
Sore hari nya, Gibran dan Kania langsung saja menuju ke Alamat lelaki yang sudah menolong Jelita. Mereka singgah dulu untuk membeli kendaraan.
"Mas, siapa ya kira-kira nya Ayah biologis Jelita" ucap Kania
"Aku juga tidak tahu, tetapi setelah Jelita sadar kita harus menceritakan semua nya pada dia" balas Gibran
"Iya, supaya tidak ada hal lain di kemudian hari" ucap Kania
***
Saat ini Farhan sedang menjaga sang Kakak, ia tidak beranjak kemana pun karena takut meninggalkan Kakak nya.
"Kak, walaupun kita bukan saudara kandung, tetapi aku merasa Kakak itu seperti Bunda ke 2 ku. Cepat sadar dan sembuh Kak, kita akan bermain sepuas nya tanpa Kakak merasa lelah nanti" ucap Farhan sendu.
"Semoga setelah ini akan ada banyak kebahagian untuk Kakak" ucap nya lagi dengan memegang tangan Jelita.
Ceklek.
"Selamat sore" sapa Dokter Ardi.
Farhan tersenyum lalu bangun dari duduk nya.
"Selamat sore kembali, Dok" balas Farhan.
"Saya akan memeriksa pasien terlebih dulu" ucap Dokter Ardi ramah.
__ADS_1
Farhan hanya mengangguk dan berlalu ke samping lainnya.
Farhan dengan seksama melihat bagaimana Dokter mengecek semua keadaan Jelita.
"Syukurlah Kakak kamu sudah melewati masa sulit nya. Kemungkinan dia akan segera sadar" jelas sang Dokter.
"Benarkah, Dok?" tanya Farhan dengan antusias.
"Iyaaa, Dek. Oh iya kemana Ibu dan Ayah mu?" tanya Dokter
"Mereka sedang mengunjungi Alamat yang di kasih oleh Dokter" jawab Farhan sopan.
"Kamu masih sekolah?" tanya Dokter Ardi lagi.
"Bagus lah karena lebih cepat akan lebih bagus" ucap Dokter lembut.
"Kalau begitu saya permisi, kalau ada apa-apa kamu bisa tekan tombol yang ada disana" ucap Dokter kembali.
"Baik Dok, Terimakasih" balas Farhan lembut.
Dokter Ardi menganggukan kepala dan berlalu dari sana. Tak lupa pula ia memberikan kunci Apartemen dan alamat nya.
Setelah kepergian Dokter, Farhan kembali duduk dan pancaran bahagia jelas di wajah nya.
"Kita akan habiskan waktu disini dengan puas, Kak. Kita akan mengunjungi tempat wisata dan Mall" ucap Farhan bahagia.
__ADS_1
Sampai saat ini, Gibran maupun Kania tidak pernah membawa kedua Anak nya ke Mall ataupun jalan-jalan. Meski sangat ingin tetapi mereka tidak pergi, karena itu akan membuat Jelita kelelahan dan penyakit nya kambuh.
Sedangkan Gibran dan Kania, mereka hanya bisa bertemu dengan Asistennya saja. Dan mereka langsung ke makam orang tersebut.
"Terimakasih, semoga kamu bahagia disana. Kami akan menjaga Putri mu dengan sangat baik" ucap Gibran saat mereka sudah sampai di makam lelaki tersebut.
Setelah memanjatkan do'a , Gibran dan Kania memilih kembali lagi ke Rumah sakit.
"Mas, sebenar nya siapa lelaki itu?" tanya Kania.
"Dia adalah Jayen, Kakak kelas kami dulu. Jayen dan Putri dulu berpacaran saat mengetahui Mas dan Ayu akan menikah, dan Mas gak tau lagi cerita lainnya" jawab Gibran jujur.
"Terus bagaimana dengan aset dan perusahaanya?" tanya Kania lagi.
"Mas akan mengendalikannya terlebih dulu dengan di bantu Asisten Jayen. Dan jika Jelita sudah sembuh, dia yang akan mengambil alih" jawab Gibran.
"Hemmm, baiklah. Jangan lupa berhenti di Reatoran cepat saji ya, Farhan pasti belum makan" ucap Kania lembut.
"Iyaa sayang" balas Gibran.
Lalu mereka kembali diam dengan pikiran masing-masing. Gibran tidak menyangka bahwa Jelita putri dari Jayen.
.
.
__ADS_1