Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part (Jelita)


__ADS_3

Malam hari nya, semua keluarga sudah berkumpul kembali di ruangan Jelita. Bahkan Kania dan Keila membawa bekal untuk makan malam mereka.


"Seperti nya ada yang sedang bahagia" ceplos Gibran


Jelita memalingkan wajah nya dan fokus kembali pada pemandangan di luar jendela.


"Ck, Ayah jangan di goda melulu" omel Kania dengan terkekeh


Sedangkan yang lainnya hanya mengulum senyum saja.


Tok Tok.


"Masuk" ucap Ikmal.


Masuklah Dokter Ardi dengan senyuman yang sangat menawan.


"Mau periksa ya, Dok?" tanya Farhan.


"Iyaaa" jawab Dokter Ardi singkat.


Lalu Dokter Ardi menghampiri Jelita dan menyuruh nya rebahan.


Dokter Ardi dan Jelita hanya bertukar senyum saja. Sedangkan keluarga yang lainnya sudah sangat penasaran.


"Semua nya baik, tetapi tetap harus di jaga dan jangan terlalu lelah. Besok boleh pulang tetapi setiap bulan harus CekUp" jelas Dokter dengan padat.


"Wahh Kak, kita bisa jalan-jalan" celetuk Farhan dengan bahagia.


"Jangan dulu ya, nunggu beberapa bulan lagi kalau mau bepergian jauh" ucap Dokter Ardi cepat.


"Hehehe iya Dok, posesif amat sih" goda Farhan.


"Dek" tegur Jelita dengan malu.


"Maaf" balas Farhan lalu tertawa pelan.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan, Nyonya" ucap Dokter Ardi.


"Kita makan malam dulu saja, Dok" ajak Ikmal


"Tidak usah Tuan, Terimakasih" tolak Dokter Ardi lembut.


"Ayolah, sekalian Jelita juga belum makan" ucap Gibran


Uhuk Uhuk


Jelita tersedak air saat ia minum , ia melototkan mata nya pada sang Ayah.


Dokter Ardi akhir nya mengangguk setuju, lalu Kania dan Keila menyiapkan makananya. Kania memberikan nampan berisi makanan pada Dokter Ardi dan Jelita.


"Dokter tidak apa makannya di ranjang Jelita?" tanya Kania.


"Tidak apa, Nyonya" jawab Dokter Ardi tersenyum


Lalu Kania tersenyum ke arah Putri nya yang sedang mendelik kesal.


Jelita mengangguk dan mengambil piring yang sudah berisi dengan nasi dan lauk pauk nya.


"Jangan cemberut gitu" ucap Dokter Ardi lirih.


Jelita mengangguk dengan tersenyum, lalu mata nya menatap keluarga nya yang sedang tertawa pelan.


"Ck, kalian ini" batin Jelita menggerutu.


Setelah selesai makan malam, Dokter Ardi permisi untuk kembali ke ruangannya.


Kania dan Keila mendekati Jelita dengan membawa potongan buah dan minuman.


"Kak" panggil Kania lembut.


Jelita langsung duduk dan membiarkan Bunda dan Mama nya duduk di ranjang diri nya.

__ADS_1


"Kenapa, Bun?" tanya Jelita.


"Setelah keluar dari Rumah sakit, kami akan membawa kamu ke makam Ayah kandung kamu" jawab Kania dengan lembut.


Deg.


"Ja jadi kalian sudah menemukan nya?" tanya Jelita lirih.


"Iya sayang, dia yang sudah menolong kamu hingga kamu bisa di nyatakan sembuh total" jawab Keila lembut.


Jelita menundulan kepala nya dan menangis dalam diam.


"Maafkan kami yang tidak bisa menemukan lebih dulu" ucap Ikmal memeluk Jelita.


"Kalian tidak salah kok, mungkin sudah takdir Kakak begini, Pa. Kakak akan iklas dan bahagia kok" balas Jelita dengan menghapus air mata nya.


"Jangan menangis lagi ya, besok kita semua akan kesana dan mengirimkan do'a untuk Ayah dan Bunda mu di surga sana" ucap Kania dengan lembut.


Jelita mengangguk dengan membalas senyuman orang yang sangat di sayangi nya.


"Kak, Dokter Ardi ganteng ya?" tanya Farhan dengan polos.


"Memang nya kenapa?" tanya balik Jelita.


"Aku akan jodohkan dengan teman ku nanti" jawab Farhan dengan santai.


Jelita langsung melotot dan menggelengkan kepala nya.


"Tidak bisa" ucap Jelita dengan tegas.


Orangtua nya langsung saja tertawa pelan dan membuat Jelita langsung menunduk malu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2