
Sepanjang perjalanan ke PraHospital , Kafka tak melepaskan genggamannya dari Delisa. Bahkan Kafka menangis dengan terisak melihat tubuh lemah wanita di hadapannya.
"Maafkan aku , aku tak bisa menjaga mu" ucap Kafka penuh dengan penyesalan.
Sedangkan Ayu dan yang lainnya masih dalam perjalanan. Ayu sudah menebak bahwa Delisa tidak jujur soal penyakitnya pada Kafka. Ayu sendiri tahu saat orang kepercayaannya melaporkan hasil diagnosa yang di lakukan oleh Delisa beberapa bulan lalu.
"Dadd , memangnya sakit apa Kak Delisa?" tanya Qilla
"Kanker stadium akhir" jawab Elga menghela nafas.
"Momm , apa ini yang Momm di bilang tadi , Mom tak enak perasaan" ucap Qilla.
"Iyaa , Nak. Aku harap tidak akan terjadi apa-apa" balas Ayu.
Lalu Ayu memeluk tubuh mungil Putri bungsu nya. Ia merasa cemas pada Putra nya yang saat ini pasti sedang bersedih.
-PraHospital.
Sesampainya di Rumah sakit , Kafka membantu mendorong brangkar Delisa , mereka langsung menuju ke ruangan pemeriksaan.
Disana Dokter Aji sudah stanby menunggu, karena Ikmal dengan cepat mengabari sebelum Dokter Aji kembali ke Negara nya.
"Kalian bisa tunggu disini" ucap Dokter Aji.
"Omm selamatkan Delisa" ucap Kafka dengan serius.
"Om akan berusaha semampu Om, Doakan saja" balas Dokter Aji mengusap pundak Kafka.
Kafka duduk bersama Ikmal , Ikmal mengabari Keila bahwa mereka sudah sampai di PraHospital.
Ikmal menenangkan Kafka yang sangat gelisah , bahkan sesekali Kafka membuang nafas kasar.
"Aku merasa tidak berguna, Om" ucap Kafka lirih.
"Sudahlah ini bukan salahmu, Nak. Kita doakan saja semoga Delisa bisa sembuh" balas Ikmal dengan yakin.
Kafka menunduk dengan terisak. Ia teringat keinginan Delisa yang bisa menjadi seorang pembisnis hebat.
__ADS_1
"Aku mohon , bertahanlah" gumam Kafka.
Kafka melihat kembali ke arah ruang UGD tetapi masih tertutup rapat.
Hampir 3 jam Delisa kembali di periksa dan bahkan Dokter Aji pun keluar dengan wajah lelah nya.
"Dok bagaimana keadaan , Delis?" tanya Kafka.
Dokter Aji menghela nafas dan menggelengkan kepala.
"Ma maksud nya bagaimana?" tanya Kafka dengan rasa takut.
"Maafkan aku , Delisa saat ini kritis. Kita hanya bisa mendoakan saja , semoga ada kejaiban yang mampu membuatnya bertahan" jawab Dokter Aji dengan serius.
Kafka memejamkan mata nya dan terduduk lemas di hadapan Dokter Aji.
"Sabar , berdoalah agar semua nya baik-baik saja" ucap Dokter Aji membantu Kafka berdiri.
"Apakah aku bisa melihatnya, Om?" tanya Kafka dengan setenang mungkin.
"Bisa , tapi hanya sebentar saja" jawab Dokter Aji.
Ia berjalan dengan gontai mendekati brangkar Delisa. Kafka memejamkan mata nya dan membuka kembali dengan perlahan.
"Hai , apa kabarmu? Bangunlah apakah kamu tidak kasihan denganku?" ucap Kafka.
"Aku sangat merindukanmu, bangunlah nanti kita akan jalan-jalan lagi. Kemanapun kamu inginkan aku akan mengantarkan nya" ucap nya kembali.
Kafka memegang tangan Delisa dengan erat , lalu ia mencium nya dengan lembut. Air mata nya kembali menetes saat mengusap lembut pipi tirus itu.
"Bangunlah , aku merindukanmu , sayang" ucapnya dengan mencium kening Delisa.
Lalu Kafka melangkahkan kembali kaki nya keluar ruangan Delisa.
Saat keluar ia melihat Keila sudah ada disana dengan Ikmal. Kafka melangkahkan kaki dan duduk disana.
"Tan , apa Tante tau penyakit yang di derita Delisa?" tanya Kafka dengan sendu.
__ADS_1
"Tante sudah membujuk agar ia memberitahu mu , tetapi dia tetap tidak mau. Bahkan Tante juga sudah mengajaknya berobat tetapi dia bilang tidak usah" jawab Keila dengan lemah.
"Bahkan Tante sudah ingin memberitahu mu tetapi dia mengancamnya akan pergi dari sini" ucapnya kembali.
Ikmal memegang pundak istrinya yang bergetar menahan tangis.
"Bagaimana sekarang kondisi nya?" tanya Keila.
"Delisa kritis" jawab Kafka lemah.
Keila menangis memeluk tubuh Ikmal. Ia sangat sakit saat mendengar kondisi Delisa. Keila sudah menganggap nya seperti adik sendiri.
"Hiks mas , aku aku tak mau Delisa kenapa-napa" ucap Keila dengan terisak.
"Tenanglah , kita sudah berusaha sekuat tenaga" balas Ikmal mengusap lembut kepala Keila.
"Nak" panggil Ayu yang baru saja tiba.
Kafka menengok dan menghampiri Ayu, Kafka langsung memeluk sang Mommy dengan air mata yang mengalir.
Ayu mengusap punggung bergetar Putra nya. Ia sangat sedih saat melihat Kafka menangis , padahal jarang sekali ia menangis.
Qilla memeluk sang Daddy dengan meneteskan air mata nya. Qilla juga ikut sedih karena melihat sang Abang yang biasa tegar , kuat dan ceria. Dan saat ini ia melihat sang Abang yang sangat rapuh , bahkan ia meneteskan air mata di hadapan kedua Orangtua nya.
"Abang" ucap Qilla.
Kafka melepaskan pelukan dari sang Mommy dan menatap Adiknya dengan tersenyum.
"Hei , Abang tidak apa-apa" ucap Kafka dengan tersenyum.
"Abang ihh jelek sekali , ingus Abang kemana-mana tuhhhh" ledek Qilla dengan manja.
Mereka tersenyum karena kelakuan Qilla yang sangat menghibur.
.
.
__ADS_1
.