Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part


__ADS_3

Malam ini Jelita akan menginap di Rumah Oma nya, karena mereka ingin menghabiskan waktu bersama dengan Cucu nya.


Apalagi Adik dari Jayen, ia sangat senang dengan keberadaan Jelita disana.


"Kalau begitu kami permisi dulu" pamit Gibran.


"Hati-hati, dan jangan sungkan bila ada keperluan apapun" balas Ayah Jayen.


Gibran dan yang lainnya mengangguk lalu pergi dari sana.


Hana, Adik Jayen dan Sarah Putri dari Hana sangat lengket dengan Jelita. Mereka seperti memiliki teman baru.


"Bagaimana dengan kondisi mu, Nak?" tanya Opa Wira.


"Sudah agak mendingan, Opa. Hanya tinggal pemulihan saja" jawab Jelita lembut.


"Apakah penyakit mu parah hingga di larikan kesini?" tanya Hana hati-hati.


"Sejak aku seusia Sarah, aku sudah terkena penyakit ini bahkan sudah hampir stadium akhir. Saat itu, keuangan keluarga Ayah dan Ibu Putri sangat minim hingga kadang aku untuk cuci darah pun dengan di tanggung keluarga Aunty Ayu. Tetapi semakin kesini keuangan Ayah semakin meningkat hingga kami memutuskan pindah ke tanah air. Ayah , Bunda dan Farhan bahkan tidak pernah sekalipun ke Mall, taman ataupun bepergian jauh selain sekolah dan bekerja" jelas Jelita dengan tersenyum.


"Kenapa? Dan jangan bilang kalau kamu juga tidak tahu Mall?" tanya Hana cepat.

__ADS_1


"Ya, aku dan Farhan sampai saat ini tidak pernah mengetahu arena bermain, mall bahkan tempat wisata. Karena kondisi ku saat itu hingga kemarin sebelum sembuh sangat drop, tidak boleh terlalu capek karena akan berakibat fatal sama kesehatan ku" jawab Jelita masih dengan senyumannya.


"Onty, nanti pelgi ke mall sama salah dan Mommy" ucap Sarah dengan cadel.


"Kami janji, setelah kamu sembuh nanti kita akan kemanapun yang ingin kamu kunjungi" ucap Hana berkaca-kaca.


Sedangkan Oma dan Opa, bahkan suami Hana ikut merasa iba. Bahkan mereka menitikan air mata nya mendengar semua cerita Jelita.


"Hingga saat 1 minggu ke belakang, kepala aku sangat pusing bahkan aku sudah mimisan dan aku tak ingat lagi , bahkan sampai disini aku baru sadar" ucap Jelita kembali.


Oma Fita langsung saja memeluk Jelita dengan menangis tersedu-sedu.


"Ma maafkan kami, Nak. Kami telat menemukan mu, tetapi kami bersyukur sekarang kamu bisa bersama kami" ucap Oma Fita menangis terisak.


"Jangan kan ke Pantai, kamu mau kemana pun akan kami penuhi" ucap Opa Wira dengan tegas.


Jelita mengangguk antusias, Hana ikut memeluk mereka dengan air mata yang menetes.


"Jangan sedih, bagaimana kalau kita bakar-bakar di belakang" usul suami Hana.


"Holeee ayam bakal" pekik Sarah dengan girang.

__ADS_1


"Ide bagus tuh, Mas" ucap Hana tersenyum.


"Biar aku suruh Bibi untuk belanja terlebih dulu" ucap Hana kembali.


Hana pergi ke dapur sedangkan suami dan Ayah nya pergi menyiapkan di halaman belakang.


"Oma jangan nangis terus, aku udah gapapa kok" ucap Jelita lembut.


"Kamu harus semangat dan cepat sembuh, kita akan habiskan uang Ayah dan Opa mu nanti" balas Oma dengan terkekeh pelan.


"Aku ikut yaa Omaa, Onty" rengek Sarah dengan wajah polos nya.


"Nooo" goda Oma


"Mommmmmmmm" teriak Sarah dengan kesal.


"Iya-iya ikut" ucap Oma Fita dengan terkekeh.


Jelita dan Oma terkekeh melihat wajah menggemaskan Sarah. Lalu Oma Fita mendorong kursi roda Jelita ke arah halaman belakang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2