
-Bandara!
Saat ini Ayu dan Elga sedang duduk di Bandara dengan gadis cantik yang baru berusia 10 tahun.
Gadis cantik tersebut bernama, Shaqilla Putri Ardmaja.
Mereka bertiga saat ini sedang menunggu Tuan Muda Kafka Reinhand Ardmaja. Yang baru saja pulang dari pendidikannya di Negara sang Oma.
Terlihat dari jauh , seorang Lelaki tampan , dengan bola mata biru seperti sang Daddy berjalan menghampiri mereka.
"Abang" panggil Qilla dengan semangat.
Qilla langsung berlari dan meminta di gendong oleh Kafka. Kafka langsung menggendong dan menciumnya.
"Aku lindu sekali dengan Abang" ucap Qilla dengan cadel.
Kafka terkekeh karena Adik nya itu masih saja belum bisa menyebut huruf R.
"Abang lebih rindu dengan Adek. Gimana sekolahnya?" tanya Kafka dengan melangkah menghampiri sang Mommy dan Daddy.
"Sangat lancal" jawab Qilla dengan semangat.
Kafka menurunkan Qilla dan memeluk Daddy dan Mommy nya bergantian.
"Apa kabar kalian, Mom , Dadd?" tanya Kafka lembut.
"Mom dan Dadd baik-baik saja, Son" jawab Elga menepuk pundak Putra nya pelan.
"Lihatlah sekarang kau tambah tampan sayang, bagaimana kabar Opa dan Oma disana?" tanya Ayu
"Mereka semua baik, Mom. Ayo aku sudah sangat lapar" ajak Kafka dan kembali menggendong Qilla.
"Ishh lapal aja yang di bilang Abang, apa Abang tidak makan di lumah Oma?" celetuk Qilla dengan memeluk leher Kafka.
Elga dan Ayu hanya terkekeh saja, karena bukan sekali Qilla mengeluarkan celetukan yang mematikan pada siapapun.
Mereka masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di sana. Koper Kafka di bawa oleh pengawal Elga.
"Abang, apa Abang sudah punya pacal?" tanya Qilla dengan polos.
"Tidak, memangnya kenapa, Dek?" tanya balik Kafka.
__ADS_1
Orangtua mereka hanya mendengarkan saja tanpa menimpali obrolan Kakak berAdik itu.
"Tidak papa, di sekolah Qilla ada bu gulu yang sangat cantik, dia lamah , baik dan juga sayang sama Qilla" jawab Qilla dengan penuh antusias.
Lalu terjadilah cerita Qilla dengan segala ke antusiassan dan tangannya yang tidak berhenti bergerak.
Kafka mendengarkan dengan tersenyum, ia merasa sangat gemas pada Adik perempuan nya, tidak hanya cerewet tetapi ia juga kadang manja.
"Nanti Abang mau ya ketemu sama bu gulu, Qilla" ucap Qilla memohon.
Inilah yang paling tidak bisa Kafka tolak dari Qilla, ajakan yang di sertai dengan wajah mematikannya.
"Baiklah, besok Abang jemput Qilla sekolah" pasrah Kafka dengan mencium pipi gembul Adiknya.
Ayu dan Elga hanya terkekeh melihat wajah pasrah Putra sulungnya. Mereka kadang di buat pusing dengan perdebatan antara Kafka dan Qilla, tetapi kadang juga di buat tertawa puas melihat mereka yang saling menjahili.
-Mansion Ardmaja.
Di Mansion sudah banyak para Art dan penjaga sedang menunggu ke pulangan sang Tuan muda. Bahkan Lana , Vani dan Putri nya yang bernama Sela Setiawati.
Sela tumbuh bersama dengan Kafka tetapi dia baru saja menyelesaikan sekolah menengah atas saat Kafka akan ke Negara A.
Terlihat mobil mewah Elga memasuki halaman Mansion Ardmaja. Para Art dan pengawal sudah siap dengan berbaris.
Keluarlah Elga , Ayu , Kafka dan Shaqilla dengan menggenggam tangan Kafka.
Kafka menatap Sela dan tersenyum tipis. Dia merasa rindu pada kulkas perempuan tersebut.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Kafka" ucap para Art tersebut.
Kafka hanya tersenyum dan menganggukan kdpala saja.
Lalu keluarga Elga masuk dan para Art serta yang lainnya membubarkan diri.
Kafka mendekat ke arah Sela yang sedang berdiri di samping Vani.
"Hai kulkas" ucap Kafka terkekeh.
"Ck, kau harus bisa lebih berwibawa dan lebih dingin serta kejam biar sama dengan paman Elga" celetuk Sela membuat Qilla tertawa.
Kafka mendengus dan duduk di samping Sela. Ia seperti mempunyai 2 Adik jika sedang bersama dengan Sela dan Qilla.
__ADS_1
"Bagaimana hubungan mu dengan Raka?" ceplos Kafka yang mendapatkan pelototan dari Sela.
"Raka siapa, Tuan muda?" tanya Lana dengan cepat.
"Kafkaaaaa" teriak Sela saat melihat Kafka lari dengan cepat ke arah tangga.
Tawa mereka pecah apalagi Ayu , ia merasa lucu saat melihat wajah Kafka yang ketakutan karena keceplosan.
"Sela" panggil Lana dengan penuh intimidasi.
Sela menghela nafas dan menatap meminta bantuan pada sang Bunda.
"Ayah pasti juga tau, gak perlu aku kasih tau" dengus Sela dengan kesal dan pergi ke belakang dengan Qilla.
Elga terkekeh dan memukul pelan pundak Asisten Pribadinya.
"Biarkan saja , Raka anak yang baik kok" ucap Ayu dengan tersenyum.
"Apakah kamu serius jika Sela akan menjadi Asisten Kafka?" tanya Elga memastikan
"Aku serius , Sela sudah aku latih bahkan Vani pun sama. Dia bukan hanya pintar dalam bekerja tetapi soal beladiri dia setara dengan Kafka" jawab Lana dengan yakin.
"Hmm baiklah, besok akan kita bahas lagi dengan sekalian pesta bbq'an di halaman belakang" ucap Elga
Mereka langsung berjalan menuju ke halaman belakang untuk bersantai. Di sana terlihat Qilla yang sedang belajar beladiri bersama dengan Sela.
Sedangkan Kafka ia sedang istirahat di kamarnya sendiri.
.
.
**Hai , Author kembali lagi ya , jangan lupa Like , Vote dan Coment. Mau kasih hadiah juga alhamdulillah terimakasih.
Jangan lupa mampir ke karya Author terbaru ya 'Dendam, Arjuna!' di tunggu**.
.
.
.
__ADS_1