
Hari ini, Qilla dan Nana sudah bersiap untuk ke bandara dengan di antarkan oleh sopir keluarga Elga.
Mereka berdua akan berlibur ke mansion Kafka dan Adel, bahkan mereka sudah meminta izin selama 1 minggu.
"Jangan di tekuk muka nya, Na" tegur Qilla dengan tersenyum.
"Bagaimana tidak di tekuk coba, kau enak kalau di pecat pun tidak akan kelaparan" gerutu Nana saat memikirkan bahwa dia dan Qilla tidak di beri izin dari Restoran.
Qilla langsung saja merangkul Nana dengan sayang.
"Na, semester besok kita harus fokus ke kuliah karena kita akan Wisuda" ucap Qilla
"Iyaa itu juga, Qill. Tapi aku kan tidak akan sanggup dan tidak ada biaya untuk sehari-hari kalau tidak bekerja" balas Nana menghela nafas kasar.
"Ck, kau ini apa lupa? Tabungan mu masih cukup untuk 1 semester ini dan kita akan langsung mencari kerja sesuai ahli kita" ucap Qilla dengan santai.
"Hah baiklah terserah padamu saja' pasrah Nana
Lalu mereka bersiap karena pesawat yang akan mereka tumpangi akan take off.
"Kok aku deg-degan gini ya, La" lirih Nana dengan wajah polos nya.
"Haha, ayo lah jangan katro begitu, Na" ledek Qilla dengan tertawa kecil.
Pletak.
Nana langsung menjitak kepala Qilla dengan kesal, lalu mereka tertawa bersama dengan renyah.
__ADS_1
Lalu mereka berdua langsung saja masuk ke dalam pesawat tersebut.
Qilla memberikan Nana tempat duduk di samping jendela agar lebih rilexs.
"Hei jangan tegang begitu" ucap Qilla terkekeh.
"Ck, ini pertama kali nya aku naik pesawat" gerutu Nana dengan mencebikan bibir nya.
Qilla hanya menggelengkan kepala saja, lalu mereka diam dan memejamkan mata nya.
Nana merasa pusing tapi hanya sebentar saja dan setelah itu biasa saja.
***
1 Jam kemudian, mereka berdua sampai di Negara P. Kafka sudah menyuruh Rendi untuk menjemput sang Adik dan sahabat nya.
Bahkan Qilla sampai tertawa cekikikan saat melihat wajah tak berdaya dari sahabat nya.
"Qill, masih jauh tidak?" tanya Nana dengan lesu.
"Setengah jam ke mansion Kak Kafka dari sini, ayo cepat Kak Rendi sudah menunggu" jawab Qilla
Nana hanya menganggukan kepala saja, lalu mereka segera keluar dari bandara dan mencari keberadaan Rendi.
"Nona" panggil Rendi dengan melambaikan tangannya.
Qilla langsung saja menghampiri Rendi bersama dengan Nana, lalu ia menyuruh anak buah Daddy nya untuk membawakan barang-barang milik dirinya dan Nana.
__ADS_1
"Ayo Kak, aku sudah lelah" ajak Qilla dengan cepat.
Rendi menganggukan kepala dan membukakan pintu untuk Qilla dan Nana.
"Terimakasih, Tuan" ucap Nana sopan.
"Sama-sama" balas Rendi.
Lalu Rendi langsung saja melajukan mobil nya ke arah mansion sang Tuan Muda.
"Bagaimana kabar Kak Milsi dan Putri mu?" tanya Qilla.
"Mereka baik-baik saja, Nona. Dan Istri ku menunggu anda di mansion Tuan Muda" jawab Rendi.
"Woah seru dong" pekik Qilla dengan berbinar.
"Ahh aku sudah sangat merindukan keponakan-keponakan aku" ucap Qilla kembali.
Nana menggelengkan kepala melihat kelakuan sang sahabat, ia sudah bisa menebak bahwa kedua bayi tersebut akan menjadi bahan bullyan Qilla.
Hingga beberapa saat, mereka sampai di kediaman Kafka. Lagi dan lagi Nana di buat takjub dengan kediaman keluarga Ardmaja, bahkan ia merasa tidak percaya akan yang ia lihat sekarang.
Banyak di kampus dan tempat kerja nya yang selalu membahas kediaman Tuan Muda Kafka yang sangat elegant, mewah dan bagaikan istana.
.
.
__ADS_1
.