
Sesampai nya di mansion Kafka, Qilla dan Nana langsung saja di ajak masuk oleh kepala pelayan disana.
"Hai Baby Jen, Sofiaaaaa i'm comming" teriak Qilla dengan melengking.
Nana langsung menutup telinga karena mendengar suara lantang dari Qilla.
"Biasa saja, Qill" gerutu Nana.
Qilla hanya cengengesan dan langsung saja duduk bersama dengan Kaka Ipar nya serta Milsi.
"Ayo sini, Na" ajak Adel lembut.
"I iya, Nona" balas Nana gugup.
"Panggil Kaka saja, Na" ucap Adel tersenyum.
"Oh iya, ini Milsi Adik Kaka" ucap Adel kembali sambil menunjukan Milsi.
Milsi mengulurkan tangan dengan ramah, lalu mereka berkenalan.
Sedangkan Qilla, dia sudah duduk di bawah bersama dengan Baby Jen dan Sofia.
Kedua Baby yang sudah mulai duduk dan aktif itu pun jadi bahan mainan Qilla karena gemas.
"Huaaaaa Myy" tangis Baby Jen pecah saat mainan nya di ambil Qilla.
Tuk.
"Awww" ringis Qilla saat kepala nya di pukul mainan oleh Sofia.
Tawa Nana, Adel dan Milsi pun pecah saat wajah masam Qilla yang kesakitan.
__ADS_1
"Jangan di gangguin, Dek" ucap Adel dengan terkekeh.
"Ya ampun Kak, anak mu galak sekali" rajuk Qilla pada Milsi.
"Suruh siapa gangguin Kakak nya, ya jadi ngamoklah Adik nya" kekeh Milsi dengan renyah.
"Kamu nya juga sih, Qill" ucap Nana sambil tertawa kecil.
Qilla hanya diam dengan mengkrucutkan bibir nya, lalu ia meninggalkan ke dua Baby yang sedang bermain kembali.
Adel merentangkan tangan nya dan Qilla langsung memeluk nya dengan sayang.
"Bagaimana kabar mu, sayang?" tanya Adel lembut.
"Baik-baik saja, Kak. Aku sebentar lagi akan lulus dan aku akan menjadi wanita sukses" jawab Qilla dengan menggebu.
"Aminn, semoga kau akan menjadi wanita yang selalu membanggakan keluarga" ucap Adel mengecup kepala Qilla dengan lembut.
Qilla menganggukan kepala dan tersenyum, ia sangat bersyukur karena keluarga nya sangat menyayangi diri nya.
"Kamu juga harus menjadi wanita sukses, Na" ucap Adel lembut.
"Insya Allah, Nona. Mohon do'a nya" balas Nana dengan sopan.
"Kakak Nana" gemas Adel dengan tersenyum.
"Iyaa Na, dia akan merajuk jika tidak di turuti" ceplos Qilla dengan tertawa kecil.
"Kau ini" kesal Adel dengan memeluk Qilla erat.
Lalu mereka tertawa dengan senang, hingga akhir nya mereka di panggil untuk makan siang oleh pelayan.
__ADS_1
Milsi dan Adel menitipkan Putri mereka kepada pelayan kepercayaan Adel.
Setelah itu baru mereka ke ruang makan.
"Ayo jangan sungkan, Na" ucap Milsi.
"Iya Na, kita harus makan banyak agar tidak kurus" timpal Qilla
"Ck, kau ini selalu saja asal ceplos" balas Milsi dengan menggelengkan kepala nya.
"Tapi itu ciri khas Qilla, Kak" ucap Nana tersenyum
"Ahh makasih Nana, kau memang the best" pekik Qilla dengan girang.
"Tapi aku juga kadang malu kalau udah ceplas-ceplos begitu mah" lirih Nana dengan menahan tawa.
"Kau ini Nanaaaaa" kesal Qilla dengan melemparkan sendok ke arah Nana.
Tawa mereka pecah dengan bersama dengan tingkah Qilla, lalu mereka mengambil makanan dan memulai makan siang nya.
Sedangkan Baby Jen dan Sofia sudah tidur dan sudah di pindahkan ke kamar khusus ke dua Baby tersebut.
Kafka memang membuatkan ruang bermain dan kamar untuk Putri nya. Bahkan kedua ruangan tersebut sudah banyak boneka, mainan dan yang lainnya lagi.
Bahkan Adel sampai menggelengkan kepala kalau setiap pulang kerja, Kafka pasti membawa mainan untuk Putri nya, Jenika.
.
.
.
__ADS_1