Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part (Gibran)


__ADS_3

Hari berganti bulan dan tahun, kehidupan Gibran dan Kania mengalami jungkir balik yang sangat hebat. Apalagi saat penyakit Jelita kambuh, mereka akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit.


Kania sudah melahirkan Bayi tampan yang bernama Farhan. Jelita sangat menyayangi Adik nya tersebut, bahkan tak kerap Jelita selalu saja mengoceh dengan Baby Farhan.


Hari ini, umur Jelita sudah menginjak 20 tahun , sedangkan Farhan baru saja 15 tahun.


Mereka hidup dengan rukun dan saling menyayangi. Bahkan Kania tidak membedakan mereka sama sekali.


"A ayahhh" lirih Jelita meringis.


Kania yang kebetulan melewati kamar Jelita langsung saja masuk, Kania melotot tak percaya bahwa Jelita sudah terduduk di lantai dengan darah yang mengalir dari hidung nya.


"Massss, Farhann" teriak Kania dengan panik.


Lalu Kania membantu Jelita untuk duduk di sofa.


"Kakakkkk" teriak Farhan dengan khawatir.


Lalu Gibran menggendong Jelita dan membawa nya keluar. Ia akan membawa Jelita ke Rumah sakit langganannya.


"Bun, ambil kunci mobil dan dompet" ucap Gibran dengan wajah panik nya.


Dengan cepat, Kania membawa nya dan mengikuti langkah sang suami.


"Nak, kamu di Rumah dulu ya nunggu Oma dan Opa, jika mereka pulang katakan saja bahwa kami membawa Kakak ke Rumah sakit biasa" pesan Gibran dengan cepat.

__ADS_1


"Hati-hati Ayah, Bunda" balas Farhan terisak.


Gibran langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Gibran dan Kania merasa sangat khawatir pada keadaan Jelita.


"Sayang hei, jangan buat Bunda ketakutan" ucap Kania lirih sambil memeluk tubuh Jelita yang pingsan.


"Mas cepetan lagi" ucap nya pada Gibran.


"Iya sayang, sebentar lagi sampai kok" balas Gibran.


Hingga tak berapa lama mereka akhir nya sama di Rumah sakit, dengan cepat Gibran membawa Jelita pada Dokter yang memang sudah sejak lama menangani Jelita.


Gibran memeluk Kania saat mereka menunggu di depan ruangan tersebut. Kania terus saja menangis dengan terisak di pelukan sang Suami.


"Mas, bagaimana lagi kita menghadapi ini, aku kasihan melihat Jelita yang selalu kesakitan" ucap Kania lirih.


"Mas , jika pun kita harus ke luar Negeri aku ingin kita membawa Jelita. Uang masih bisa di cari" ucap Kania melepaskan pelukan tubuh Gibran.


"Iyaa, Mas juga sudah ada tabungan kok. Kita akan konsultasi terlebih dulu pada Dokter Yuda" balas Gibran.


Sedangkan di Rumah, Farhan sangat gelisah menanti Oma dan Opa nya. Ia sudah sangat ingin menyusul Ayah dan Bunda nya.


"Yaampun, Oma dan Opa mana sih" gerutu Farhan


Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di depan Rumah nya.

__ADS_1


"Oma , Opa jangan turun. Kita langsung ke Rumah sakit biasa" ucap Farhan menorobos masuk ke dalam mobil nya.


"Apa Kakak mu kambuh?" tanya Opa


"Iyaaa, Pak cepet ya" jawab Farhan.


Lalu sang sopir melajukan mobil nya dengan cepat, ia sudah tahu di mana Rumah sakit yang selalu menolong Putri dari tuan nya.


"Sejak kapan Jelita di bawa, Dek?" tanya Oma.


"Sejak 1 jam lalu, tumben Oma dan Opa lama jadi aku harus nunggu" gerutu Farhan.


"Lebih baik Jelita kita bawa saja ke luar Negeri, supaya lebih terjamin lagi" ucap Opa dengan khawatir.


"Ya mending juga begitu" balas sang Oma.


Sedangkan Farhan, ia hanya bisa mengangguk tanda setuju.


Mobil yang mereka tumpangi akhir nya sampai juga di depan Rumah sakit.


Dengan cepat, Oma , Opa dan Farhan langsung saja masuk ke dalam.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2