
Suasana di Rumah sakit menjadi tegang karena kondisi Oma Rahma yang semakin menurun, bahkan Mom Ayu sudah menangis sejak tadi di pelukan sang Suami.
Qilla berusaha tenang dengan semua nya, ia bahkan menggenggam tangan Zayn dengan erat karena panik dan khawatir.
"Tenanglah, semua nya baik-baik saja" ucap Zayn dengan lembut.
Lalu dari arah lain terlihat Kafka, Adel , Rendi dan Milsi berlari menghampiri mereka semua.
Qilla langsung berdiri dan memeluk sang Kaka Ipar, ia menumpahkan air mata nya di pelukan sang Kakak.
Sedangkan Kafka, dia memeluk tubuh renta Opa nya yang sedang duduk bersandar di kursi tersebut.
"Opaa" panggil Kafka lirih.
Opa Antony menatap Kafka dengan tersenyum, ia tidak akan membuat cucu dan Putri nya khawatir.
"Opa baik-baik saja, sayang" ucap Opa Antony dengan lembut.
"Ya aku tahu Opa sangat kuat dan hebat" balas Kafka memeluk Opa Antony.
Lalu tak lama kemudian Dokter keluar dengan wajah lesu nya.
Mereka semua langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi Oma?" tanya Kafka cepat.
"Maaf Tuan, Nyonya Rahma sudah tiada" jawab Dokter dengan menundukan kepala nya menyesal.
__ADS_1
"Tidakkkkkkk" teriak Qilla histeris.
Zayn langsung memeluk nya dengan erat, ia membawa Qilla untuk duduk di samping Nana yang sudah terisak di pelukan Dio.
"Zayn, ini bohongkan? Tidak mungkin Oma sudah pergi hiks hiks" ucap Qilla dengan terisak pilu.
Mom Elysa mendekat dan mengusap lembut kepala Qilla dengan sayang.
"Sabar ya sayang, kamu harus ikhlas Nak" ucap Mom Elysa lembut.
Sedangkan Mom Ayu sudah tidak sadarkan diri di pelukan Dadd Elga.
Opa Antony langsung duduk dengan wajah yang berderai air mata, ia memejamkan mata nya menahan sesak di dada nya.
Wanita yang sangat dia cintai sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Zayn, Dio dan Rendi mengurus semua kepulangan jenazah Oma Rahma ke mansion utama Ardmaja.
Kabar duka tersebut pun sudah menyebar kemana-mana, bahkan para kolega bisnis Antony sudah mulai berdatangan ke mansion.
Elga masih menenangkan sang Istri, begitu pun dengan Adel yang menenangkan Kafka.
Sedangkan Qilla bersama Nana dan Mom Elysa.
Opa Antony berusaha tegar dan kuat, ia tidak akan mengeluarkan air mata nya karena takut sang Istri akan terbebani.
Dengan sekuat hati ia tegar dan mulai membawa jenazah pulang.
__ADS_1
"Aku yakin nanti kita akan bersama kembali disana , sayang" ucap Opa Antony dengan mengecup kening Oma Rahma terakhir kali nya.
"Tenanglah disana dan tunggulah aku di sana, sayang" ucap nya kembali.
Rendi terus saja menguatkan sang Tuan agar bersabar dengan cobaan ini.
Sedangkan di Mansion, sudah banyak pelayat yang berdatangan kesana, bahkan para Art dan penjaga pun menitikan air mata nya karena mendengar kabar duka tersebut.
Semua kerbat satu persatu datang kesana, Tama dan Istri nya pun sudah ada disana dan menunggu jenazah sang Mommy.
Semua nya terasa sangat mimpi, mereka tidak ada yang menyangka bahwa sang Oma akan pergi lebih dulu.
***
Zayn terus saja memeluk tubuh lemah Qilla, ia merasa sangat kasihan melihat Qilla yang terus saja menangis dan terisak.
"A aku kehilangan Oma, Zayn hiks hiks" ucap Qilla dengan lirih.
"Ikhlas ya sayang, walaupun berat tetapi kamu ikhlas agar Oma bahagia disana" balas Zayn dengan lembut.
Qilla hanya menganggukan kepala saja, lalu ia menahan isak tangis nya dengan membenamkan wajah nya di dada bidang Zayn.
.
.
.
__ADS_1