Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
64


__ADS_3

1 hari ini akan Full episode buat Gibran dan Kania ya. Nanti akan di selipin cerita Ayu juga kok.


***


Gibran memarkirkan mobil nya di halaman Caffe yang ramai. Lalu ia menggendong jelita dengan senyuman tak lepas di wajahnya.


"Ayo Ayah , Lita ingin ke Ante cantik dulu" rengek Jelita pada Gibran.


"Baiklah tuan putri" balas Gibran.


Gibran menggendong Jelita ke arah dapur. Mila dan Pito hanya tersenyum saat sang keponakan menyapanya dengan riang.


"Hai cantik" sapa Kania.


"Hai Ante , Ante aku mau Cake yang enak" pinta Jelita dengan riang.


Kania menghampiri Jelita dan mengambilnya dari gendongan Gibran.


"Hemm apapun untukmu cantik , duduk dulu oke" ucap Kania lembut.


Jelita mengangguk dengan antusias.


"Sayang , Ayah ke om Kemal dulu ya" pamit Gibran sambil mencium pipi gembul anaknya.


"Oke" jawab Jelita


Gibran melangkah kaki ke tempat biasa ia meracik Coffe bersama dengan Kemal.


Gibran membantu Kemal membuatkan pesanan dari pembeli.


"Dimana si cantik?" tanya Kemal.


"Tuh lagi sama Kania, ingin Cake katanya" jawab Gibran santai.


Kemal hanya mengangguk saja dan kembali meracik Coffe nya. Hampir semua tau tentang kisah masalalu Gibran, dia menceritakan pada mereka saat kemaren bertemu dengan Jelita.


Hari ini Caffe terlihat agak ramai dari hari kemarin , mereka bekerja dengan semangat.


Gibran hanya fokus dengan racikan Coffe nya sesekali melihat Jelita yang sedang asyik bersama dengan Kania.


Gibran menutup Caffe jam 06 sore , karena ia ingin mengajak mereka untuk jalan-jalan ke Mall.


"Ayoo" ajak Gibran pada karyawannya saat sudah selesai beberes.


Kania duduk di depan bersama dengan Jelita. Pito , Kemal di paling belakang dan yang di barisan tengah ada Sofi dan Mila.


Mereka berangkat ke Mall terdekat dari Caffe. Jelita sangat senang bahkan selalu bercerita pada Kania selama di perjalanan.

__ADS_1


"Ante , Ante mau gak jadi Bunda, Lita?" tanya Jelita dengan tatapan yang menggemaskan.


Semuanya hening saat Jelita bertanya seperti itu. Apalagi Gibran , ia dibuat tak bisa berkutik dengan pertanyaan itu.


Kania hanya diam saja dan menunduk. Ia bingung harus menjawab apa.


"Ante gak mau ya? Yaudah gapapa kalau gak mau aku juga gak papa" ucap Jelita sedih.


Lalu Jelita menatap Ayahnya dengan nanar.


"Ayah" panggil Jelita.


"Iya sayang , kenapa?" tanya Gibran menengok sebentar lalu kembali lagi menatap jalanan.


"Mau duduk sama, Ayah" rengek Jelita membuat Kania kaget.


"Sebentar lagi sampai sayang, sabar ya" balas Gibran menenangkan.


Jelita hanya mengangguk dan duduk dengan menatap ke arah luar. Ia tidak seheboh tadi bahkan semangatnya surut.


"Sayang mau duduk sama, Tante" ucap Mila yang seakan tau persaan keponakannya.


"Tidak" balas Jelita.


Kania menghela nafas dan mengusap kepala Jelita dengan sayang.


Jelita hanya diam saja sambil menatap Ayahnya yang sedang mematikan mobil.


"Ayah gendong" ucap Jelita tanpa menjawab pertanyaan Kania.


Nyesss


Dada Kania serasa sesak saat Jelita mengabaikannya. Ia sudah sangat jatuh cinta pada anak kecil itu.


Gibran menggendong Jelita dan membawanya keluar dari mobil. Semuanya keluar dengan diam tanpa sepatah kata.


Lalu mereka melangkahkan kaki nya masuk kedalam Mall. Gibran mengajak mereka ke Restoran dulu sebelum berjalan-jalan.


Sofi menenangkan Kania yang tampak murung setelah diabaikan oleh Jelita. Mila dan Pito pun ikut menenangkan Kania.


"Jelita duduk sama Ante yuk, nanti disuapin sama Ante" bujuk Kania tersenyum.


"Gak mau , Jelita mau sama Ayah saja" balas Jelita dan memeluk Gibran dengan erat. Bahkan badan Jelita bergetar serta terdengar isak tangis dari mulut kecilnya.


"Loh sayang kenapa nangis?" ucap Gibran khawatir.


Kania langsung melihat ke arah Jelita dan memaksa mengambilnya dari gendongan Gibran.

__ADS_1


Awalnya Jelita berontak tetapi ia tetap saja memeluk Kania dengan terisak.


"Maafkan Ante ya sayang" ucap Kania lirih.


Kemal menepuk pundak Gibran dan mengajaknya berbicara bersama dengan yang lainnya. Mereka membiarkan Jelita dengan Kania dulu.


***


Disinilah mereka. Di Taman Mall tersebut , Gibran menghela nafas dengan kasar.


"Menikahlah dengan Kania , aku tau kau juga mempunyai rasa padanya" ucap Pito lembut.


"Tapi aku takut , aku sudah gagal dua kali dalam berumah tangga" balas Gibran lirih.


"Yakinkan hatimu , dan buatlah mereka bahagia. Maka semuanya akan baik-baik saja" ucap Mila menimpali.


"Sejujurnya jika seorang wanita yang baik itu tidak akan memandang harta. Dia akan selalu memberimu suport saat kau jatuh sekalipun" ucap Meli kembali.


"Cobalah jika memang kau serius. Dan ajaklah Orangtua mu untuk meminangnya" ucap Kemal tegas.


Hahhh. Gibran membuang nafas kasar lalu menganggukan kepalanya.


"Kania itu orangnya baik dan penyayang. Jadi aku mohon jangan sakiti dia" ucap Sofi tegas.


"Aku akan selalu membahagiakannya" balas Gibran dengan tegas.


"Emang mau dianya sama lu" celetuk Kemal dengan tertawa.


"Sialan" kesal Gibran dengan memukul pundak Kemal.


Lalu mereka tertawa bersama. Terlihat Jelita dan Kania datang, Jelita sudah tenang di pelukan Kania , bahkan Jelita memeluk Kania dengan erat.


"Ayahhhh" panggil Jelita riang.


Gibran tersenyum dan merentangkan tangannya.


Grep


Gibran memeluk Jelita dengan sayang , ia mencium pucuk kepala Jelita dengan berkali-kali.


"Ayahh , Ante cantik akan menjadi Bunda Lita. Ayo Ayah nikah sama Bunda , biar nanti Lita bobonya di peluk Ayah dan Bunda" ceplos Jelita dengan antusias.


Kania menunduk karena malu , bahkan wajahnya sudah memerah karena melihat yang lain tersenyum menggoda..


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2