
-Rumah Sakit PraHospital.
Ayu menangis terisak di dekapan Bi Sari dan Vani di depan ruang Operasi.
Ayu sedari tadi hanya menangis dan menangis. Bahkan ia sempat pingsan dan di infus.
Sudah 2 jam lebih sejak Elga masuk ke ruangan operasi tersebut.
Lana saat ini sedang mengurus Paman Elga yang sudah di tangkap anak buahnya.
Sedangkan Orangtua Ayu di jemput oleh sopir pribadi Elga ke Bandara.
Nicolass dan Malik langsung menuju ke rumah sakit dimana Elga di rawat. Mereka mengetahui saat sedang ingin berkunjung ke Perusahaan Ardmaja.
"Ay" panggil Nico lirih.
Ayu melepaskan pelukan dari Vani dan menatap Nicolass serta Malik yang datang.
"Hiks , Kak Nico. Mas El elga Hiks" ucap Ayu terbata.
"Kamu harus sabar , ingat Elga itu Pria kuat dia pasti bisa bertahan apalagi disini kamu menunggunya dengan calon anak kalian. Kamu harus banyak istirahat , pikirkan bayi dalam kandunganmu, Yu" ucap Nicolas lembut.
"Bagaimana aku bisa istirahat, Kak. Se sedangkan suamiku sedang ber berjuang di dalam sana Hiks Hiks" balas Ayu dengan lirih.
Vani kembali memeluknya untuk menenangkan Ayu. Iya sungguh sangat syok dengan semua kejadian ini.
"Ayuu" panggil Bunda Rahma dengan berlari.
Ayu mendongak dan berdiri memeluk Bunda nya. Ia menangis dengan tersedu di pelukan sang Bunda. Serasa sesak di dada nya saat melihat suami yang sangat di cintai nya bersimpuh dengan darah di hadapannya.
"Bunda, Hiks a aku ga gamau kehilangan, mas Elga" ucap Ayu lirih lalu pingsan di pelukan sang Bunda.
"Ya Allah Nak, bangun hei sayang" panik Bunda Rahma.
"Mas , gendong Ayu" teriak Bunda Rahma saat melihat suaminya baru sampai dengan Lana.
Ayah Antoni langsung berlari dan menggendong Ayu. Bi Sari mengajak Tuan dan Nyonya nya ke ruangan Ayu sebelumnya.
Sedangkan yang lainnya menunggu di depan ruang operasi.
"Mass" panggil Vani pada suaminya.
"Kamu istirahat ya, pulang dulu dan katakan pada Bi Sumi untuk memasak serta membawa pakaian ganti Nyonya" lembut Lana pada Vani.
__ADS_1
Vani hanya menganggukan kepala saja dan pergi dari sana dengan sopir. Lana mengkhawatirkan kandungan dan kesehatan Vani karena ia sudah terlihat kelelahan.
"Lan , bagaimana ceritanya sampai Elga tertembak?" tanya Ayah Antoni saat kembali kesana.
Hahh. Lana membuang nafas gusar lalu menatap mereka yang menunggu ceritanya.
-FlasBack On-
Saat Elga dan Lana masuk ke dalam ruang bawah tanah , mereka di hadang oleh beberapa anak buah dari Tono.
Elga dengan brutal melawan mereka. Ia sudah sangat marah saat istrinya sedang bersimpuh di lantai dan Tono menodongkan pistol ke arahnya.
Lana juga membantu mengahajar mereka hingga mereka kalah telak walaupun mereka 6 orang.
Saat Tono menarik pelatuk pistol tersebut dengan berlari Elga langsung manghadang peluru tersebut, hingga tiga peluru bersarang di dada dan perutnya.
Saat itu juga Lana langsung melumpuhkan Tono dan menyerahkannya pada pengawal untuk di bawa ke markas.
Lana langsung membawa Elga ke rumah sakit Pramudya. Sedangkan Ayu di papah oleh Bi Sari dan Vani.
-FlasBack Off-
Lana menunduk dengan persaan bersalah nya. Ia tidak bisa menjaga Tuan maupun Nyonya.
Nicolass menepuk pundak Lana dengan pelan. Ia mencoba menenangkan Lana yang sedang menyalahkan diri nya.
"Nyonya Ayu meminta aku untuk menyekapnya saja, ia sendiri yang akan memberi pelajaran pada nya" jawab Lana dengan enteng.
