
-PraHospital
Elga duduk di samping ranjang Ayu yang sedang tertidur. Ia tidak mau berjauhan dengan Putra dan Istri nya.
Sesekali Elga melirik ke arah boxs yang berisi Putra nya yang sama sedang terlelap. Ia harus lebih extra lagi untuk menjaga keluarga nya.
Hari sudah Pagi , Bunda dan Ayah Ayu sedang dalam perjalanan dari Bandara ke rumah sakit. Elga semalam memberitahu mereka dan mereka langsung terbang dengan jet pribadi nya.
"Terimakasih atas semua kebahagian yang tak terhingga ini" gumam Elga lalu mencium tangan Ayu dengan lembut.
Oek.. Oek..
Elga langsung menoleh dan menggendong Putra nya.
"Kenapa sayang, haus ya. Sabar dulu ya kasihan Mommy nya lagi istirahat dulu" ucap Elga yang menimang-nimang Putranya.
Elga terus tersenyum melihat wajah Putra nya yang merengut tetapi ia sudah diam. Putra nya mengerjap-ngerjap mata nya yang lucu. Elga sangat gemas dan mencium seluruh wajah Putranya.
"Daddd" panggil Ayu.
Elga menatap dengan wajah bahagia karena di panggil Daddy.
"Wahh lihatlah sayang, Mommy sudah bangun" ucap Elga dengan nada senang.
Ayu tersenyum melihat Elga yang berbicara layaknya anak kecil.
"Sudah lama ya, kenapa gak bangunin" ucap Ayu mengambil Putra nya dari tangan Elga.
"Kamu nya pules banget , terus kayak lelah. Dia juga tidak rewel kok, Mom" balas Elga tersenyum.
Ayu memberikan Asi pada Putra nya. Ia terlihat lahap sekali meminum susu nya. Elga terkekeh melihat wajah antusias Putranya.
"Dadd, Ayah dan Bunda sudah di beritahu?" tanya Ayu
"Sudah, mungkin sebentar lagi akan sampai" jawab Elga
Ceklek.
Ayu dan Elga mengedarkan pandangannya dan melihat siapa yang datang.
"Lana kau tunggu di luar dulu" ucap Elga posesif.
Lana hanya menghembuskan nafas kasar saja lalu ia keluar. Vani hanya tersenyum simpul melihat wajah suami nya yang masam.
"Apa ayab juga harus di luar, El?" tanya Ayah Antoni.
__ADS_1
"Iyaa Ayah, mari kita meminum kopi terlebih dahulu bersama Lana" ajak Elga terkekeh.
Ayah Antoni mendengus dan berjalan keluar di ikuti oleh Elga. Sedangkan Ayu tertawa kecil melihat suaminya yang berubah menjadi posesif akut.
Vani dan Bunda menghampiri Ayu yang masih menyusui Putra nya.
"Sayang, maafkan Bunda yang tidak bisa menemani mu yaa" ucap Bunda sendu.
"Tidak apa, Bunda. Mas Elga selalu siaga kok" jawab Ayu mengusap lengan sang Bunda.
"Selamat ya, Ayu. Tampan sekali dia" ucap Vani dengan gemas.
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Vani
"Boleh , tapi kamu duduk ya kasihan bayi dalam kandunganmu" jawab Ayu sambil menyerahkan Putra nya yang sudah kenyang menyusu.
Bunda memeluk dan mencium pucuk kepala Ayu dengan sayang. Ia teringat bahwa Ayu pernah ke guguran dan sampai membuat ia merasa terpuruk.
Ayu mengelus punggung Bunda nya dengan lembut. Ayu tahu bahwa Bunda nya sedang memikirkan ia dulu yang begitu terpuruk.
"Sekarang aku kuat, Bun. Aku memiliki suami yang sangat menyayangiku tulus, dia bukan hanya sekedar suami saja tetapi ia juga bagaikan pelindungku. Di tambah sekarang aku memiliki jagoan yang baru saja aku lahirkan" ucap Ayu dengan bangga.
"Iya kau benar, Nak. Bunda hanya teringat saat kejadian kelam itu" balas Bunda dengan mencium pipi Ayu.
Elga, Lana dan Ayah yang mendengarkan ucapan Ayu merasa sangat kagum. Ia bisa kuat bahkan saat orang yang di sayangi nya mengkhianati dirinya.
Ceklek.
"Wah apakah ini Cucu ku?" tanya Ayah Antoni dengan antusias.
"Iya Ayah, dia adalah pewaris dua kerajaan bisnis" jawab Ayu dengan terkekeh.
"Siapa nama nya, Nak?" tanya Bunda.
Ayu melirik Elga dengan tatapan meminta jawaban.
"Kafka Reihand Ardmaja" ucap Elga dengan tegas.
"Baby Kafka" ucap Ayah dan mengambil Bayi tersebut dari Vani.
"Nama yang sangat indah , kau akan menjadi Raja dari semua raja, kau tidak akan terkalahkan dan kau akan menjadi pelindung bagi keluargamu" ucap Ayah Antoni dengan wajah tegas.
Vani merasa sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga dermawan seperti mereka.
"Emmm Tuan Antoni" panggil Vani gugup.
__ADS_1
Lana menatap istrinya yang seperti ingin berbicara serius.
"Kenapa, Nak?" tanya Ayah
"Bolehkah jika nanti anakku lahir kau yang memberinya Nama?" ucap Vani dengan wajah memohon.
"Iya , Tuan. Saya akan merasa bangga kalau anda berkenan memberi nama pada Putra atau Putri ku nanti" ucap Lana menimpali.
Ayah Antoni menatap istri serta anak dan menantunya. Mereka menganggukan kepala tanda setuju.
"Baiklah, kabari saja aku nanti jika kau sudah melahirkan, Nak" balas Ayah Antoni tersenyum.
Vani memeluk Lana dengan bahagia. Ia berharap suatu saat nanti Anaknya akan bisa sesukses mereka.
"Ayah sinikan Cucu Bunda. Bunda juga belum menimang nya" ucap Bunda dengan serius.
"Tidak akan, sayang. Aku belum puas menimang Cucu kesayanganku" balas Ayah Anyoni cuek.
Bunda Rahma tersenyum menyirangi dengan wajah yang menyeramkan.
"Baiklah, berarti tidak akan ada jatah" ceplos Bunda dengan santai.
Ayah Antoni langsung memberikan Baby Kafka pada istrinya dengan tersenyum.
"Ini sayang, aku bisa nanti saja" ucap Ayah Antoni dengan cepat.
"Ck! Urusan jatah menjatah saja kau cepat" cebik Bunda dengan kesal.
"Ffpppttt" Elga dan Lana menahan tawanya agar tidak pecah.
"Heh jangan tertawa, kau juga akan berpuasa selama 40 hari, El. Begitupun dengan kau nanti Lana" ejek Ayah Antoni puas saat melihat wajah kaget Elga.
"Sayang?" ucap Elga meminta penjelasan.
"Iyaa kata Ayah benar. Kau harus berpuasa terlebih dahulu selama 40 hari karena masa nifasku" jawab Ayu dengan tersenyum geli melihat wajah prustasi Elga.
"Hahaha kau beli lah sagu dus Indomie dan kasih ke pengawal atau Art mu 1 biji sehari. Jika habis berarti kau boleh buka puasa" ledek Ayah Antoni.
Elga mencebik dan menatap wajah Ayah mertua nya dengan kesal.
Lana , Ayu dan Mertua nya serta Vani puas menertawakan wajah Elga yang sangat muram.
.
.
__ADS_1
.