
Pagi hari nya Kafka melangkah kan kaki menuju ruang makan, Kafka mengeryit saat melihat dua wanita yang sangat asing.
"Mom" panggil Kafka.
Ayu menengok dan tersenyum melihat Putra nya yang seraya mendekat.
"Kenalin sayang, dia Adelia dan Milsi pengganti Bi sumi dan Bi sari. Dan hari ini juga mereka sudah mulai kerja karena Bi sumi dan Bi sari sudah pulang sejak pagi tadi.
Kafka mengangguk dan duduk di sebelah sang Daddy. Setelah mereka kumpul semua , mereka memulai sarapan pagi.
Sela menyuruh pengawal dan Art untuk menyiapkan segala untuk mereka bbq'an di halaman belakang.
Vani dan Lana sudah sangat sering lebih tinggal di mansion Elga dari pada di rumah nya.
"Kaf , habis sarapan kita bbq'an di halaman belakang" ajak Andi saat melihat Kafka yang akan beranjak.
"Oke, jika kalian sudah selesai susul saja gue di ruang kerja" balas Kafka santai.
"Oke" ucap Andi tersenyum.
Mereka tersenyum karena acara ini juga agar membuat Kafka sedikit melupakan kesedihannya.
Setelah selesai sarapan mereka berkumpul terlebih dahulu di halaman depan. Mereka akan bersantai terlebih dahulu sebelum melakukan bbq'an.
"Kak , main sepeda ayo" ajak Qilla pada Sela.
"Ayo , siapa takut" balas Sela dengan menantang.
"Lihatlah, Lan. Anak gadis mu selalu saja bertengkar dengan Qilla" ucap Elga dengan menggeleng pelan.
"Aku juga tidak tau, tapi mereka juga sangat menyayangi" balas Lana dengan terkekeh.
Lalu mereka mdlihat bagaimana anak-anak mereka yang sedang balapan sepeda.
Kafka melihat ke bawah dimana Adik dan sahabatnya sedang bermain, dia tertawa pelan dan menggeleng karena Rendi dan Andi menjadi bullyan Qilla.
Lalu Kafka menuju meja kerja nya dan memulai bekerja dengan sangat serius.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan masuklah Adelia dengan secangkir teh hangat.
"Maaf Tuan , ini teh hangat dan makanan ringan" ucap Adelia dengan sopan.
"Siapa yang menyuruh mu membuatkan aku teh" ucap Kafka dingin.
__ADS_1
Adelia menunduk takut saat melihat manik mata Kafka yang tajam.
"Nyo nyonya besar, Tuan" jawab Adelia dengan gugup.
"Keluar lah" ucap Kafka masih dengan nada dingin.
"Ba baik Tuan" balas Adelia.
Lalu Adelia keluar ruangan dengan cepat , ia sangat takut dengan Kafka.
Sesampainya di dapur ia melihat Adiknya Milsi yang sedang mencuci bekas masak dan makan.
Di mansion ini para Art sudah mempunyai tugas masing-masing dan tugas Adelia dan Adiknya adalah di dapur karena mereka sangat pandai memasak dan sangat cekatan.
Para Art lainnya menerima Adelia dan Milsi dengan sangat baik , bahkan mereka menganggapnya Adik ataupun Anak. Karena umur Adelia dan Milsi di bawah mereka.
"Kakak kenapa?" tanya Milsi.
"Tidak apa-apa" jawab Adelia lembut.
"Dek , bagaimana kalau kamu sekolah lagi ya. Kakak sekarang kan udah kerja. Nanti Kakak coba minta solusi pada Art lainnya ya" ucap Adelia dengan lembut.
"Milsi terserah Kakak saja. Tidak sekolah juga tidak apa" balas Milsi dengan mengelus lengan Kakak nya.
Mereka kembali bekerja dengan sangat riang. Tidak ada kata malu , ataupun apapun itu, karena mereka juga sudah terbiasa hidup sederhana.
Setelah selesai, mereka langsung ke belakang untuk bersantai dengan Art lainnya.
"Mbak Mel" panggil Adel dengan pelan.
"Ada apa, Del?" tanya Meli
"Hmmm begini , aku ingin Milsi sekolah SMA disini yang dekat ada gak? Biar masalah dapur aku handle semuanya. Karena aku tidak mau Adikku putus sekolah. Ta tapi aku takut berbicara pada Nyonya" ucap Adelia tertunduk takut.
Meli dan yang lainnya tersenyum , mereka juga sepakat akan menyuruh Milsi sekolah yang ada di dekat mansion Ardmaja.
"Tenang saja , nanti Mbak yang akan bicara pada Nyonya" balas Meli dengan ramah.
Adel mendongkak dengan mata berkaca-kaca.
"Bener, Mbak? Terimakasih banyak Mbak" ucap Adelia
"Terimakasih , Mbak. Milsi janji jika di izinkan sekolah Milsi akan belajar dengan giat" ucap Milsi memeluk Meli.
__ADS_1
"Iya - iya" jawab Meli tersenyum.
Sedangkan di halaman depan , keluarga mereka sedang tertawa lepas dengan tingkah konyol Qilla dan Sela. Sedangkan Retika dan Andi yang selalu berebut untuk menang.
Dari dalam terlihat Kafka yang berjalan dengan sangat Cool , wibawa dan menawan. Sela menyenggol tangan Qilla secara memberitahu bahwa Abangnya datang.
Qilla menatap Sela dengan bingung lalu ia melihat ke arah mata Sela dan ia melihat sang Abang yang akan duduk bersama Mommy dan Daddy nya.
"Wahh wahh lihatlah , pangeran kita sudah ada. Abang , ayo kita bertarung yang menang nanti akan dikabulkan semua ke inginannya" ajak Qilla dengan berteriak.
"Ayo siapa takut" balas Kafka dengan berani.
Dari arah belakang ada Adelia yang sedang membersihkan daun kering yang ada di taman mini milik keluarga itu.
"Hei kamu , kemarilah" teriak Kafka pada Adelia.
Semua orang langsung menoleh saat Kafka berteriak pada seorang Art. Sela dan Qilla saling tatap , bahkan Ayu pun sedikit bingung.
Adelia menunjuk dirinya sendiri.
"Iyaa kamu , kemarilah" ucap Kafka kembali.
Adel langsung mematikan kran air dan menghampiri Kafka.
"Ada apa , Tuan?" tanya Adelia dengan sopan.
"Apakah kamu bisa memakai sepeda?" tanya Kafka yang mana membuat semua keluarga nya bingung.
"Bisa , Tuan" jawab Adelia.
"Ayo sekarang kau ikutan kita lomba bermain sepeda , siapa yang menang akan di turuti 1 permintannya" ajak Kafka
Adelia mengeryit dengan bingung.
"Maaf Tuan , sa sa
"Ayo , jika kau tidak ikutan aku akan meminta Mommy untuk tidak mengizinkan Adik lo sekolah" ancam Kafka.
Adelia langsung melotot kaget dan dengan cepat menganggukan kepala.
.
.
__ADS_1
.