
Setelah menunggu hampir 2 jam, akhir nya Dokter keluar dengan wajah yang lelah.
"Dok, bagaimana dengan Putri ku?" tanya Kania cepat.
"Bunda sabar dulu ya" ucap Farhan dengan lembut.
Dokter Yuda tersenyum dan langsung melepaskan masker yang di pakai nya.
"Kondisi nya semakin buruk, saya memberi saran sebaik nya di bawa ke Negara J untuk lebih serius lagi. Disini juga sudah saya tangani dengan serius, tetapi disana lebih lengkap dan ada Dokter yang ahli" ucap Dokter Yuda.
"Tolong segera urus semua nya, saya mau besok juga Jelita sudah bisa di bawa kesana" ucap Kania dengan tegas.
"Baik, Nyonya" jawab Dokter Yuda. Lalu Dokter Yuda mengurus semua nya dengan di bantu oleh salah satu perawat.
"Ayah, Ibu, aku akan mengurus surat ke pindahan buat Farhan dulu. Karena aku memutuskan akan menetap disana sementara sampai Jelita di nyatakan sembuh" ucap Kania dengan lembut.
"Ibu mendukung semua yang akan kamu lakukan, Nak. Pergilah, biar Jelita bersama kami disini" balas Oma dengan tersenyum.
"Nak, kamu temani Bunda ya. Ayah akan mengurus yang lainnya. Dan Ayah, Ibu maaf aku dan Kania akan pergi, tolong jaga Putri ku" ucap Gibran sendu.
"Pergilah, Adik mu Amanda juga sedang dalam perjalan kemari" balas sang Opa dengan mengusap pundak Gibran pelan.
Lalu Gibran dan Kania melangkah pergi dari sana, mereka akan membagi tugas agar semua nya cepat selesai.
Gibran akan menyerahkan semua urusan Cafe pada orang kepercayaannya. Dan ia akan mencoba membuka cabang disana.
__ADS_1
Kania dan Farhan datang ke sekolah Farhan, lalu setelah itu baru mengurus yang lainnya.
***
Setelah selesai, Farhan, Kania dan Gibran kembali ke Rumah sakit dengan membawa semua pakaian dan juga yang lainnya.
"Bun, Kakak tidak apa kan?" tanya Farhan
"Tidak sayang, do'akan saja ya" jawab Kania lembut.
"Terimakasih, kalian selalu saja memikirkan Jelita meski dia bukan siapa-siapa kita" ucap Gibran dengan tulus.
"Hei jangan bilang gitu, Mas. Dia juga Putri ku kok" balas Kania dengan tegas.
"Iya Ayah, dia juga Kakak aku , aku sangat sayang sama Kakak" timpal Farhan dengan kesal.
Sesampai nya di Rumah sakit, mereka langsung saja menuju ke ruangan dimana Jelita sedang di rawat.
Ternyata disana sudah ada Amanda dan juga suami nya. Gibran langsung saja masuk dan menatap Jelita dengan sendu.
"Abang, kata Dokter kalian semua besok bisa berangkat" ucap Amanda
"Iya lebih cepat lebih baik, Abang titip Ayah dan Ibu ya" balas Gibran memeluk Adik nya.
"Jangan sungkan jika kalian butuh sesuatu ataupun apapun, dan jika waktu ku senggang aku akan kesana menjenguk kalian" ucap suami Amanda dengan tegas.
__ADS_1
Gibran menganggukan kepala nya. Ia merasa sangat beruntung memiliki orang-orang yang baik di sekeliling nya.
Dan ia juga merasakan karma dengan apa yang telah di perbuat nya dulu.
Amanda dan yang lainnya memilih untuk menginap disana. Dan esok pagi mereka juga akan mengantarkan Gibran dan keluarga nya ke Bandara.
"Kalian tidur duluan saja, biar Jelita aku dan Gibran yang jaga" ucap Suami Amanda.
"Yaudah, nanti kita gantian saja" balas Amanda
Mereka langsung saja menggelar kasur yang agak tipis, dan membiarkan sang Ibu tidur di ranjang yang sudah di siapkan oleh pihak Rs.
Kania, Farhan dan yang lainnya memilih untuk memejamkan mata nya saja. Apalagi Kania yang memang sejak tadi sudah lelah.
Farhan memeluk sang Bunda dengan hangat, ia tahu bahwa sang Bunda sangat lelah tetapi Bunda nya akan tetap tegar.
Gibran menghela nafas kasar saat melihat sang Istri yang langsung terlelap dengan wajah lelah nya.
"Kamu harus bersyukur mendapatkan istri yang sangat baik dan juga perhatian. Jangan sia-sia kan kembali" ucap sang Ipar dengan menepuk pundak Gibran.
"Aku tidak akan mengulangi hal bodoh itu kembali" balas Gibran yakin.
Lalu mereka memilih bercerita seputaran kehidupannya dan juga tentang bisnis yang mereka geluti.
Hingga akhir nya mereka memutuskan untuk tidur dan tak lupa Gibran mengunci pintu ruangan terlebih dulu.
__ADS_1
.
.