"Apaaa?" kaget Ayah Antoni
"Iya Tuan, anda tidak tahu saja bahwa Putri anda itu sama kejam nya dengan Tuan Elga" kekeh Lana.
Ayah Antoni hanya menggeleng kepala saja.
Ceklek.
Mereka langsung beringsut mendekat ke arah sang Dokter yang baru saja keluar ruangan.
"Aji , bagaimana Tuan Elga?" tanya Lana khawatir.
"Peluru nya sudah berhasil di angkat , tetapi ia banyak kehilangan darah. Kondisi nya saat ini kritis" jawab Dokter Aji dengan lesu.
"Apaaa , tidak mungkin" teriak Ayu dengan pilu.
__ADS_1
Mereka melihat ke belakang dan melihat Ayu yang sedang berdiri dengan air mata yang sudah menetes.
"Tidak , mas Elga pasti sembuh kan, Dok" ucap Ayu dengan segera berjalan ke arah Dokter Aji.
"Sabar dan berdoa lah, Nyonya. Aku yakin Elga pasti kuat dan dia pasti akan melewati masa kritis nya" balas Dokter Aji dengan lembut.
Ayah Antoni memeluk Ayu yang kembali menangis pilu , ia sangat kasihan melihat sang Putri yang menangis tanpa henti.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Ayu lirih.
"Boleh , tapi hanya satu orang dan jangan lama-lama, Nyonya" jawab Dokter Aji.
Ayu mengangguk dan berjalan ke ruangan ICU. Sebelum masuk ia memakai baju khusus dahulu.
Ayu berjalan dengan derai air mata ke arah ranjang Elga. Ayu menangis dalam diam saat melihat tubuh suaminya yang terbujur lemah dengan beberapa alat medis.
Ayu duduk di kursi di samping ranjang Elga. Ia menggenggam tangan Elga dengan sayang.
"Mas, kenapa kamu lakukan ini padaku, bangunlah mas , aku aku tidak sanggup tanpamu. Bagaimana aku tidur , siapa yang akan memeluk dan mengusap punggung ku yang pegal. Siapa yang akan memanjakan aku, mas. Aku mohon bangunlah" ucap Ayu dengan lirih, bahkan tangan Elga sudah basah oleh air mata Ayu.
Ayu memeluk tubuh Elga dan menangis di pelukan suaminya. Ayu menangis dengan pilu ia mengingat bagaimana hidupnya tanpa suaminya tersebut.
"Aku mohon mas, bangunlah. Apa kamu merasakan bagaimana anak kita merindukan usapan dan ciuman dari Daddy nya. Hiks Hiks apa kamu sudah tidak sayang lagi dengan kami hingga kau tertidur begini. Baiklah aku akan membiarkanmu tidur hari ini, tapi untuk besok aku mohon bangunlah mas, Hiks hiks" lirih Ayu dengan pelan.
Ayu terus menggenggam tangan Elga dengan erat, ia menangis dengan memeluk dan mencium tangan Elga.
"Sayang, sudah yah jangan menangis lagi. Ayo kamu harus istirahat dulu, biarkan Lana yang menjaga Elga disini" bujuk Ayah Antoni dengan lirih.
"Tapi, Ayah. Nanti mas Elga mencariku" balas Ayu pelan.
"Biarkan Elga istirahat dulu, kamu juga harus istirahat. Bagaimana jika Elga bangun kamu malah sakit" bujuk Bunda Rahma.
Ayu menatap wajah tampan suaminya dengan sendu. Ia mengusap pipi lembut suaminya dan mencium kening nya lama.
"Aku istirahat dulu ya, mas. Nanti aku kesini lagi" ucap Ayu lirih.
Lalu Ayu berjalan ke arah Bunda nya dan langsung memeluk nya dengan erat. Ayu menangis kembali dengan terisak.
Bunda Rahma membawa Ayu kembali ke kamar rawat nya karena ia belum sempat makan. Bunda Rahma takut kondisi Ayu akan mempengaruhi janinnya.
Ayu duduk di ranjang dengan pandangan kosong. Ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata perlahan lalu terisak lirih. Bunda Rahma memeluk Ayu dengan hangat, ia merasa kasihan dengan kondisi anaknya.
.
__ADS_1
.
.