Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part


__ADS_3

Malam hari nya semua sudah berkumpul, hanya Gibran dan Suami dari Amanda saja yang sedang pergi karena urusan pekerjaan.


"Bagaimana kondisi kamu? Nenek tidak percaya pada Ayah mu karena dia tidak memberikan poto kamu sembuh pada Nenek" omel Nenek dengan kesal.


"Aku sehat, bahkan sudah lebih baik lagi. Hanya tinggal pemulihan saja, Nek" jawab Jelita lembut.


"Maaf ya, Nia. Nenek sempat tidak percaya pada kalian" ucap Nenek merasa tak enak.


"Tidak apa, Nek. Aku memaklumi nya kok. Aku juga sempat kaget dan tak percaya" balas Kania lembut.


Amanda memeluk kakak ipar nya dengan sayang, ia sangat beruntung memiliki Kaka ipar seperti Kania, sudah baik, lembut , sopan apalagi.


"Ck, bibi kenapa meluk Bunda mulu sih" gerutu Farhan.


"Biarin, soalnya Bibi sangat rindu pada Bunda mu ini" balas Amanda dengan santai.


"Nek, aku belajar dulu ya" pamit Farhan.


"Iyaa Nak" balas Nenek.


Lalu mereka mengobrol dan membahas Ayah kandung Jelita. Rencana nya besok pagi mereka akan menemui Orangtua dari Ayah Jelita.


Mereka akan di temani oleh Asisten Ayah Jelita. Dan mereka juga yakin bahwa Orangtua Ayah Jelita adalah orang-orang baik.


"Ayo kita tidur dulu, udah mau larut" ajak Kania.


"Lalu suami kamu, Nak?" tanya Ayah.

__ADS_1


"Biarkan saja, Yah. Mereka sedang membahas pekerjaan dengan suami Amanda dan Asisten Ayahna Kakak" jawab Kania lembut.


Mereka mengangguk dan langsung masuk ke kamar masing-masing. Setelah itu Kania menghubungi suami nya bahwa ia tidak akan menunggu nya karena sangat lelah.


***


Pagi hari nya, Amanda , Kania , Jelita , Gibran dan suami Amanda sudah bersiap akan pergi ke Rumah keluarga Jayen.


Sedangkan Farhan ia akan sekolah, dan Nenek serta Kakek nya akan menunggu saja di Apart.


Gibran melajukan mobil nya mengikuti mobil Asisten Jayen. Asisten Jayen pun sudah memberi tahu pada Tuan dan Nyonya bahwa Cucu mereka sudah ketemu.


Tak lama kemudian mereka sampai juga di mansion yang sangat megah, ya karena keluarga Jayen adalah keluarga terkaya ke 5 Asia.


"Bun" panggil Jelita lirih.


"Apapun yang terjadi, kita akan hadapi semua nya, Nak. Mereka pasti baik" ucap Kania lembut.


"Mari Tuan, Nyonya" ajak Asisten Jayen yang bernama Ferdi.


Mereka lalu melangkah masuk ke dalam mansion megah tersebut. Jelita terus saja menggenggam tanga sang Bunda karena gugup.


"Silahkan masuk Tuan Ferdi, Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu" ucap pelayan disana.


Ferdi mengangguk dan mengajak keluarga Gibran masuk.


Sesampai nya di ruang tamu, ternyata disana sudah ada Orangtua Jayen dan Adik dari Jayen serta istri dan anak nya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan , Nyonya" sapa Ferdi dengan sopan.


"Hemm, silahkan duduk" ucap Ayah Jayen.


Lalu mereka duduk dengan wajah di buat setenang mungkin.


"Apakah kamu Putri dari Jayen?" tanya Ibu Jayen pada Jelita.


Jelita mengangguk dengan takut, ia merasakan aura berbeda dari orang-orang disana.


"Yaampun, ternyata benar" pekik nya dengan bahagia.


Lalu Ibu Jayen langsung menghambur memeluk Jelita dengan erat.


"Maafkan kami yang tak pernah menemukan mu, Nak. Ayah mu sudah lama mencari keberadaan Ibu mu dan kamu" ucap Ibu Jayen dengan meneteskan air mata.


Jelita menatap nya dengan perasaan campur aduk.


"Nyonya, bisa anda ceritakan bagaimana bisa Tuan Jayen adalah Ayah kandung dari Jelita. Karena setahu saya, dulu waktu lahir dia begitu mirip dengan saya" ucap Gibran penasaran.


"Itu bisa saja terjadi jika memang kamu selalu ada bersama Ibu kandung Jelita setiap saat, bahkan kamu pernah menanam benih di Ibu Jelita walaupun satu kali" ucap Ibu Jayen.


"Dulu saat kami sedang liburan ke Negara dimana Jayen sekolah, kami di kenalkan dengan Putri oleh Jayen. Mereka berhubungan sudah lama bahkan kami sudah akan menikahkannya, dan karena waktu itu Jayen harus kuliah kemari jadi kami menunda nya. Hingga kami mendengar bahwa Putri melahirkan seorang Putri mungil , dan dari sanalah Jayen mengklaim bahwa itu adalah darah daging nya, awlanya kami marah tetapi kami tidak bisa apa-apa. Jayen memutuskan untuk menjemput Putri tetapi siapa sangka Putri menolak Jayen dan mengatakan bahwa itu bukan darah daging Jayen. Hingga Jayen mengambil sampel darah dan melakukan test Dna, Jayen membiarkan Putri merawat anak mereka dengan baik , hingga ia kehilangan jejak mereka sampai saat ia akan menghembuskan nafas terakhirnya ia baru bisa melihat Putri nya" jelas Ibu Jayen dengan menangis.


Jelita langsung memeluk nya dan ikut menangis di pelukan sang Oma. Ia merasakan sakit saat mendengar cerita Oma nya tersebut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2