Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
59


__ADS_3

Sedangkan Sintia dengan sedang mengepak semua barangnya, ia dan Ayah nya akan pergi dari Negara tersebut. Mereka telah di tipu oleh rekan bisnisnya dan bangkrut.


"Huh belum juga dapat Elga , sudah kalah duluan" gerutu Sintia kesal


Lalu ia menyeret kopernya dan menemui sang Ayah yang sudah menunggu di luar mansion.


"Ayo, Nak" ajak Ayah nya lembut.


Mereka langsung pergi masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman mansion tersebut.


"Lupakan Elga, Nak. Dia sudah punya istri , kau tau kenapa kita hanya hidup berdua saja tanpa ibumu?" tanya Ayah nya dengan sendu.


Sintia menatap Ayahnya yang terlihat sedih.


"Kenapa memangnya, Ayah?" tanya balik Sintia.


"Ibumu meninggal dunia karena Depresi saat itu Ayah tergoda oleh wanita lain. Jadi Ayah mohon jangan lakukan itu pada lelaki yang bersuami karena itu akan mengingatkan Ayah pada dosa besar Ayah" lirih Ayah Sintia dengan terisak.


Sintia memeluk Ayahnya dengan sayang. Ia tidak tahu tentang kisah Ayah dan Ibunya karena ia besar dengan sang Kakek.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak akan lakukan itu" ucap Sintia serius.


Mereka langsung turun dan menuju ke arah pintu masuk Bandara saat mobil yang membawanya sudah sampai.


✴✴✴


Caffe GK.


Gibran , Kemal dan para pelayan sedang sibuk melayani pengunjung yang kian melejit.


Gibran dan Kemal di bagian meracik Coffe, Kania di bagian membuat Cake sedangkan Sofi di bagian kasir dan Pito di bagian pelayan.


Mereka semua bekerja dengan semangat bahkan Gibran dan Kemal kadang di buat kewalahan oleh pesanan.


Gibran merekrut pekerja 3 orang kurang lebih sudah 1 bulan. Ia dan Kemal kerap sekali mendapatkan pesanan Cake apalagi di malam minggu, jadi mereka berinisiatif mencari pekerja yang mahir di bidang membuat Cake.


Jam menunjukan angka 10 malam , sudah waktunya Caffe tutup. Gibran dan anak buahnya membereskan semua dan bersih-bersih bersama.

__ADS_1


"Bos semua sudah beres , apa ada lagi?" tanya Pito ramah.


"Tidak ada , tetapi tunggu sebentar lagi Kemal akan sampai membawa makanan untuk kita semua" jawab Gibran.


Mereka duduk santai dan mengobrol dengan di selingi gurauan. Hingga Kemal datang dengan tangan di penuhi keresek.


"Wahh bang Kemal banyak sekali" ucap Sofi berbinar.


"Iya ini semua bonus untuk semangat kita hari ini. Dan kita bahkan sudah melebihi target" balas Kemal bahagia.


"Ohh iya Bos, teman saya cewe ada yang ingin melamar pekerjaan di sini apa masih bisa?" tanya Pito sambil menata makanan dan minuman di meja dapur.


"Heleh bilang aja itu bini, Lo" ledek Kania terkekeh.


"Apa benar Pito?" tanya Gibran serius.


"Hehe iya, Bos. Jujur saja saya dan istri saya sedang butuh biaya karena keponakan istri saya sedang sakit keras. Kakak mertua saya membawa Cucu nya pindah kesini sekitar 5 atau 6 bulan yang lalu" ungkap Pito dengan sendu.


"Hmmm bisa saja sih , tapi kan gajihnya kecil terus apa dia mau jadi pelayan merangkak tukang cuci piring?" tanya Gibran tak enak.


"Tidak apa Bos yang penying istri saya bisa bekerja" jawab Pito cepat.


Mereka melanjutkan memakan camilan dengan sesekali bercanda. Setelah selesai Pito akan pulang sedangkan Kania dan Sofi mereka menempati kamar yang kosong di belakang Caffe. Mereka berdua dari panti asuhan yang sama bahkan saat Gibran menemukan mereka yang sedang ke copetan di halte Bis.


Gibran dan Kemal melajukan sepeda motornya pulang ke rumah yang tak jauh dari Ruko tersebut.


Setelah sampai Gibran langsung masuk saja , sedangkan Kemal ia memasukan dulu motornya.


Gibran langsung membersihkan tubuhnya yang lengket. Lalu setelah selesai ia merebahkan tubuh lelahnya di ranjang.


Gibran membuka galeri poto di ponselnya dan melihat poto Jelita.


"Nak, kau tak salah hanya Ibumu yang salah. Tunggu Ayah , Ayah akan menemuimu dan mengajakmu untuk bersama Ayah" gumam Gibran saat melihat poto Jelita yang sedang di gendongannya.


***


Pagi Hari.

__ADS_1


Gibran memutuskan untuk ke Caffa lebih pagi , karena ia ingin mengecek bahan-bahan di sana. Dia menyuruh Kemal untuk memakai jasa ojek atau taxi tetapi ia memilih untuk berangkat bersama.


"Cepetan, Bos" teriak Kemal gemas.


"Ck, kau ini tak sabar sekali" gerutu Gibran lalu ia naik ke atas motor.


Sedangkan di Caffe Kania dan Sofi sudah selesai membereskan dan membersihkan Caffe. Bahkan Kania mencatat bahan-bahan apa saja yang sudah mulai menipis.


Kania sudah tau jadwal belanja Bos nya adalah besok jadi ia berinisiatif mencatat semua yang sudah menepis.


"Kan , aku mandi duluan ya" ucap Sofi lalu melangkah ke kamar belakang.


"Oke , aku buka Caffe dulu" balas Kania.


Lalu Kania melangkah dan membuka Caffe , tetapi pintu utama masih tutup karena jam masih pagi.


Terdengar suara langkah kaki dari arah belakang.


"Kania" panggil Gibran.


Kania berbalik dan menatap Gibran lalu memalingkan lagi wajahnya


"Ehh iya, Bos" ucap Kania gugup.


"Apa kamu setiap pagi membersihkan Caffe?" tanya Gibran menelisik.


"Hmm iya , karena saya dan Sofi merasa bosan jadi saya membersihkan dan mengecek bahan. Ohh iya dan ini bahan-bahan yang sudah menipis sudah saya catat" jawab Kania lembut.


Gibran mengambil catatan itu dari tangan Kania.


"Yasudah sana kamu bersiap dahulu , biar saya saja dan Kemal yang meneruskan" ucap Gibran tersenyum.


Kania mengangguk saja dan pergi dari sana. Kemal membersihkan Caffe tersebut walau hanya tinggal sedikit saja.


Gibran masuk ke ruangannya dan membuka laporan keuangan kemarin. Besok adalah waktunya gajian , dia sudah mentransfer ke rekening anak buahnya satu-satu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2