
Dengan perlahan tapi pasti Gibran mendekati Putri dengan tersenyum lembut.
"Selamat, Put. Semoga menjadi keluarga yang bahagia, semua orang mempunyai masalalu tapi aku mohon tinggalkan masalalu mu dan jadilah lebih baik untuk keluargamu kelak. Minta maaflah pada Ayu, agar hatimu lega dan beban mu hilang" ucap Gibran saat di hadapan Putri.
"Awalnya aku pun sama sepertimu , takut dan bahkan sangat malu saat bertemu dengannya, tetapi aku tak ingin mempunyai beban yang saat itu aku pikul dengan berat. Aku memutuskan meminta maaf padanya dan hidup dengan damai" ucapnya kembali.
Putri tersenyum meski sendu, ia sangat salut pada Gibran yang mempunyai keberanian untuk menemui Ayu. Dia juga sudah sangat ingin menemui Ayu tetapi dia sangat takut untuk bertemu nya.
Ikmal menggenggam tangan Putri dengan erat ia tahu bahwa sang istri sedang menahan agar tidak menangis.
"Hmmm baiklah nanti aku akan coba untuk menemuinya. Aku tidak cukup untuk bertemu nya" lirih Putri tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku dan Kania pamit pulang dulu yaa, kasihan Kania kelelahan" pamit Gibran
"Jelita mau sama Ibu dan Ayah?" tawar Ikmal lembut.
Jelita menatap ke arah Gibran dan Kania yang tersenyum.
"Emmm Ibu apakah aku boleh besok saja menginapnya? Karena aku ingin bersama dengan Bunda Kania" pinta Jelita pada Putri.
Putri berjongkok dan mencium kening Jelita lembut.
"Tidak apa, sayang. Kapanpun kamu mau menginap bersama Ibu , suruh Ayah Gibran menelpon Ayah Ikmal saja, ya" ucap Putri dengan lembut.
CUP
"Terimakasih, Bu" ucap Jelita mencium pipi Putri.
Lalu Gibran mengajak anak dan istrinya untuk pulang. Gibran merasa kasihan melihat wajah lelah dari istrinya.
✴✴
__ADS_1
-Negara T.
Pagi Hari yang sangat cerah Oma Rahma sedang berjemur dengan sang Cucu nya. Mereka duduk santai di halaman depan.
Sudah 1 minggu Oma Rahma berada disana. Mereka akan kembali lagi besok ke Negara K.
"Bunda" panggil Ayu
"Kenapa sayang?" tanya Oma
"Ayo sarapan dulu, sudah di tungguin" jawab Ayu tersenyum.
Oma Rahma langsung bangkit da menghampiri Ayu. Lalu ia memberikan Baby Kafka pada Ayu.
"Uhh kesayangan Mommy, sudah dulu ya berjemurnya. Kita makan dulu" ucap Ayu dengan nada seperti anak kecil.
Dengan gemas Ayu mencium Putra nya berulang kali. Lalu ia duduk di ruang tamu dan menyusui Baby Kafka.
Elga tersenyum melihat Putra dan Istrinya. Lalu ia melangakah dan menghampiri Ayu.
"Mom, aku berangkat dulu ya" pamit Elga mencium lembut kening Kafka lalu mencium sekilas bibir Ayu.
"Ishhh Masss" gerutu Ayu.
"Morning Kiss , Mom. Sudah lama loh tidak" balas Elga terkekeh.
Lalu Ayu dan Elga berjalan ke arah depan. Elga terus mengganggu Putra nya yang ada di gendongan Ayu.
"Mas jangan di gangguin melulu ihhh" omel Ayu mencubit gemas tangan Elga.
"Lihatlah sayang dia itu sangat menggemaskan sampai aku tidak mau ke perusahaan saja" gerutu Elga lalu mencium pipi Kafka.
__ADS_1
"Hehhh enak saja. Kerja mas nanti Baby Kafka dan Mommy nya yang mencicil habis uangmu" goda Ayu mencium tangan Elga.
"Silahkan, Nyonya Ardmaja" kekeh Elga mencium kening Ayu.
Elga masuk ke dalam mobil yang ada Lana disana. Mereka akan ada pertemuan Klien penting jadi berangkat agak pagi.
Sedangkan Ayu langsung masuk dan menidurkan Baby Kafka ke ranjang size nya.
"Uhh aku mandi dulu aja, ya" gumam Ayu.
Kemudian ia memberi guling dan bantal di sekeliling Baby Kafka.
Ayu berlalu ke kamar mandi untuk segera membersihkan badannya.
Setelah selesai Ayu kembali melihat sang Baby yang masih terlelap di atas ranjang size nya.
"Kau tau, Nak. Daddy mu sudah mendekor kamar untukmu sedemikian rupa. Sangat indah, jika kelak kau dewasa kau pasti akan mengalahkan ke tampanan Daddy mu" ucap Ayu terkekeh sambil mengelus pipi lembut Putra nya.
Lalu ia beranjak ke arah balkon. Ayu diam berdiri disana dengan memandang langit yang cerah.
"Nek, Kakek, sekarang aku bahagia sangat bahagia , apalagi dengan kedatangan malaikat kecil yang berupa Putra ku dan Mas Elga. Nenek dan Kakek tenang dan berbahagialah disana karena disini aku juga bahagia dengan suamiku dan Putraku. Mas Elga sangat menyayangi aku Nek, bahkan dia pelindung terdepanku" gumam Ayu dengan menatap ke arah langit.
Ayu sangat merindukan sosok seorang Nenek dan Kakeknya. Mereka yang selalu ada bahkan mengsuport nya selama Ayu berada jauh dari Orangtuanya.
Tetapi kenyataan pahit harus ia telan saat mereka pulang kepangkuan sang kuasa.
"Hahhhh aku masih kecewa dengan mu , Put. Bolehkah aku menjadi egois agar aku bisa membalas kematian orang yang aku sayangi. Tetapi aku tak bisa, Put. Aku hanya bisa memberimu pelajaran saja" gumam Ayu kembali.
Lalu ia masuk kedalam kamar karena takut Baby Kafka menangis.
.
__ADS_1
.