Sahabatku , Penghancur Hidupku!

Sahabatku , Penghancur Hidupku!
Extra Part


__ADS_3

Malam hari nya semua sudah kumpul, bahkan Ikmal dan Keila pun sudah ada disana.


Farhan memberitahu pada mereka apa yang di ucapkan oleh Dokter.


"Semoga saja kau sehat, Nak" ucap Keila dengan mengusap lembut kepala Jelita.


Keila menatap tak percaya , ia melihat kelopak mata Jelita seperti akan terbuka.


"Mas, Mbakkkkk" panggil Keila dengan berderai air mata.


"Loh sayang kenapa?" tanya Ikmal panik.


"Jelita akan membuka mata nya, li lihat lah kelopak mata nya bergerak" jawab Keila dengan antusias.


Farhan, Kania dan Gibran langsung saja menuju ke arah ranjang. Mereka melihat bagaimana Jelita sadar.


"Ya allah, Nak" bahagia Kania saat melihat Jelita membuka mata nya.


"Bun, Ayah" lirih Jelita dengan pelan.


Farhan langsung saja memencet tombol yang tadi di beritahu oleh Dokter Ardi.


Semua yang berada disana menangis bahagia dan haru.


Brak.


"Ada apa?" tanya Dokter Ardi dengan nafas memburu.


"Putri saya sadar, Dok" ucap Gibran bahagia.


Lalu Dokter Ardi langsung saja melihat dan mengecek nya. Ia tersenyum saat melihat wajah Jelita yang juga ikut tersenyum.


"Semua nya baik-baik saja, hanya tinggal pemulihan saja" ucap Dokter Ardi tersenyum.

__ADS_1


Kania langsung memeluk Jelita dengan menangis haru.


"Akhir nya kau sembuh, Nak. Dan tidak akan merasakan sakit, lelah dan kamu bebas mau kemana pun" ucap Kania dengan terisak.


"Bunda jangan nangis" ucap Jelita lirih.


Kania lalu menghapus air mata nya dan mengangguk tersenyum. Ia kemudian mengecup kening Jelita dengan lembut.


"Papa, Mama" panggil Jelita pada Ikmal dan Keila.


"Iya sayang, cepat sehat ya agar bisa berkunjung lagi ke Rumah Mama" jawab Keila lembut.


"Kita ada dimana? Kenapa seperti berbeda" bingung Jelita.


"Kita di Negara J, nanti setelah kamu sehat total Ayah akan menceritakan semua nya" balas Gibran tersenyum.


Farhan memegang tangan Jelita dengan sangat lembut.


Jelita menggeleng dengan cepat, lalu ia tersenyum kepada Adik laki-laki nya.


"Biarkan pasien istirahat dulu, Tuan, Nyonya" ucap Dokter Ardi.


Mereka mengangguk dan membiarkan Jelita istirahat, hari juga sudah larut malam.


***


Matahari menampakan sinar nya dengan sangat cerah. Semua penghuni Bumi langsung bangun dan melakukan aktifitas nya masing-masing.


"Bu, apa sudah ada kabar dari Abang?" tanya Amanda.


"Belum, Nak. Ibu juga lagi nunggu kabar nya" jawab sang Ibu gelisah.


"Telpon saja, sayang" ucap Suami Amanda.

__ADS_1


Amanda mengangguk dan mengambil ponsel nya. Ia lalu menghubungi Gibran.


Tut Tut.


"Halo" ucap Gibran


"Abang, bagaimana keadaan disana? Kenapa tidak memberi kabar" ucap Amanda khawatir.


"Maaf Dek, semua nya baik-baik saja. Bahkan Jelita sudah sembuh total dan tinggal pemulihan saja. Nanti Abang telpon lagi dan cerita semua nya" jawab Gibran


"Baiklah, cepat kabari kami" ucap Amanda.


Tut.


"Bagaimana?" tanya Ibu.


"Semua nya baik, dan Jelita juga sembuh katanya. Nanti Abang telpon lagi Kok" jawab Amanda.


"Loh kok jadi penasaran begini" ucap Ibu dengan khawatir.


"Nanti Abang nelpon dan menceritakan semua nya, Ibu tenang saja pasti mereka baik-baik saja soal nya Abang juga sudah lebih santai" balas Amanda menenangkan sang Ibu


"Iyaa Bu, sekarang kita sarapan saja" ajak Ayah.


Lalu mereka melangkahkan kaki nya ke ruang makan. Meski pikiran mereka sedang kacau tetapi mereka mencoba untuk tenang.


Amanda dan sang Ibu melayani suami nya dengan telaten, baru setelah itu mereka memulai sarapan pagi nya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2