Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part


__ADS_3

Sedangkan di Apartemen, Farhan dan Kedua Orangtua nya sedang menonton televisi sambil menunggu pasangan pasutri tersebut.


"So sok an mau nolak, eh nyampe jam segini belum juga pulang" ledek Farhan dengan tawa renyah.


"Haha kau benar, Dek. Kakak mu dasar, di kira nya kita gak tau apa ya bahwa mereka sudah jadian" timpal Gibran dengan terkekeh.


Kania hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum saja.


Ting Nong.


"Nah itu mereka" ucap Kania bangkit dari duduk nya.


Kania membuka pintu dan tersenyum menyambut Putri nya dengan Dokter Ardi.


"Maaf kita terlambat, Nyonya" ucap Dokter Ardi sopan.


"Tidak apa, mari masuk" ajak Kania lembut.


Lalu mereka masuk dan duduk bersama dengan Gibran dan Farhan.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Gibran.


"Sudah Ayah" jawab Jelita.


"Tuan , Nyonya , maaf saya harus kembali ke Rumah sakit" pamit Ardi dengan sopan.


"Baiklah, terimakasih ya Dokter" ucap Gibran lembut.


"Sama-sama Tuan" balas Ardi. Lalu ia melangkahkan pergi dari Apart tersebut.

__ADS_1


"Hemm hemm uhuk" goda Farhan dengan menahan tawa nya.


"Apa" sengit Jelita dengan mendelik.


"Hahahahha" tawa Farhan pecah dan itu sangat membuat Jelita kesal.


"Bundaaaa" rengek Jelita pada Kania.


"Adekkkk udah" tegur Kania dengan menabok pelan tangan sang Putra


"Haha iya Bunda maaf, soalnya lucu sekali sih" ucap Farhan dengan tawa kecil nya.


Jelita mendelik dan menjitak kepala sang Adik. Ya memang begitu kelakuan mereka jika sudah berkumpul. Tetapi Farhan tidak akan membuat Kakak nya lelah meski selalu berdebat kecil juga.


"Kak, apa sudah tidak merasa gampang lelah?" tanya Farhan serius.


"Besok kita akan menemui Ayah kandung dan Keluarga nya, Nak" ucap Kania lembut.


jelita menganggukan kepala nya dengan tersenyum.


"Aku tidak akan berharap apa-apa Bun, aku hanya ingin tahu saja. Setelah itu terserah mereka saja" balas Jelita


"Ayah mu memberikan sebuah perusahaan yang cukup besar padamu, bahkan Asistennya sudah mengubah atas nama nya jadi atas nama kamu, Nak. Bahkan Ayah sudah mulai bekerja disana menggantikan kamu dulu" ucap Gibran.


"Jika ke depannya tidak akan terjadi masalah aku akan menerima, tetapi jika ada masalah ataupun berupa perebutan warisan aku tidak ingin, Ayah" balas Jelita tegas.


"Tidak, Nak. Ini murni perusahaan Ayahmu bukan perusahaan dari Kakek mu" ucap Gibran.


"Baiklah, Ayah saja yang mengendalikannya dan aku yang akan menghabiskan uang nya kembali" balas Jelita dengan terkekeh.

__ADS_1


Gibran mengusap lembut kepala sang Putri. Ia sangat bersyukur karena Jelita sudah sembuh dari sakit yang selama ini menggorogoti nya.


"Aku ingin menelpon Nenek" rengek Jelita.


"Nanti malam mereka akan tiba disini, Kak" ucap Farhan


"Benarkah?" tanya Jelita dengan antusias.


"Iyaa, Paman dan Bibi mu juga ikut kemari. Kebetulan Paman mu ada kerjaan di sini jadi sekalian saja mereka ikut untuk memastikan keadaanmu, mereka kira Ayah dan Bunda berbohong" jawab Gibran terkekeh.


"Bundaaa ayo


"Nooooooo" potong ke tiga nya saat tahu bahwa Jelita ingin masak bersama sang Bunda.


Jelita membuang nafas kasar dan mengangguk pasrah.


"Setelah Kakak sembuh , Bunda janji akan mengajak Kakak masak banyak makanan" ucap Kania lembut.


"Iyaa , aku dan Ayah yang akan menghabiskannya" timpal Farhan dengan tertawa renyah.


Jelita mengangguk antusias, ia lalu memeluk Adik tersayang nya. Sedangkan Gibran dan Kania memeluk mereka bersamaan.


"Kami disini bahagia, Put" batin Kania tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2