Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Shaqilla


__ADS_3

Zayn dan keluarga nya berpamitan karena sudah malam, sebenarnya mereka bisa saja menginap tetapi mereka tidak enak dengan yang lainnya.


"Hati-hati di jalan, Zayn , Mom , Abang" ucap Qilla tersenyum.


"Jangan sedih lagi" bisik Zayn lembut.


Qilla menganggukan kepala dengan wajah tersenyum pada Zayn.


Setelah kepergian keluarga Zayn, Qilla dan Nana lalu masuk kembali ke dalam mansion.


"Ekhemmmmm" dehem Kafka dengan melirik Qilla dan Nana.


Nana sudah menundukan kepala nya karena malu, ia bahkan memegang tangan Qilla.


"Sakit tenggorokan Kak? Sana minum" ucap Qilla dengan santai.


"Iya sakit tenggorokan melihat anak kecil pacaran" olok Kafka dengan cuek.


Qilla langsung mendelik dan menatap Kafka dengan nyalang.


"Hei aku ini sudah besar ya, sudah mau lulus S1 dan juga sudah menjadi pimpinan di Pramudya. Asalkan Kakak tahu, aku sebentar lagi alan ulangtahun dan kau wajib memberikan aku hadiah yang sangat bagus dan mahal" pekik Qilla dengan kesal karena di katai anak kecil.


Nana tertawa kecil dengan ucapan Qilla yang tidak ada rem nya itu. Bahkan bukan Nana saja yang tertawa, hampir semua orang disana tertawa dengan tingkah laku Qilla.


"Sombong nihhh" timpal Rendi dengan terkekeh.

__ADS_1


"Iyalah harus sombong" balas Qilla dengan santai.


Opa Antony tertawa dan memeluk Qilla yang memang duduk di dekat nya.


"Sudah-sudah, sana pada istirahat saja" lerai Mom Ayu.


Lalu mereka berpamitan pada yang lainnya, Qilla dan Nana langsung saja masuk ke kamar Qilla.


"Nana, sini kau" kesal Qilla dengan menyeret Nana ke arah ranjang nya.


Nana hanya pasrah saja, ia sudah tahu bahwa Qilla akan menanyakan soal hubungan nya dengan Dio.


"Cepat ceritakan" pinta Qilla dengan tegas


Nana malah merebahkan tubuh nya dan berbantalkan paha Qilla.


"Sudah jalani saja, aku yakin kalian akan bahagia kok" ucap Qilla dengan lembut.


"Hemm, Bang Dio itu baik, lembut lagi. Dan kamu tahu tidak?" tanya Nana


"Yang jelas aku tidak akan tahu kalau kau tidak memberi tahu nya, Na" cebik Qilla dengan malas.


Nana tertawa kecil dan bangun dari tidurannya.


"Dia adalah Dosen pembingbing kita" ucap Nana dengan terkekeh.

__ADS_1


Hah


Qilla melongo tak percaya saat Nana menyebutkan bahwa Dio adalah Dosen pembingbing nya.


"Kau akan banyak makan hati Na, pasti geng si Disti akan kecentilan deh" kekeh Qilla dengan puas.


"Aku tidak akan masalah, kalau Bang Dio ke goda oleh nya berarti Bang Dio tidak punya pendirian" balas Nana dengan santai.


"Wihhhhh sahabat ku kalau sudah begini" goda Qilla dengan tawa nya.


"Sudah lah, ayo kita tidur" ajak Nana dengan merebahkan tubuh nya di kasur size Qilla.


Qilla tersenyum dan ikut merebahkan tubuh nya, mereka sama-sama terlelap dengan lelah.


Bahkan Qilla langsung saja menuju alam mimpi karena lelah hati, jiwa dan pikirannya. Kepergian sang Oma sangat membuat nya sedih.


Nana yang memang belum tidur pun memakaikan selimut tebal di tubuh Qilla.


"Aku harap kita akan selalu bersama Qill, karena kamu sudah seperti Adik kandung ku" gumam Nana dengan tulus.


Lalu Nana pun ikut serta tidur dengan memeluk tubuh Qilla dengan hangat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2