Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part.


__ADS_3

Hari ini keluarga Gibran akan pindah ke Mansion milik Jayen. Ardi pun turut mengantarkan mereka pindah.


"Kenapa?" tanya Ardi lembut


"Tidak apa, aku hanya bahagia saja karena aku bisa sehat seperti orang lain" jawab Jelita dengan tersenyum.


Ardi membalas senyumannya dan kembali fokus menyetir nya.


"Apa sudah merasa nyaman dan tidak gampang lelah?" tanya Ardi kembali.


"Tidak sama sekali, kalau lelah pasti ada tapi tidak seperti dulu yang jalan sedikit saja sudah lelah" jawab Jelita.


"Besok datang ke Rumah sakit dan kita akan CekUp ya" ucap Ardi lembut.


"Iyaa, Mas" balas Jelita tersenyum.


"Aku tidak menyangka bahwa kita akan di pertemukan lagi, Mas. Dulu aku sempat menolak pindah dari sana karena aku takut kamu akan mencari ku, tetapi kondisi ku yang semakin tidak memungkinkan dan aku pindah lagi" ucap Jelita terkekeh.


"Bahkan aku sampai beberapa kali kesana untuk memastikannya sendiri, tetapi kamu sama sekali tidak ada" balas Ardi dengan kesal.


"Mungkin takdir kita harus bertemu lagi saat aku sudah sembuh, jadi aku tidak akan merepotkan kamu" kekeh Jelita.


Ardi hanya tersenyum membalas perkataan Jelita.


Hingga tak terasa mereka akhir nya sampai juga di halaman luas Mansion tersebut.

__ADS_1


"Besar sekali ya, Mas" lirih Jelita


"Ayo, ini mansion Ayah mu. Aku yakin sekali bahwa Tuan Jayen akan sangat bahagia kamu bisa menempati nya" ucap Ardi lembut.


Jelita mengangguk dan langsung keluar dari dalam mobil. Disana sudah ada Oma, Opa dan Asisten Zaki, Jelita tersenyum saat sang Oma menghampiri dan memeluk nya.


"Ayo sayang, ini adalah Rumah Ayah mu" ajak Oma Fita dengan tersenyum lembut.


"Iya Oma" balas Jelita.


Lalu mereka semua masuk dan melihat-lihat mansion tersebut. Sedangkan pakaiannya sudah ada di kamar masing-masing milik mereka.


Di ruang tamu terpangpang jelas poto Jayen dan Putri saat remaja. Mereka sangat serasi dengan gaya merangkul dan memarkeun senyuman manis nya.


"Ayah, Ibu" lirih Jelita dengan memandangi nya sendu.


Jelita tersenyum dan memeluk sang Bunda, lalu mereka kembali berjalan-jalan dan berakhir duduk di ruang keluarga.


"Nona, Tuan dan Nyonya. Dia adalah Susi kepala pelayan disini, jika kalian butuh sesuatu bisa katakan pada dia" ucap Zaki.


"Selamat datang Nona, Tuan dan Nyonya" sapa Susi sopan.


Jelita dan yang lainnya menganggukan kepala saja. Farhan bahkan sudah berenang karena saking bahagia nya melihat kolam renang.


"Woahh pasti Farhan bahagia banget ada kolam ya, Bun" ucap Jelita tertawa geli melihat Adik nya yang sudah berenang kesana kemari.

__ADS_1


"Memangnya kenapa sayang?" tanya Oma bingung.


"Dulu tuh dia merengek ingin pergi ke mana saja yang berbau renang, karena teman-temannya memamerkan weekend mereka berlibur dan berenang. Tetapi saat itu kondisi kami memang lagi sulit dan Jelita tidak bisa di tinggalkan jadi dia berhenti merengek bahkan dia dan Ayah nya sampai berenang di kali jika Farhan ingin sekali berenang" jawab Kania terkekeh.


Ardi mengelus lembut tangan Jelita, ia menggelengkan kepala saat mata sang kekasih sudah berkaca-kaca.


"Kuat kok" lirih Jelita tersenyum.


Ardi mengangguk tersenyum dan mengusap lembut pipi sang kekasih.


"Oma, kami ke Farhan dulu ya" pamit Jelita


Oma dan yang lainnya mengangguk, Jelita dan Ardi langsung saja menghampiri Farhan yang sedang duduk di pinggir kolam.


"Apa Farhan tidak pernah berontak dengan semua ini, bahkan dia rela berdiam diri demi Jelita?" tanya Tuan Wira.


"Awalnya sih pernah berontak bahkan sampai marah-marah sama Jelita, tetapi dia melihat Kakak nya drop kembali karena Jelita menuruti keinginannya untuk jalan-jalan. Farhan mengurung diri di dalam kamar bahkan sampai tidak makan karena merasa bersalah, dari sana dia mulai memahami semua nya. Bahkan dia akan berangkat sekolah jika di antarkan ke depan oleh Jelita" jawab Gibran tersenyum.


"Bolehkah kami membawa Jelita berkunjung ke Rumah Hana, jika dia sudah menikah?" tanya Oma.


"Kami tidak berhak melarang nya, karena dia juga adalah Cucu kalian. Tetapi kalian harus meminta izin pada Dokter Ardi karena dia suami nya" jawab Kania lembut.


Oma mengangguk tersenyum, lalu ia melihat kembali dimana sang Cucu sedang tertawa lepas karena sudah berhasil menceburkan Ardi ke dalam kolam.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2