
Waktu berjalan terasa begitu cepat , hingga sudah hampir 5 bulan Delisa berada di Negara I. Kafka hari ini akan menjemputnya karena Delisa akan kembali ke Negara T.
"Salam buat Ikmal dan Keila ya, Ka" ucap Ayu memeluk Putra nya.
"Baik , Mom" balas Kafka.
Lalu Ayu melambaikan tangannya saat melihat kepergian Kafka. Entah kenapa perasaan Ayu tak enak dari semalam. Bahkan tidur wanita itu pun tidak senyenyak malam lainnya.
"Ayo , Momm" ajak Qilla menggandeng lengan Ayu.
Ayu hanya mengangguk dan langsung menuju ke mobil nya. Entah kenapa perasaan nya makin tidak menentu.
Hari ini Elga dan Lana ada meeting ke luar Kota jadi Ayu dan Qilla yang mengantarkan Kafka.
"Mommy kenapa?" tanya Qilla
"Entahlah sayang , Momm merasa tak enak perasaan begini" jawab Ayu dengan mengelus Putri nya.
"Itu mungkin karena Mom sedang berjauhan dengan kedua Lelaki hebat di dalam hidup Mom" ucap Qilla dengan terkekeh.
Ayu mengacak rambut Qilla dengan gemas , tingkah laku dan ucapan Qilla ada saja yang bikin diri nya tersenyum.
Sedangkan Kafka , ia merasa sangat berbedar hati nya , entah kenapa ia juga seperti merasakan sesuatu yang aneh.
Duduk nya pun sangat gelisah , ia tak tau apa yang terjadi.
"Tuan muda , apa anda memerlukan sesuatu?" tanya anak buah nya.
"Tidak ada , aku hanya ingin Coffelate saja" jawab Kafka menghela nafas.
"Baik" ucap anak buah tersebut.
Kafka menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ia merasa sangat was-was.
Setelah beberapa jam mengudara akhirnya Kafka sampai juga di Bandara Negara I.
Ia langsung keluar dan masuk ke dalam mobil yang sudah di sediakan oleh anak buah nya. Kafka sudah tak sabar ingin bertemu dengan Delisa.
"Langsung ke mansion Om Ikmal saja" ucap Kafka.
"Baik Tuan" balas sang Sopir.
__ADS_1
Sesampainya disana ia melihat Delisa , Keila dan Ikmal yang sudah menunggunya. Kafka merasa kagum saat melihat Delisa yang sudah tertutup.
"Selamat datang , Nak" sapa Ikmal saat Kafka menghampiri nya.
"Terimakasih Om, apa kabar kalian?" tanya Kafka lembut.
"Kami baik-baik saja" jawab Keila tersenyum.
Lalu mereka langsung masuk ke dalam mansion. Delisa membuatkan minuman untuk Kafka.
*Prangg
Prangg*
"Tuann , Nyonya" teriak Bibi Art dengan panik.
Ikmal , Keila dan Kafka langsung menuju dapur dengan khawatir.
"Ada apa , Yaampun Delisaaaaa" teriak Keila khawatir.
"Sayang heii bangun" ucap Kafka dengan menepuk pelan pipi Delisa.
"Yaampun darah" gumam Kafka semakin khawatir.
"Sayang , kamu tunggu disini ya aku sama Kafka akan ke Rumah sakit dulu" ucap Ikmal.
"Iya mas, hati-hati" balas Keila.
Ikmal dan Kafka langsung membawa Delisa ke Rumah sakit yang dekat.
"Sayang hei , bertahanlah aku mohon" ucap Kafka memeluk tubuh Delisa yang tak berdaya.
"Tenanglah, Nak" ucap Ikmal.
Sesampainya di Rumah sakit Kafka langsung membawanya masuk dan berlari mencari Dokter. Lalu mereka di arahkan ke ruang UGD oleh Dokter dan Perawat.
Kafka dan Ikmal menunggu dengan perasaan kacau , apalagi Kafka ia sangat panik dan khawatir.
Drrttt Drrtt
"Haloo Momm" ucap Kafka.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ayu saat mendengar suara Kafka yang khawatir.
"Aku lagi di RS , Delisa masuk ke RS" jawab Kafka pelan.
"Apaaa , Mommy , Qilla dan Daddy akan kesana sekarang" ucap Ayu cepat mematikan ponselnya.
Kafka hanya diam dan melihat kembali ke arah ruangan yang tertutup rapi.
"Om , Delisa kenapa?" tanya Kafka
"Om juga tidak tau, Nak. Mungkin Tante mu tau karena dia selalu bersama Tante mu" jawab Ikmal menghela nafas.
"Apa yang kamu sembunyikan , Del" lirih Kafka dengan sendu.
Ceklek.
Dokter keluar dengan wajah serius dan tegang nya. Ia lalu menghadap ke arah Ikmal dan Kafka.
"Bagaimana keadaan , Adik saya?" tanya Ikmal cepat.
"Begini Tuan , Adik anda menderita kanker otak stadium akhir. Saya sarankan anda membawa Adik anda ke Rumah sakit PraHospital" jawab Dokter dengan serius.
Bagai tersambar petir siang bolong , Kafka terduduk lemas dengan nafas memburu.
"Apaa Kanker otak" ucap Kafka pelan.
"Iya Tuan. Semua akan saya siapkan dan kalian bisa membawanya langsung ke PraHospital. Semoga ada keajaiban disana dan Adik anda bisa sembuh" ucap Dokter kembali. Lalu Dokter menyiapkan kembali semua keperluan Delisa.
Kafka meninju tembok dengan keras. Ia sangat merasa tidak berguna dan ia juga merasa kecewa kenapa Delisa tidak memberitahu nya.
"Sabar , Om juga sama syok nya denganmu. Om tak tau kalau saja Om tahu Om akan membawanya berobat" ucap Ikmal menenangkan Kafka.
"Kenapa, Om. Kenapa Delisa menyembunyikannya dariku. Aku sakit , aku aku merasa tak berguna Hiks" balas Kafka dengan terisak di pelukan Ikmal.
"Aku gagal menjaga nya, Om" ucapnya kembali.
"Tenanglah , ayo kita langsung ke Rs milik Ibumu" ajak Ikmal saat melihat Brangkar berisikan Delisa sudah di dorong keluar.
"Sayang" lirih Kafka memegang tangan Delisa.
Lalu mereka langsung menuju ke Rumah sakit PraHospital. Disana tim Dokter dan yang lainnya sudah bersiap karena dapat telepon dari Lana.
__ADS_1
.
.