Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
68


__ADS_3

Hari berganti dengan sangat cepat. Saat ini usia kandungan Ayu sudah memasuki 8 bulan. Elga menjadi lebih overprotectip terhadap setiap kegiatan Ayu.


Bunda dan Ayah nya akan datang 1 bulan sekali, karena disana juga ia sedang sibuk dengan dua bumil.


Ya Utari pun sedang mengandung dan baru berusia 3 bulan , sedangkan Nadin sudah 6 bulan.


Ayu menikmati hari-hari nya dengan sangat senang. Ia sangat di manjakan bahkan di penuhi semua keinginannya oleh Elga.


Lana dan Vani pun ikut serta tinggal di mansion tersebut dan saat ini Vani sedang mengandung dan baru 2 bulan usia kandungannya.


"Sayang , tolong siapkan pakaian mas ya , masa akan ke luar Kota selama 3 hari" ucap Elga sambil memeluk Ayu dari belakang.


"Baiklah, mas. Kapan akan berangkatnya?" tanya Ayu


"Lusa , mas akan berangkat dengan Lana" jawab Elga. Tangan Elga mengusap lembut perut buncit Ayu.


"Uhh kau sudah bisa menendang ya, Nak" pekik Elga bahagia.


"Iya, mas. Dia sudah mulai menendang bahkan kadang Ayu di bikin kaget dengan tendangannya" balas Ayu mengusap lengan kekar suaminya.


Elga beralih dan berjongkok di hadapan perut Ayu. Ia mencium berkali-kali perut buncit tersebut.


"Sayang , jangan membuat Mommy lelah, Oke" ucap Elga tersenyum karena Baby nya merespon dengan tendangan.


"Ayo mas temani jalan-jalan keliling komplek perumahan" ucap Elga lembut.


"Ayo" senang Ayu.


Lalu mereka melangkahkan kaki nya keluar kamar. Elga selalu menemani kemanapun Ayu pergi , ia tidak ingin kecolongan sedikitpun.


"Nyonya , Tuan" sapa para Art denga ramah.


Ayu hanya tersenyum dan mengangguk saja. Mereka berjalan keluar mansion dan berjalan-jalan keliling komplek perumahan tersebut.

__ADS_1


Banyak para tetangga yang memang kenal dengan Ayu dan menyapanya. Mereka mengagumi sosok Ayu , bukan hanya cantik tetapi ia juga sangat baik dan ramah.


Ayu mengajak duduk di kursi pinggir jalan , ia ingin makan bubur yang selalu berjualan disana.


"Mas , makan bubur itu dulu ya" rengek Ayu sambil menunjuk pedagang bubur yang tak jauh dari sana.


"Sebentar ya, sayang" balas Elga lembut.


Elga menyuruh anak buahnya memesankan untuk mereka dan juga untuk Ayu dan Elga.


"Mas , kenapa selalu banyak pengawal yang mengikuti kita?" tanya Ayu heran.


"Hmmm , nanti di rumah mas ceritain ya" balas Elga mengusap lembut tangan Ayu.


"Maaf Tuan , Nyonya , ini pesanannya" ucap salah satu pengawal.


"Hmmm, kalian juga makanlah" ucap Elga dengan wajah datar.


Mereka makan dengan santai karena memang hari libur , jadi Elga maupun Ayu bersantai terlebih dahulu disana.


"Ayo pulang, matahari nya sudah naik" ajak Elga dengan lembut.


"Iya , mas. Oh iya mas , nanti pulang kamu dari luar Kota aku ingin belanja perlengkapan Baby ya" ucap Ayu antusias.


"Iya tapi nanti jika Mas sudah pulang ya, kita sama-sama memilih dan mendekor kamar untuk Baby" balas Elga senang.


Ayu memeluk lengan Elga dengan senang. Mereka bergandengan tangan sampai di halaman depan mansion. Lana dan Vani sudah menunggunya di Taman depan.


"Mas , aku sama Vani duduk disini dulu , ya" izin Ayu dengan wajah memohonnya.


"Iya , tapi jangan lama-lama" peringat Elga dengan tegas.


Ayu mengangguk dan berjalan menghampiri Vani.

__ADS_1


"Nyonya" sapa Vani.


"Ck , panggil Ayu saja kenapa sih. Van" gerutu Ayu dengan kesal. Karena Vani selalu memanggil Nyonya di depan Elga.


"Haha baiklah, Ayu. Bagaimana jalan-jalannya?" tanya Vani basa-basi.


"Sangat menyenangkan, tetapi aku melihat wajah murung suamiku, Van. Aku tahu bahwa suamiku dan Lana sedang menyembunyikan masalah dari ku" keluh Ayu dengan sendu.


Vani menggenggam erat tangan Ayu dan mengusapnya dengan lembut.


"Aku yakin mereka tidak ingin kau kenapa-napa , apalagi saat ini kau sedang mengandung dan usia nya sudah tua. Nanti juga mereka akan menceritakannya" ucap Vani menenangkan , Vani sendiri juga tahu masalah apa yang suami dan Tuannya sembunyikan itu.


Vani mengajak Ayu untuk membuat Cake , ia ingin mengalihkan Ayu dari suasana sedih nya.


Lana dan Elga saat ini sedang membahas masalah Paman Elga yang selalu membuat ulah di anak perusahaan Elga.


Tetapi dia selalu menumbalkan anak buah nya agar ia bisa terbebas dan bersih dari hukuman. Elga sebenarnya sudah sangat geram dengan kelakuan Pamannya tersebut.


"Bagaimana, Lan" ucap Elga dengan menatap keluar jendela ruang kerja nya.


"Sama seperti yang lalu, ini ulah dari Paman Tono, Tuan" balas Lana mendesah lelah.


"Kita tunda kepergian kita ke luar Kota. Karena aku yakin mereka akan menyerang istriku" ucap Elga dengan serius.


"Baik, Tuan. Saya sudah mengirim salah satu orang kepercayaan kita kesana untuk menangani masalah ini" balas Lana


Mereka kembali bekerja dan membahas bagaimana caranya mengatasi Paman Elga yang selalu meneror nya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2