
Jam 10 pagi pesawat yang membawa Ayu dan lainnya akhirnya sampai di Bandara. Disana Nadin dan Pranss sudah menunggu.
Mereka keluar dari pesawat satu persatu. Utari langsung berlari dan menghambur memeluk Pranss.
"Uhh yang temu kangen sesudah LDRan" Ledek Nadin dengan tertawa.
"Gapapa , syirik aja" Balas Utari menjulurkan lidah pada Nadin.
"Udah , ayo cepat kita pulang" Ajak Ayu
Mereka menaiki mobil berbeda. Tama bersama Nadin dan Ayu. Sedangkan Utari dan Pranss.
"Nanti malam aku akan ke mansion" Ucap El lembut.
"Aku tunggu" Balas Ayu tersenyum lembut.
Lalu El mencium sekilas kening Ayu dan pergi dengan Lana ke arah mobil yang sudah menunggunya.
Ayu melambaikan tangan saat mobil yang membawa El pergi dari sana, setelah itu Ayu pun masuk ke dalam mobil.
"Apa kalian juga tidak kangen-kangenan sama seperti, Utari" Ucap Ayu santai.
Uhuk uhuk
Nadin langsung tersedak saat mendengar ucapan Ayu. Dengan gerakan cepat Tama memberikan air minum untuk Nadin.
"Cih kalian pikir aku tidak tau apa, segeralah menikah" Sinis Ayu dengan kesal. Membuat Tama dan Nadin terkekeh.
"Kamu saja dulu dengan El , nanti kami akan menyusul" Jawab Tama santai.
Jawaban Tama membuat wajah Nadin bersemu merah karena malu. Ia menundukan wajahnya.
Ayu terkekeh melihat wajah Nadin yang sangat merah. Ingin sekali ia menggoda nya tapi ia merasa lelah.
***
Hampir 1 jam lebih mereka di perjalanan akhirnya sampai juga. Ayah dan Bunda Ayu sudah menunggu di luar mansion dengan wajah tersenyum.
Ayu keluar dan langsung memeluk Bunda dan Ayah nya. Entah kenapa sekarang ia sangat tidak bisa jauh bersama kedua Orangtuanya.
"Bundaa aku sangat merindukan kaliann" Ucap Ayu dengan manja.
Tama dan yang lainnya memutar mata malas melihat ke manjaan sahabat dan juga Bos nya.
"Ayo masuk dulu, kalian pasti belum makan" Ajak Bunda dengan lembut.
Dengan senang hati mereka mengikuti langkah sang Bunda ke ruang makan. Lalu mereka duduk di kursi yanga ada disana.
Mereka makan dengan diam karena sang Ayah melarang keras jika di meja makan jangan ada yang berbicara.
Setelah selesai mereka berkumpul langsung di ruang keluarga.
"Bunda , Ayah , nanti malam Elga akan kesini" Ucap Ayu dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya , dia akan melamar Nona Ayu" Celetuk Utari dengan wajah tenangnya.
Yang lainnya hanya bisa mengulum senyum melihat wajah kesal Ayu. Ayu dan Utari akan selalu berdebat jika sudah berdekatan tetapi mereka akan saling melengkapi dan menjaga.
"Apa ada hal yang penting, sayang?" Tanya Ayah dengan mengabaikan wajah masam Utari yang tak di tanggapi.
"Hemm nanti saja biar Elga yang akan bilang" Jawab Ayu malu.
Hahaha semua orang tertawa saat melihat wajah malu Ayu. Apalagi Utari ia sangat senang dan bahkan paling kencang tertawa.
Ayu mencebik kesal dan berlalu ke kamar karena ingin istirahat.
"Huhh aku bahagia sekali melihat wajah Kak Ayu yang berbinar" Ungkap Utari tulus.
"Iyaaa dan jangan kau goda terus" Ucap Bunda dengan tersenyum.
"Hehe maaf Bunda" Cengenges Utari.
Lalu mereka bubar dan istirahat di kamar masing-masing. Sedangkan Ayah dan Bunda berlalu ke halaman belakang.
"Ayah , apa kau sudah selidiki tentang El?" Tanya Bunda
"Sudah , Bunda tenang saja. Dia adalah lelaki yang akan membahagiakan Putri kita, dia juga yang akan menjaganya. Aku sudah mengenal dia sejak merintis perusahaannya" Jawab Ayah tersenyum.
"Syukurlah, Bunda takut Ayu mendapatkan lelaki yang tak bisa membuatnya bahagia seperti Gibran" Ucap Bunda lesu.
