
Setelah semua nya siap , mereka berpasang-pasangan. Kafka dengan Adelia , Sela dan Raka , Retika dan Andi sedangkan Rendi dan Qilla.
Mereka mengambil ancang-ancang dan Supir pribadi keluarga tersebut jadi wasit nya.
Preetttttt.
Bunyi peluit di tiup oleh sang wasit. Dengan gesitnya mereka terus mengayuh sepeda dengan kecepatan di atas rata-rata, mereka akan melakukan dua putaran.
Ayu , Elga , Lana dan Vani tersenyum melihat ke seruan anak-anak mereka. Hingga akhirnya Lana berteriak menyemangati Qilla di bandingkan Putri nya Sela.
"Qilla , Qilla , Qilla Gooooo" teriak Lana dengan berjingkrak.
"Hahaha lihatlah Van , suami mu malah menyemangati Putri ku" ucap Ayu dengan tertawa ngakak.
"Dasar sudah tua juga" kekeh Vani dengan menampar lengan suaminya.
Lana hanya mencebikan bibir saja. Ia kembali lagi menonton pertandingan itu.
Elga menatap Ayu dengan penuh maksud. Dan Ayu membalasnya dengan tersenyum , Ayu mengerti dari tatapan Elga.
Sedangkan pertandingan masih berlanjut dan satu putaran lagi. Kafka dan Adelia masih di urutan terakhir.
"Jika sudah mau sampai finish kita tambahkan laju nya, Oke" ucap Kafka pada Adel.
"Oke" balas Adel.
Mereka memulai menambah kecepatan meninggalkan yang lainnya , hingga akhirnya sampai di finish pasangan Kafka dan Adel menang.
"Yeayyyy menang" senang Kafka dengan bersorak.
__ADS_1
Entah sadar atau tidak Kafka memeluk Adel dengan memutar tubuhnya.
Mereka yang ada disana nampak syok dan menganga melihat kelakuan Kafka.
Sedangkan Adel ia sangat membeku kaku karena sikap Tuannya itu.
"Khemmmm" dehem Qilla dengan terkekeh.
DEG.
Kafka melepaskan pelukannya dan memalingkan wajah nya yang malu. Ia sangat malu dengan sikap reflexs nya.
"Maafkan aku" ucap Kafka
"Tidak apa, Tuan" balas Adel gugup.
Lalu mereka menghampiri Elga dan Ayu karena mereka yang akan mengabulkan keingan yang menang.
Ayu menatap Elga dengan bingung.
"Katakanlah" ucap Elga
Adel menatap Ayu dan Elga bergantian lalu ia menatap Kafka yang menganggukan kepala.
"Be begini Tuan , Nyonya. Saya meminta izin untuk Adik saya bisa melanjutkan sekolah dan masalah pekerjaan nya saya yang akan mengerjakannya" ungkap Adelia dengan menunduk takut.
"Memangnya dia akan sekolah dimana?" tanya Elga dengan tenang.
"Saya akan menyekolahkannya di SMA dekat sini , agar dia tidak terlalu jauh" jawab Adel yang masih menunduk.
__ADS_1
"Dadd" ucap Qilla dengan wajah memelas.
Elga tau maksud dari wajah memelas Putrinya itu. Ia mengerti bahwa dia harus melakukan sesuatu.
"Kalau saya sekolahkan Adikmu dan Dirimu apa kamu mau?" tanya Elga.
Adel langsung menatap wajah Elga dengan heran.
"Tidak usah , Tuan. Saya sebenarnya sudah lulus kuliah tetapi karena di tempat tinggal saya yang minim pekerjaan jadi saya merantau ke sini. Dan masalah Adik saya , jika Tuan dan Nyonya mengizinkan maka dengan senang saya akan menyekolahkannya dengan hasil bekerja saya Tuan. Maaf bukan saya menolak rezeki tetapi saya tidak mau orang lain berkata bahwa saya hanya memanfaatkan mu Tuan" jawab Adelia dengan menunduk kembali.
Mereka hanya mendengarkan saja. Bahkan Sela dan yang lainnya di buat kaget bahwa Adel sudah lulus kuliah.
"Waw umurmu kan di bawah kami , kenapa kau bisa lulus dengan umur muda, Del? Jurusan apa yang kau ambil" tanya Sela dengan kepo.
"Aku meloncat kelas , Nona. Aku mengambil jurusan manajemen bisnis" jawab Adel tersenyum.
"Wawww bagus tuh, Ka. Lo bisa rekrut dia jadi sekertaris lo dan Sela akan gue nikahan" celetuk Raka dengan tegas.
Sela mencubit lengan kekasihnya yang asal ceplos.
"Tidak apa, Sel. Jika memang kalian akan menikah , menikahlah aku tidak apa-apa. Dan usulan kekasihmu bagus juga" ucap Kafka dengan santai.
"Adel , setelah ini kau bawa semua berkas milikmu jika sesuai maka kau akan aku jadikan sekertaris. Dan masalah sekolah Adikmu , Daddy akan menyekolahkannya dengan Adikku Qilla karena disana juga ada SMA. Aku tidak menerima penolakan" tegas Kafka dengan sorot mata tajam.
Adelia hanya menelan ludah kasar dan mengangguk pasrah saja.
Lalu mereka langsung membersihkan badan dan akan berkumpul kembali di halaman belakang untuk bbq'an.
.
__ADS_1
.
.