika saat itu terjadi Ibu sendiri yang akan memisahkan kalian" tegas Bu Yulia dengan wajah serius.


"Iya Bu , tapi aku melihat kalau mas Gibran benar-benar menyesalinya. Dan aku berharap jika mantan istrinya pun sudah berubah" balas Kania lembut.


Mereka melanjutkan lagi memasaknya karena hari sudah mulai agak siang.


Satu persatu anggota keluarganya datang dan duduk di kursi di ruang makan. Kania mengambilkan makanan untuk Jelita dan Gibran.


Jelita dengan lahap langsung memakan Ayam goreng tersebut. Kania sesekali membersihkan mulutnya yang belepotan.


"Bunda ini enak sekali, Lita sudah sangat lama ingin makan Ayam goreng" ucap Jelita yang penuh dengan makanan di mulutnya.


DEG.


Gibran merasa sesak dada nya , iya sangat sakit saat mendengar bahwa Putrinya sangat menginginkan makan enak.


Kania tersenyum lembut lalu mengusap kepala Jelita dengan sayang.


"Yaudah makan yang banyak, Oke. Terus nanti Bunda buatkan makanan kesukaan Jelita. Sekarang makan dulu terus kalau lagi makan jangan ngobrol sayang" nasihat Kania dengan lembut.

__ADS_1


Jelita menganggukan kepalanya dengan tersenyum.


Nicolas menepuk pundak Gibran yang terlihat sendu. Lalu ia tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.


Setelah selesai sarapan Gibran akan mengajak Kania dan Jelita ke mansion Ayu. Gibran akan mengenalkan Kania dan memberitahu niatnya , Gibran menginginkan pertemanan meskipun Ayu adalah mantan istrinya.


"Bu , Ayah , aku ke mansion Ayu dulu" ucap Gibran.


"Yaudah , hati-hati" balas Ayah Salim.


"Jelita yakin gak mau ikut?" tanya Kania lagi.


"Tidak , Bunda" tolak kembali Jelita.


Gibran tersenyum lalu menggandeng tangan Kania mengajak masuk ke dalam mobil. Gibran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang , ia ingin menikmati suasana disana.


"Mas , kita akan kemana sih?" tanya Kania bingung.


"Kita akan ke mansion Ardmaja, Nia" jawab Gibran.


"Ardmaja" beo Kania dengan kaget.


"Iya , kan Ayu adalah istrinya Tuan Elga" ucap Gibran.


Di dalam mobil mereka hanya hening , Kania melihat ke luar jendela dan menatap pemandangan di luar sana.


Selang 1 jam kemudian Gibran dan Kania sampai di mansion Ardmaja. Penjaga memeriksa terlebih dahulu dan melapor pada Tuan muda nya.


"Silahkan, Tuan" ucap Pengawal tersebut.


Kania melotot melihat bangunan yang sangat megah bisa disebut dengan Istana. Ia menatap takjub dengan bangunan di depannya.


"Ayo" ajak Gibran.


Kania menggenggam erat tangan Gibran saat para pengawal berbaris dan menatapnya dengan intens.


"Gapapa , mereka hanya mengikuti perintah Tuan muda nya" ucap Gibran menenangkan Kania yang ketakutan.


Bi Sumi mengantarkan mereka ke ruang keluarga dimana Tuan Elga dan Nyonya Ayu yang ada disana.

__ADS_1


"Tuan , Nyonya , ini tamu nya" ucap Bi Sumi.


"Tolong buatkan minuman dan makanan kecil ya, Bi" titah Ayu ramah.


Bi Sumi menganggukan kepalanya dan pergi dari sana.


"Duduklah" ucap Elga dengan datar, bahkan tangannya sudah bertengger di pinggang Ayu.


Gibran duduk berdampingan dengan Kania. Ia menatap Elga yang sedang menahan cemburu.


"Bagaimana kabar kalian, aku to the point saja. Maksud ku kesini aku ingin mengenalkan wanita ini padamu, Yu. Dia adalah Kania calon istriku" ucap Gibran tanpa basa basi.


Ayu tersenyum pada Kania yang terlihat sangat canggung.


"Syukurlah, aku harap kamu tidak akan melakukan kesalahan seperti dulu lagi. Cukup aku yang merasakannya" balas Ayu tersenyum.


"Aku sudah menyesalinya dan aku ingin benar-benar membina rumah tangga dengannya" senyum Gibran saat menatap Kania yang menunduk malu.


"Maaf Tuan , Nyonya ini minuman dan makanannya" ucap Bi Sumi sambil menyajikannya di meja.


"Terimakasih, Bi" ucap Ayu lembut.


"Ohh ya bagaimana usaha Caffe mu?" tanya Elga dengan tanpa exspresi nya.


"Semua nya lancar dan rencananya aku ingin membuka cabang" jawab Gibran dengan tersenyum.


"1 minggu lagi kami akan menikah di Negara S , jika kalian tidak sibuk datanglah walaupun tidak ada pesta mewah" undang Gibran dengan tersenyum.


"Maaf Gib , Kania, bukan kami tidak mau tapi jadwalnya sama dengan jadwal Lana akan menikah dengan Vani" ucap Ayu tak enak.


"Tidak apa , cukup doakan saja" balas Gibran tersenyum lembut.


Lalu melanjutkan mengobrol dengan santai , Kania sedikit demi sedikit bisa menimpali obrolan mereka walaupun masih gugup.


Siang hari nya , Gibran dan Kania berpamitan karena Jelita sudah merengek ingin tidur bersama Kania.


Ayu hanya tersenyum melihat gurat wajah bahagia Gibran. Ia bersyukur Gibran sudah melupakan semua masalalu nya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2