
Sore hari nya Jelita menerima telepon dari Ardi bahwa ia malam ini akan berkunjung ke Apartemen nya.
Jelita tidak curiga sama sekali, ia hanya mengiyakan saja ucapan pria tersebut.
Bahkan Oma dan Opa nya pun akan berkunjung nanti malam.
"Bunda, aku bantuin masak ya. Gapapa cuma iris-iris doang" bujuk Jelita.
"Baiklah, tapi duduk disana biar Bunda yang masak nya, kamu hanya mengiris dan menata nya" balas Kania tegas.
Jelita mengangguk patuh, lalu ia memotong beberapa sayuran dan yang lainnya. Bahkan Jelita membuat beberapa camilan untuk makanan penutup nya.
"Apa bakal ada tamu, Kak?" tanya Farhan
"Iyaa Dek, sana mandi" jawab Jelita lembut.
Farhan menganggukan kepala dan pergi dari sana.
"Bun" panggil Jelita
Kania membalikan badannya dan menaruh masakan yang sudah matang.
"Kenapa, Kak?" tanya Kania lembut
"Apa kita akan menetap disini?" tanya Jelita balik.
"Seperti nya iya, Nak. Soal nya kan Ayah mu sedang mengurus perusahaan mu" jawab Kania
"Apa kamu ingin pulang?" tanya Kania.
"Tidak, aku nyaman disini. Dekat dengan Oma dan Opa, tapi jauh dari Nenek, Kakek dan Bibi, Paman" jawab Jelita sendu.
"Kalau Farhan libur dan Ayah tidak sedang sibuk , kita akan menemui mereka, Kak" balas Gibran yang baru saja datang.
"Benarkah, Ayah?" tanya Jelita
"Iyaa sayang" jawab Gibran lembut.
__ADS_1
"Terimakasih" senang Jelita memeluk sang Ayah.
Setelah selesai memasak, Kani dan yang lainnya langsung saja bergegas membersihkan diri.
Sedangkan Jelita ia menunggu Oma dan Opa nya di ruang tamu, karena ia sudah bersiap lebih dulu.
"Lagi nunggu siapa, Kak?" tanya Farhan yang sudah rapih.
"Nunggu Oma dan Opa, Dek. Kamu mau kemana udah gaya bener?" tanya Jelita meneliksik.
"Tidak mau kemana-mana, hanya saja seperti nya bakal ada tamu jadi aku bersiap dengan rapih" jawab Farhan apa adanya.
Tok Tok.
"Kakak buka dulu pintu nya ya" ucap Jelita.
Jelita langsung saja membuka pintu nya dan langsung memeluk sang Oma.
"Ayo masuk Oma, Opa" ajak Jelita dengan tersenyum.
"Iyaa sayang, mana Ayah dan Bunda mu?" tanya Opa Wira.
Gibran dan Kania lalu menyalami Fita dan Wira. Lalu mereka mengajak nya berbincang di ruang tamu.
"Gib, kalian pindah saja ke mansion Jayen. Sayang jika tidak di huni lagi pula disana hanya ada pelayan dan Asisten Jayen saja" ucap Opa Wira
"Iyaa , agar kalian lebih leluasa dan lebih dekat dengan kantor Jayen pula" timpal Oma Fita.
"Bagaimana, Kak?" tanya Gibran pada Jelita.
"Boleh juga, Ayah" jawab Jelita setuju.
Bukan karena apa, ia menyetujui nya karena memang disana agak sempit dan tidak mempunyai ruang gerak yang luas apalagi Farhan pasti punya teman dan tidak mungkin jika di ajak main ke Apart.
"Baiklah kami setuju, Tuan , Nyonya" jawab Gibran sopan.
"Besok kalian langsung saja hubungi Asisten Jayen" ucap Opa Wira.
__ADS_1
Gibran mengangguk dan menyuruh Kania membawa camilan ke sana.
Malam hari nya, mereka masih berbincang dengan hangat di ruang tamu. Bahkan Oma Fita sangat menyukai Farhan yang selalu ceplas ceplos.
Tok Tok Tok.
"Siapa malam-malam gini" ucap Oma Fita.
"Khemmm, buka sana" goda Gibran pada Jelita.
Opa dan Oma memicingkan mata nya dan menatap Jelita yang sedang malu.
"Jangan bilang itu kekasih kamu, Nak?" tanya Opa Wira dengan tersenyum.
"Bu
"Iyaaa Opa" potong Farhan dengan cepat.
Jelita mendelik kesal dan membuka pintu nya.
"Selamat malam, sayang" sapa Ardi dengan lembut.
"Malam" balas Jelita dengan wajah bingung.
"Mereka adalah Ayah dan Ibu angkat ku" ucap Ardi dengan lembut.
"Hahh, ehh silahkan masuk Om , Tante" ucap Jelita sopan.
"Terimakasih, Nak" balas Ibu Ardi.
Mereka lalu masuk dan bergabung dengan yang lainnya. Ardi dan Kedua Orangtua nya kaget karena disana ada Tuan Wira dan Nyonya Fita.
"Silahkan duduk, Dokter, Tuan , Nyonya" ucap Kania lembut.
Lalu Kania dan Jelita menyiapkan makanan ringan serta camilan yang sudah di buat oleh Jelita.
.
__ADS_1
.
.