"Jangan di ingat lagi, Bun" Balas Ayah memeluk istri nya.
***
Semua sudah bersiap , bahkan jamuan makan malam kali ini di masak langsung oleh Ayu dan Bunda Rahma.
Jam sudah menunjukan pukul 07 malam. Ayu bahkan sudah bersiap sedari tadi dengan di temani oleh Utari dan Nadin.
Ayu merasa sangat gugup , bahkan jantungnya berdetak dengan kencang.
"Rileks aja, Kak" Ucap Utari menenangkan.
"Hemm iyaa, Dek" Balas Ayu.
Nadin masuk dengan tersenyum.
"Ayo ke bawah , El dan Lana sudah datang" Ajak Nadin
"Hmmm" Balas Ayu gugup.
Lalu mereka turun dengan Ayu di tengahnya. Ayu melihat El dengan gagah dan tampannya duduk berhadapan dengan sang Ayah.
Malam ini El nampak lebih santai dengan pakaian yang biasa. Dia terlihat lebih tampan dari biasanya.
Ayu duduk di antara Orangtua nya. El menatap Ayu tanpa berkedip bahkan ia tertegun melihat ke cantikan wanita di hadapannya.
"Hmmmm" Dehem Antoni.
__ADS_1
El langsung tersadar dari lamunannya. Lalu ia menatap wajah sang calon mertua.
"Hmm. Begitu Tuan Antoni, saya kesini bermaksud untuk melamar Putri anda. Maaf jika saya langsung to the point karena saya tidak pandai berbasa-basi" Ungkap El dengan tegas.
"Dan mungkin anda sudah tahu bahwa saya hanya sebatang kara , selain bersama Lana. Jadi saya kesini hanya berdua saja" Ucap El kembali.
"Saya pribadi setuju saja , bahkan kalaupun mau menikah besok saya akan siap. Tapi kembali lagi kepada Putri saya karena hanya dialah yang berhak menentukannya" Balas Tuan Antoni dengan tak kalah tegas nya.
Lalu Tuan Antoni menatap Ayu yang duduk di sisi nya. Dia melihat ada cahaya kebahagian di mata sang Putri.
"Nak, bagaimana? Apa kau mau menerima Nak Elgaza?" Tanya sang Ayah serius.
Ayu menghela nafas dalam dan membuang dengan perlahan , lalu ia menatap manik pria di depannya.
"Iya Ayah, Ayu menerimanya" Jawab Ayu dengan yakin.
El tersenyum senang bahkan ia sampai tersenyum lebar.
"Alhamdulilah" Ucap semua orang.
Ayu menunduk kembali tak kala mata nya bertemu dengan mata tajam El.
"Jadi kapan rencana pernikahan kalian?" Celetuk Tama
"1 minggu lagi" Jawab El dengan yakin
"Baiklah, Bunda akan mulai siapkan semuanya. Dan Bunda ingin pernikahan ini yang termewah karena Bunda berharap ini pernikahan terakhir Ayu" Ucap Bunda Rahma antusias.
"Terserah Bunda saja. Nanti Bunda akan di bantu oleh Utari. Soal baju pengantin dan gaun resepsi aku serahkan pada Nadin" Balas Ayu tersenyum.
"Apa kau tak keberatan, El?" Tanya Ayah Antoni
"Semuanya aku serahkan pada Ayu dan Nyonya. Kalau masalah cincin pernikahan aku dan Ayu yang akan membelinya besok" Jawab El dengan wajah tanpa exspresi andalannya.
"Jangan panggil Tuan dan Nyonya , Bunda dan Ayah saja sama seperti, Ayu" Protes Bunda.
"Baik, Bunda" Balas El tersenyum tipis.
"Ayo makan malam dulu, nanti lanjutkan lagi ngobrolnya" Ajak Bunda lalu ia berdiri dari duduknya.
"Ayo" Ucap Ayah Antoni.
Lalu mereka berdiri dan mengikuti langkah sang tuan rumah. Setelah sampai di meja makan , El duduk di sisi Ayu.
Ayu mengambilkan makanan untuk El dengan perasaan campur aduk. Utari hanya tersenyum saja sejak tadi. Ia tidak menggoda ataupun mengolok sang Kakak, karena ia tak ingin mengganggu di hari bahagianya.
.
.
-**Kita akan lupakan sejenak masalah Putri dan Gibran. Author akan Up tentang kebahagian Ayu dahulu ya. Sebelum nanti ada konflik lagi.
Ayo terus Vote , Like dan Coment nya.
__ADS_1
Terimakasih**.