
Anak buah Dokter Ardi langsung saja mengantarkan Farhan ke Apart dan juga mendaftar sekolah.
Farhan awal nya tidak mau di temani karena takut merepotkan tetapi Gibran merasa khawatir. Gibran dan Kania akan menemani Jelita untuk cekup kondisi nya jadi dengan berat hati ia membiarkan sang putra di antar orang lain.
"Ayah dan Bunda jangan merasa bersalah, Farhan tak apa kok. Kesehatan Kakak jauh sangat penting" ucap Farhan menenangkan orangtua nya.
"Maaf ya, Dek. Jika Kakak sembuh Kakak yang akan mengantar kamu kemanapun" balas Jelita sendu.
"Ck, aku ini sudah dewasa ya. Bahkan sudah mau lulus SMA, kalian masih saja menganggap aku anak kecil" kesal Farhan.
"Baiklah-baiklah, sana pergi anak dewasa" olok Gibran dengan mendorong sang anak pelan.
"Jangan rindu kan akuuuuu" balas Farhan menggoda.
Mereka tertawa kecil dengan tingkah Farhan, meski sudah dewas tetapi kadang tingkah laku nya sangat manja.
"Ayo Ayah, Bunda" ajak Jelita semangat.
"Wah semangat bener nih" goda sang Bunda.
"Kan aku sudah ingin sembuh" balas Jelita malu.
Kania dan Gibran saling tatap dengan wajah menggoda nya.
"Bukan karena mau ketemu Dokter Ardi" ledek Gibran mendorong kursi roda Jelita.
"Ihh apaan Ayah" gerutu Jelita menundukan kepala nya.
__ADS_1
"Wah Putri Ayah sudah main suka-suka an ya. Ayah bilang sama Papa yaa" olok Gibran mencium pucuk kepala Jelita.
"Ada apa nih?" tanya Ikmal yang baru saja tiba.
"Lihatlah, Putri kita sudah suka sama cowo, Mal" ucap Kania terkekeh.
"Bundaaaa apaan ih" rajuk Jelita dengan wajah memerah.
"Wah benarkah, Mbak?" tanya Keila dengan menaik turunkan alis pada Jelita.
Lalu mereka tertawa pelan dengan wajah malu-malu Jelita. Mereka langsung masuk ke ruang pemeriksaan, disana Dokter Ardi sudah menunggu dengan tersenyum.
"Selamat Pagi, bagaimana pagi ini?" tanya Dokter Ardi lembut.
"Baik, Dok" jawab Jelita tersenyum.
Lalu Dokter Ardi mengambil alih kursi roda nya dan membawa ke dekat ranjang. Dengan sigap Dokter Ardi langsung menggendong Jelita dan merebahkannya di atas ranjang pasien.
Sedangkan para Orangtua terlihat menahan tawa karena melihat Jelita yang melirik ke arah mereka.
Gibran dan yang lainnya menatap dengan seksama hasil pemeriksaan Jelita.
"Semua nya baik, hanya tinggal pemulihan, dan rutin meminum obat" ucap Dokter Ardi lembut.
Gibran tersenyum menggoda kepada sang Putri.
"Dokter apa ada pasien lagi?" tanya Ikmal
__ADS_1
"Tidak, Tuan" jawab Dokter Ardi.
"Kalau begitu bisakah kami menitip Jelita? Karena kami harus mengecek Apart dan kondisi Farhan" ucap Gibran.
"Silahkan Tuan, saya akan membawa nya jalan-jalan ke taman" balas Dokter Ardi tersenyum.
"Baiklah kami permisi, Dok" ucap Ikmal dengan tersenyum.
Kania dan Keila melambaikan tangan dengan senyum menggoda nya.
Sedangkan Jelita, ia sudah memalingkan wajah nya karena sangat malu dengan kelakuan sang Keluarga.
"Yaampun kalian sangat memalukan, awas saja" batin Jelita menggerutu.
Sedangkan Dokter Ardi tersenyum penuh arti. Lalu ia memindahkan Jelita ke kursi roda nya dan mendorong nya keluar dari ruangan.
"Jalan-jalan pagi dulu ya" ucap Dokter Ardi.
"Benar kan Dokter tidak ada pasien lagi?" tanya Jelita memastikan.
"Tidak ada, kamu tenang saja hari ini bukan jadwal praktek ku" jawab Dokter Ardi lembut.
Jelita hanya mengangguk dengan tersenyum malu. Entah mengapa ia merasa bahagia bertemu dengan pria yang sudah menolong nya dulu.
.
.
__ADS_1
.